Читать книгу: «Penjelmaan»

Шрифт:

penjelmaan

(buku #1 dalam buku harian vampir)

morgan rice

Tentang Morgan Rice

Morgan Rice adalah penulis terlaris #1 dari BUKU HARIAN VAMPIR, seri remaja yang terdiri dari sebelas buku (dan terus bertambah); seri THE SURVIVAL TRILOGY (TRILOGI KESINTASAN, sebuah thriller pasca-apokaliptik yang terdiri dari dua buku (dan terus bertambah); dan seri epik fantasi terlaris #1 CINCIN BERTUAH, yang terdiri dari tiga belas buku (dan terus bertambah).

Buku-buku Morgan tersedia dalam edisi audio dan cetak, dan terjemahan dari buku-buku ini tersedia dalam bahasa Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Portugis, Jepang, Tiongkok, Swedia, Belanda, Turki, Hungaria, Ceko dan Slowakia (dengan lebih banyak bahasa yang akan datang).

PENJELMAAN (Buku #1 dalam Buku Harian Vampir), ARENA SATU (BUKU #1 DARI TRILOGI KESINTASAN) dan PETUALANGAN PARA PAHLAWAN (Buku #1 dalam CINCIN BERTUAH) masing-masing tersedia sebagai unduhan gratis di Google Play!

Morgan ingin mendengar pendapat Anda, jadi jangan ragu untuk mengunjungi www.morganricebooks.com untuk bergabung di daftar e-mail, menerima buku gratis, menerima hadiah gratis, mengunduh aplikasi gratis, mendapatkan berita eksklusif terbaru, terhubung ke Facebook dan Twitter, dan tetap terhubung!

Pujian Pilihan untuk Penjelmaan

"PENJELMAAN adalah suatu kisah yang ideal bagi para pembaca muda. Morgan Rice melakukan pekerjaan yang bagus dengan memutarbalikkan lika-liku yang menarik tentang apa yang bisa menjadi kisah vampir yang khas. Menyegarkan dan unik, PENJELMAAN memiliki elemen klasik yang ditemukan dalam berbagai cerita paranormal Dewasa Muda. Buku #1 dari Serial Buku Harian Vampir yang berfokus di sekitar seorang anak perempuan… anak perempuan yang luar biasa!... PENJELMAAN mudah dibaca tapi bertempo cepat... Direkomendasikan untuk siapa saja yang suka membaca romansa paranormal yang halus. Diberi peringkat PG."

--The Romance Reviews

“PENJELMAAN mencuri perhatian saya dari awal dan tidak dapat lepas….Kisah ini merupakan sebuah petualangan menakjubkan yang bertempo cepat dan action yang dikemas sejak permulaan. Tidak ditemukan momen yang membosankan. Morgan Rice melakukan pekerjaan yang luar biasa dengan membawa pembaca ke dalam kisah. Dia juga membuatnya mudah untuk menanamkan Caitlin dan ingin dengan sekuat tenaga agar berhasil menemukan kebenaran tentang dirinya... Saya menantikan buku kedua dalam serial ini."

--Paranormal Romance Guild

"PENJELMAAN menyenangkan, sederhana, bacaan hitam yang bisa Anda baca di antara buku-buku lain, karena buku ini singkat... Anda pasti akan terhibur!"

--books-forlife.blogspot.com

"PENJELMAAN adalah buku rival dari TWILIGHT dan VAMPIRE DIARIES, dan satu-satunya yang akan membuat Anda ingin tetap terus membacanya sampai halaman terakhir! Jika Anda menyukai petualangan, cinta dan vampir, buku inilah yang tepat bagi Anda!”

--Vampirebooksite.com

“Rice melakukan pekerjaan yang bagus mendorong Anda ke dalam kisah ini dari pertama, memanfaatkan kualitas deskriptif yang hebat yang melampaui penggambaran setting… Ditulis dengan indah dan sangat cepat dibacanya, PENJELMAAN adalah awal yang bagus menuju serial vampir baru yang akan menjadi hit bagi pembaca yang mencari cerita yang ringan tapi menghibur.”

--Black Lagoon Reviews

Buku-buku oleh Morgan Rice

CINCIN BERTUAH

PETUALANGAN PARA PAHLAWAN (Buku #1)

BARISAN PARA RAJA (Buku #2)

A FATE OF DRAGONS/TAKDIR NAGA (Buku #3)

A CRY OF HONOR/PEKIK KEMULIAAN (Buku #4)

A VOW OF GLORY/IKRAR KEMENANGAN (Buku #5)

A CHARGE OF VALOR/PERINTAH KEBERANIAN (Buku #6)

A RITE OF SWORDS/RITUAL PEDANG (Buku #7)

A GRANT OF ARMS/HADIAH PERSENJATAAN (Buku #8)

A SKY OF SPELLSLANGIT MANTRA (Buku #9)

A SEA OF SHIELDS/LAUTAN PERISAI (Buku #10)

A REIGN OF STEEL/TANGAN BESI (Buku #11)

A LAND OF FIREDARATAN API (Buku #12)

A RULE OF QUEENS/SANG RATU (Buku #13)

AN OATH OF BROTHERS/SUMPAH PARA SAUDARA (Buku #14)

THE SURVIVAL TRILOGY (TRILOGI KESINTASAN)

ARENA ONE: SLAVERSUNNERS/ARENA SATU: BUDAK-BUDAK SUNNER (Buku #1)

ARENA TWO/ARENA DUA (Buku #2)

BUKU HARIAN VAMPIR

PENJELMAAN (Buku #1)

LOVED/CINTA (Buku #2)

BETRAYED/KHIANAT (Buku #3)

DESTINED/TRAKDIR (Buku #4)

DESIRED/DIDAMBAKAN (Buku #5)

BETROTHED/TUNANGAN (Buku #6)

VOWED/SUMPAH (Buku #7)

FOUND/DITEMUKAN (Buku #8)

RESURRECTED/BANGKIT KEMBALI (Buku #9)

CRAVED/RINDU (Buku #10)

FATED/NASIB (Buku #11)

Unduh buku-buku Morgan Rice di Play sekarang!

Dengarkan serial BUKU HARIAN VAMPIR dalam format buku audio!

Sekarang tersedia di:

Amazon

Audible

iTunes

Hak cipta © 2013 oleh Morgan Rice

Semua hak cipta dilindungi. Kecuali diizinkan di bawah U.S. Copyright Act of 1976 (UU Hak Cipta tahun 1976), tidak ada bagian dari buku ini yang bisa direproduksi, didistribusikan atau dipindahtangankan dalam bentuk apapun atau dengan maksud apapun, atau disimpan dalam database atau sistem pencarian, tanpa izin sebelumnya dari penulis.

eBuku ini terlisensi untuk hiburan personal Anda saja. eBuku ini tidak boleh dijual kembali atau diberikan kepada orang lain. Jika Anda ingin membagi buku ini dengan orang lain, silahkan membeli salinan tambahan bagi tiap penerima. Jika Anda membaca buku ini dan tidak membelinya, atau tidak dibeli hanya untuk Anda gunakan, maka silahkan mengembalikannya dan membeli salinan milik Anda sendiri. Terima kasih telah menghargai kerja keras penulis ini.

Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, bisnis, organisasi, tempat/lokasi, acara, dan insiden adalah hasil karya imajinasi penulis atau digunakan secara fiksi. Setiap kemiripan dengan orang-orang yang sebenarnya, hidup atau mati, adalah sepenuhnya kebetulan.

Gambar Sampul ©iStock.com/Bliznetsov

"Apa itu jasmani

Untuk berjalan bebas dan menyedot cairan

Dari pagi yang lembab? Apa, apa Brutus sakit,

Dan akankah dia mencuri ranjangnya yang sehat

Dengan teganya menularkan kejinya malam?"

--William Shakespeare, Julius Caesar

DAFTAR ISI

Bab Satu

Bab Dua

Bab Tiga

Bab Empat

Bab Lima

Bab Enam

Bab Tujuh

Bab Delapan

Bab Sembilan

Bab Sepuluh

Bab Sebelas

Bab Dua Belas

Bab Tiga Belas

Bab Empat Belas

Bab Lima Belas

Bab Enam Belas

Bab Tujuh Belas

Bab Satu

Caitlin Paine selalu ketakutan hari pertamanya di sekolah yang baru. Ada hal-hal besar, seperti bertemu teman-teman baru, guru-guru baru, mempelajari aula yang baru. Dan ada hal-hal kecil, seperti mendapatkan sebuah loker baru, bebauan tempat yang baru, suara-suara yang terdengar. Lebih dari segalanya, ia takut terhadap tatapan. Ia merasa bahwa setiap orang di tempat baru selalu menatapnya. Yang ia inginkan hanyalah anonimitas. Tapi tampaknya itu tidak akan pernah terwujud.

Caitlin tidak dapat memahami mengapa ia sangat mencolok. Dengan tinggi 5,5 kaki ia tidak benar-benar tinggi, dan dengan rambut coklat dan mata coklatnya (dan berat yang normal), ia merasakan bahwa ia biasa saja. Pastinya tidak cantik, seperti cewek-cewek lainnya. Pada usia 18, ia sedikit lebih tua, tapi tidak cukup untuk membuatnya menonjol.

Ada sesuatu hal yang lain. Ada sesuatu tentang dirinya yang membuat orang-orang meilhat dua kali. Ia tahu, dalam hatinya, bahwa ia berbeda. Tapi ia tidak yakin apa itu.

Jika ada sesuatu hal yang lebih buruk ketimbang hari pertama, itu dimulai pada tengah semester, setelah orang lain punya waktu untuk menjalin ikatan. Hari ini, hari pertama ini, di pertengahan Maret, akan menjadi salah satu yang terburuk. Ia sudah bisa merasakannya.

Dalam imajinasi terliarnya, bagaimana pun juga, ia tidak pernah berpikiran akan seburuk ini. Tidak ada yang pernah ia lihat - dan sering ia lihat - telah mempersiapkan dirinya untuk ini.

Caitlin berdiri di luar sekolah barunya, sekolah umum Kota New York yang sangat luas, di pagi hari bulan Maret yang sangat dingin, dan bertanya-tanya, Kenapa aku? Cara berpakaiannya tidak menarik, hanya dalam sweater dan legging, dan bahkan tidak menyiapkan diri sebelumnya untuk keributan berisik yang menyambutnya. Ratusan remaja berdiri di sana, berteriak-teriak, menjerit, dan mendorong satu sama lain. Itu terlihat seperti sebuah halaman penjara.

Itu semua terlalu bising. Remaja-remaja ini tertawa terlalu kencang, mengumpat terlalu sering, mendorong satu sama lain terlalu keras. Ia akan berpikir itu adalah sebuah perkelahian besar jika ia tidak melihat beberapa senyum dan tawa mengejek. Mereka memiliki terlalu banyak energi, dan ia, lelah, kedinginan, kurang tidur, tidak bisa memahami dari mana energi itu datang. Ia menutup matanya dan berharap itu semua akan pergi.

Ia merogoh sakunya dan merasakan sesuatu: ipod-nya. Ya. Ia mengenakan headphone di telinganya dan menyalakannya. Ia harus menenggelamkan itu semua.

Tapi tidak ada yang datang. Ia memandang ke bawah dan melihat baterainya mati. Sempurna.

Ia memeriksa ponselnya, berharap akan adanya pengalih perhatian, apapun itu. Tidak ada pesan baru.

Ia mendongak. Mengamati lautan wajah baru, ia merasa sendirian. Tidak karena ia adalah satu-satunya cewek berkulit putih - ia sebenarnya lebih memilih hal itu. Beberapa teman-teman terdekatnya di sekolah lain berkulit hitam, berdarah Spanyol, Asia, India - dan beberapa dari musuh dalam selimutnya berkulit putih. Tidak, bukan itu. Ia merasa sendirian karena ini adalah kota. Ia berdiri di tengah-tengah beton. Sebuah bel nyaring telah berdering untuk mengizinkan ia masuk menuju "daerah rekreasi" ini, dan ia telah melewati melalui gerbang logam yang besar. Sekarang ia sudah masuk - terkurung oleh gerbang logam besar, diatapi oleh kawat berduri. Ia merasa seperti pergi menuju penjara.

Memandangi sekolah yang sangat besar, bar dan kurungan di semua jendela, tidak membuatnya merasa lebih baik. Ia selalu beradaptasi dengan mudah di sekolah barunya, besar dan kecil - tapi itu semua ada di pinggir kota. Mereka memiliki semua rerumputan, pepohonan, langit. Di sini, tidak ada hal lain selain kota. Ia merasa ia tidak dapat bernapas. Hal itu membuatnya ngeri.

Bel lain keras terdengar dan ia beringsut berjalan, bersama ratusan anak-anak, menuju pintu masuk. Ia terdesak secara kasar oleh seorang gadis besar, dan menjatuhkan buku hariannya. Ia mengambilnya (mengacaukan rambutnya), dan kemudian mendongak untuk melihat apakah gadis itu akan meminta maaf. Tapi ia tidak terlihat, karena telah melanjutkan perjalanan ke dalam kerumunan. Ia mendengar tawa, tapi tidak tahu apakah itu ditujukan padanya.

Ia mencengkeram buku hariannya, satu hal yang membuatnya bertahan. Buku itu telah berada bersamanya ke mana saja. Ia menyimpan catatan dan gambar pada setiap tempat yang ia kunjungi. Itu adalah sebuah peta perjalanan masa kanak-kanaknya.

Ia akhirnya mencapai pintu masuk, dan harus mendesak hanya untuk berjalan melewatinya. Rasanya seperti memasuki kereta pada jam sibuk. Ia berharap akan menjadi hangat ketika ia ada di dalam, tapi pintu terbuka di berlakangnya tetap meniupkan angin kencang ke punggungnya, membuat semakin dingin lagi.

Dua penjaga keamanan besar berdiri di pintu masuk, diapit oleh dua polisi New York City, seragam lengkap, senjata mencolok di sisi mereka.

"JALAN TERUS!" perintah salah satu dari mereka.

Ia tidak dapat mengerti mengapa kedua polisi bersenjata harus menjaga pintu masuk sebuah sekolah tinggi. Perasaan takutnya semakin besar. Perasaan itu lebih buruk ketika ia mendongak dan melihat bahwa ia harus melewati detektor lohan dengan keamanan bergaya bandara.

Empat polisi bersenjata lainnya di sisi lain detektor, bersama dengan dua penjaga keamanan lainnya.

"KOSONGKAN KANTONGMU!" bentak seorang petugas.

Caitlin memperhatikan remaja lain mengisi wadah plastik kecil dengan barang-barang dari saku mereka. Ia segera melakukan hal yang sama, memasukkan ipod, dompet, kunci-kuncinya.

Ia beringsut melalui detektor, dan sirene melengking.

"KAU!" bentak seorang petugas. "Minggir!"

Tentu saja.

Semua remaja memandanginya saat ia mengangkat tangannya, dan petugas itu mengarahkan pemindai genggam ke bagian atas dan bawah tubuhnya.

"Apakah kau mengenakan perhiasan?"

Ia meraba pergelangan tangannya, lalu garis lehernya, dan tiba-tiba teringat. Salibnya.

"Lepaskan," bentak petugas itu.

Itu adalah kalung nenek yang diberikan padanya sebelum beliau meninggal, salib kecil perak yang diukir dengan kata-kata dalam bahasa Latin yang tidak pernah beliau terjemahkan. Neneknya mengatakan itu adalah diwariskan oleh nenek beliau. Caitlin tidak terlalu religius, dan tidak benar-benar memahami apa makna semua itu, tapi ia tahu benda itu umurnya ratusan tahun, dan itu adalah benda miliknya yang sangat berharga.

Caitlin mengangkatnya dari bajunya, mengacungkannya, tapi tidak melepasnya.

"Saya lebih suka tidak melakukannya," jawabnya.

Petugas itu memandanginya, dengan tatapan sedingin es.

Tiba-tiba, terjadi keributan. Ada jeritan ketika seorang polisi mencengkram seorang remaja tinggi kurus dan mendorongnya ke dinding, mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.

Panjaga itu pergi untuk membantu, dan Caitlin mempergunakan kesempatan itu untuk menyelusup dalam kerumunan yang bergerak menuju aula.

Selamat datang di sekolah umum New York, pikir Caitlin. Bagus.

Ia sudah menghitung hari-hari menuju kelulusannya.

*

Aula itu adalah aula paling luas yang pernah ia lihat. Ia tidak bisa membayangkan bahwa mereka akan dapat memenuhinya, tapi entah bagaimana mereka benar-benar memadatinya, dengan semua remaja yang berdesakan bahu ke bahu. Pasti ada ribuan remaja dalam aula ini, lautan wajah meregang tanpa akhir. Kebisingan di sini bahkan lebih parah, memantul di dinding, semakin pekat. Ia ingin menutup telinganya. Tapi ia bahkan tidak punya ruang bagi sikunya untuk mengangkat lengannya. Ia merasa klaustrafobia.

Lonceng berbunyi, dan energi itu bertambah.

Sudah terlambat.

Ia mencari-cari ruangan di kartunya lagi dan akhirnya menemukan ruangan itu di kejauhan. Ia mencoba untuk menyeruak di antara lautan tubuh, tapi tidak dapat menuju ke mana pun. Akhirnya, setelah beberapa kali berusaha, ia menyadari bahwa ia harus lebih agresif. Ia mulai menyikut dan mendesak. Satu tubuh pada satu waktu, ia memotong melewati semua remaja, menyeberangi aula yang luas, dan mendorong pintu berat supaya terbuka ke kelasnya.

Ia memberanikan diri atas semua pandangan karena ia, cewek baru, masuk terlambat. Ia membayangkan guru menyemprotnya karena mengganggu ruangan yang sunyi. Tapi ia terkejut menemukan bahwa itu tidak seperti bayangannya sama sekali. Ruangan ini, dirancang untuk 30 remaja tapi memuat 50, berdesakan. Beberapa remaja duduk di bangku mereka, dan yang lainnya berjalan di lorong, berseru dan berteriak satu sama lain. Ini adalah kekacauan.

Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu, tapi guru itu, tidak rapi, mengenakan setelan kusut, bahkan belum memulai mengajar. Dia sebenarnya duduk dengan menaikkan kakinya di meja, membaca koran, mengabaikan siapa saja.

Caitlin berjalan mendekatinya dan meletakkan kartu identitas barunya di meja. Ia berdiri di sana dan menunggu dirinya untuk mendongak, tapi dia tidak melakukannya.

Ia akhirnya menelan ludah.

"Permisi."

Dia menurunkan korannya dengan enggan.

"Saya Caitlin Paine. Saya murid baru. Saya rasa saya harus memberikan ini pada Anda."

"Saya hanya guru pengganti," jawabnya, dan mengangkat korannya, menghalanginya.

Ia berdiri di sana, bingung.

"Jadi," ia bertanya, "....Anda tidak mengabsen?"

"Gurumu kembali di hari Senin," bentaknya. "Dia yang akan menanganinya."

Menyadari percakapan itu sudah selesai, Caitlin mengambil kembali kartu identitasnya.

Ia berbalik dan menghadapi ruangan itu. Kekacauan itu tidak berhenti. Jika ada anugerah yang menyelamatkan, setidaknya ia tidak mencolok. Tidak ada seorang pun di sini tampaknya peduli padanya, atau bahkan melihatnya sama sekali.

Di samping itu, mengamati ruangan penuh sesak benar-benar meruntuhkan syaraf: nampaknya tidak ada tempat tersisa untuk duduk.

Ia menguatkan dirinya dan; mencengkram buku hariannya, berjalan saat itu menuju lorong, mundur beberapa kali ketika ia berjalan di antara remaja-remaja nakal yang saling berteriak. Ketika ia sampai di belakang, ia akhirnya bisa melihat seluruh ruangan.

Tidak ada bangku kosong.

Ia berdiri di sana, merasa seperti orang bodoh, dan merasa para remaja lain mulai memperhatikan dirinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia pasti tidak akan berdiri di sana sepanjang waktu, dan guru pengganti itu tidak nampak peduli sama sekali. Ia menoleh dan mencari lagi, mengamati dengan tidak berdaya.

Ia mendengar tawa dari beberapa lorong jauhnya, dan merasa yakin itu ditujukan padanya. Ia tidak berpakaian seperti para remaja ini, dan ia tidak terlihat seperti mereka. Pipinya memerah ketika ia mulai merasa benar-benar mencolok.

Tepat ketika ia bersiap-siap untuk keluar daru kelas itu, dan bahkan mungkin keluar dari sekolah ini, ia mendengar sebuah suara.

"Di sini."

Ia berbalik.

Di baris terakhir, di samping jendela, seorang remaja jangkung berdiri dari mejanya.

"Duduk," katanya. "Silahkan."

Ruangan itu agak sunyi ketika yang lainnya menunggu untuk melihat bagaimana ia akan bereaksi.

Ia berjalan ke arahnya. Ia mencoba untuk tidak memandang matanya - mata hijau besar yang bercahaya - tapi ia tidak bisa menahannya.

Dia ganteng. Ia memiliki kulit kuning langsat yang halus - ia tidak bisa mengatakan apakah dia Hitam, Spanyol, Putih, atau beberapa kombinasi - tapi ia tidak pernah melihat kulit halus dan lembut seperti itu, dilengkapi dengan garis rahang yang kaku. Rambutnya pendek dan berwarna coklat, dan tubuhnya kurus. Ada sesuatu tentang dirinya, sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya. Dia kelihatan rapuh. Seorang seniman, mungkin.

Itu tidak seperti dirinya untuk terpesona dengan seorang laki-laki. Ia pernah melihat teman-temannya jatuh cinta, tapi ia tidak pernah benar-benar mengerti. Sampai saat ini.

"Di mana kau akan duduk?" tanyanya.

Ia mencoba mengendalikan suaranya, tapi tidak terdengar meyakinkan. Ia berharap dia bisa mendengar betapa gugupnya ia.

Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang sempurna.

"Di sebelah sini," katanya, dan pindah ke kusen jendela besar, hanya beberapa kaki jauhnya.

Ia memandanginya, dan dia balas memandang padanya, mata mereka benar-benar tertambat. Ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk memalingkan muka, tapi ia tidak bisa melakukannya.

"Terima kasih," ujarnya, dan dengan segera marah pada dirinya sendiri.

Terima kasih? Hanya itu saja yang kau bisa? Terima kasih!?

"Betul itu, Barrack!" teriak sebuah suara. "Berikan bangkumu cewek putih yang manis itu!"

Tawa mengikuti, dan kebisingan dalam ruangan itu tiba-tiba mulai lagi, sebagaimana setiap orang mengabaikan mereka lagi.

Caitlin melihatnya menundukkan kepalanya, malu.

"Barrack?" tanyanya. "Apakah itu namamu?"

"Tidak," jawabnya, wajahnya memerah. "Itu hanya bagaimana mereka memanggilku. Seperti pada Obama. Mereka kira aku seperti beliau."

Ia menatapnya dengan saksama dan menyadari bahwa ia memang seperti Obama.

"Itu karena aku separuh kulit hitam, sebagian kulit putih, dan sebagian dari Puerto Rico."

"Hm, aku kira itu pujian," katanya.

"Bukan dengan cara mereka mengatakannya," jawabnya.

Ia mengamati ketika dia duduk di kusen jendela, rasa percaya dirinya mengempis, dan ia bisa menyimpulkan bahwa dia orang yang sensitif. Bahkan rapuh. Dia bukan merupakan bagian kelompok remaja ini. Itu adalah hal yang gila, tapi ia hampir merasa protektif terhadap dia.

"Aku Caitlin," katanya, mengulurkan tangannya dan menatap matanya.

Ia mendongak, terkejut, dan senyumnya kembali.

"Jonah," jawabnya.

Ia menjabat tangannya dengan erat. Sensasi menggelitik menjalari lengannya saat ia merasakan kulit lembutnya menggenggam tanganya. Ia merasa meleleh ke dalam dirinya. Dia menahan genggaman tangannya beberapa detik lamanya, dan ia tidak dapat menahan untuk balas tersenyum.

*

Sisa pagi itu sudah kabur, dan Caitlin lapar pada saat ia sampai di kafetaria. Ia membuka pintu ganda dan terperangah oleh ruangan yang besar, kebisingan luar biasa atas apa yang nampaknya seperti ribuan remaja, semua berteriak. Itu seperti memasuki pusat kebugaran. Kecuali bahwa setiap dua puluh kaki di sana berdiri petugas keamanan, di lorong-lorong, mengamati dengan saksama.

Seperti biasanya, ia tidak punya gagasan ke mana harus pergi. Ia mencari-cari di ruangan besar itu, dan akhirnya menemukan sebuah tumpukan nampan. Ia mengambil satu, dan memasuki apa yang ia kira sebagai antrian makanan.

"Jangan memotongku, menyebalkan!"

Caitlin berbalik dan melihat seorang perempuan besar yang gemuk, setengah kaki lebih tinggi darinya, memandang dengan marah.

"Maafkan aku, aku tidak tahu-"

"Antrian di belakang sana!" bentak cewek lain, menunjuk dengan ibu jarinya.

Caitlin mencari dan melihat antrian itu memanjang paling tidak seratus remaja. Itu terlihat seperti antrian selama dua puluh menit.

Saat ia mulai menuju ke belakang antrian, seorang remaja di antrian mendorong yang lain, dan dia melayang di depannya, menubruk lantai dengan keras.

Remaja pertama melompat di atas yang lain dan mulai meninju wajahnya.

Kafetaria itu meledak dalam raungan kehebohan, ketika lusinan remaja berkumpul berkeliling.

"LAWAN! LAWAN!"

Caitlin mengambil beberapa langkah mundur, menyaksikan dalam kengerian pada peristiwa kejam di kakinya.

Empat petugas keamanan akhirnya datang dan melerai mereka, memisahkan dua remaja berlumuran darah dan menyeret mereka. Mereka tidak nampak terlihat tergesa-gesa.

Setelah Caitlin akhirnya mendapat makanan, ia memandang ke sekeliling ruangan, berharap ada tanda-tanda Jonah. Tapi ia tidak kelihatan di mana pun.

Ia berjalan di lorong, melewati meja demi meja, semua dipenuhi dengan remaja. Ada beberapa bangku kosong, dan satu-satunya yang kosong tidak nampak mengundang, bersebelahan dengan kumpulan teman yang besar.

Akhirnya, ia mengambil tempat duduk di sebuah meja kosong mengarah ke belakang. Hanya ada satu remaja sangat jauh di ujungnya, remaja laki-laki Tiongkok pendek yang lemah dengan sumpit, berpakaian dengan buruk, yang tetap menundukkan kepalanya dan berfokus pada makanannya.

Ia merasa sendirian. Ia memandang ke bawah dan memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan Facebook dari teman-temannya di kota tempat tinggal terakhirnya. Mereka ingin mengetahui apakah ia menyukai tempat barunya. Entah kenapa, ia merasa tidak ingin menjawabnya. Mereka terasa sangat jauh.

Caitlin nyaris tidak makan, sebuah muak hari pertama yang samar masih menghinggapinya. Ia mencoba merubah rentetan pikirannya. Ia menutup matanya. Ia memikirkan apartemen barunya, naik lima lantai dalam sebuah bangunan dekil di jalan no. 132. Rasa mualnya semakin parah. Ia menarik napas dalam-dalam, menyuruh dirinya untuk berfokus pada sesuatu, sesuatu yang bagus dalam hidupnya.

Adik laki-lakinya. Sam. 14, akan menjadi 20. Sam tidak pernah terlihat ingat bahwa dia adalah adiknya: dia selalu bertingkah seperti kakak laki-lakinya. Dia tumbuh tabah dan kuat dari semua kepindahan, dari kepergian Ayah mereka, dari cara Ibu mereka memperlakukan mereka berdua. Ia bisa melihat hal itu semakin mendekati dia dan bisa melihat bahwa dia mulai menutup dirinya. Seringnya perkelahian sekolah dia tidaklah mengejutkannya. Ia takut itu hanya akan menjadi lebih buruk.

Tapi ketika berhubungan dengan Caitlin, Sam sangat menyayanginya. Dan ia juga menyayanginya. Dia adalah satu-satunya hal yang kosntan dalam hidupnya, satu-satunya yang bisa ia andalkan. Dia nampaknya menguasai satu titik lembut yang tersisa dalam dunianya. Ia bertekad melakukan yang terbaik untuk melindungi dia.

“Caitlin?”

Ia terlompat.

Berdiri di depannya, dengan baki di satu tangan dan kotak biola di tangan lainnya, adalah Jonah.

"Bolehkah aku bergabung denganmu?"

"Ya - maksudku tidak," katanya, salah tingkah.

Bodoh, pikirnya. Berhentilah bertingkah begitu gugup.

Jonah menyunggingkan senyumnya, lalu duduk di depan Caitlin. Dia duduk tegak, dengan postur tubuh yang sempurna, dan meletakkan biolanya dengan hati-hati di sisinya. Dia meletakkan makanannya dengan perlahan. Ada sesuatu tentang dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Dia berbeda dari siapa pun yang pernah is jumpai. Sepertinya dia berasal dari jaman yang berbeda. Dia benar-benar tidak berasal di tempat ini.

"Bagaimana hari pertamamu?" tanya Jonah.

"Tidak seperti yang kuharapkan."

"Aku tahu apa yang kamu maksud," kata Jonah.

"Apakah itu sebuah biola?"

Ia mengangguk pada instrumennya. Dia tetap menutupnya, dan tetap meletakkan satu tangan di atasnya, seolah-olah takut seseorang mungkin mencurinya.

"Ini sebenarnya adalah biola alto. Ini hanya sedikit lebih besar, tapi suaranya sangat berbeda. Lebih mellow."

Ia tidak pernah melihat sebuah biola alto, dan berharap dia akan meletakkannya di meja dan menunjukkan padanya. Tapi dia tidak melakukan apa-apa, dan ia tidak ingin mengungkitnya. Ia masih meletakkan tangan di atasnya, dan dia nampaknya melindungi benda itu, seperti layaknya benda yang personal dan pribadi.

"Apakah kau sering berlatih?"

Jonah mengangkat bahu. "Beberapa jam sehari," jawabnya sambil lalu.

"Beberapa jam!? Kau pasti hebat!"

Dia mengangkat bahu lagi. "Aku oke, sepertinya. Ada banyak pemain biola yang sangat lebih bagus dariku. Tapi aku berharap ini adalah tiketku untuk keluar dari tempat ini."

"Aku selalu ingin bermain piani," kata Caitlin.

"Kenapa tidak?"

Ia akan berkata, aku tidak pernah punya piano, tapi ia menghentikan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia mengangkat bahu dan kembali pada makanannya.

"Kau tidak perlu memiliki sebuah piano," kata Jonah.

Ia mendongak, terkejut bahwa ia dapat membaca pikirannya.

"Ada ruang latihan di sekolah ini. Untuk semua hal jelek yang ada di sini, paling tidak itulah hal baiknya. Mereka akan memberimu pelajaran dengan gratis. Yang perlu kau lakukan hanya mendaftar."

Mata Caitlin melebar.

"Sungguh?"

"Ada lembar pendaftaran di luar ruang musik. Mintalah bertemu Ibu Lennox. Katakan pada beliau kau adalah temanku."

Teman. Caitlin menyukai bunyi kata itu. Ia perlahan-lahan merasakan suatu kegemburaan yang muncul di dalam dirinya.

Ia tersenyum lebar. Mata mereka bertemu selama sekejap.

Kembali memandangi mata hijaunya yang bercahaya, ia terbakar oleh keinginan untuk menanyakan jutaan pertanyaan: Apa kau punya pacar? Mengapa kau sangat baik? Apa kau benar-benar menyukaiku?

Tapi, sebaliknya, ia menggigit lidahnya dan tidak mengatakan apapun.

Takut bahwa waktu mereka bersama akan segera habis, ia memindai otaknya atas sesuatu untuk ditanyakan pada dia yang akan memperpanjang percakapan mereka. Ia mencoba untuk memikirkan sesuatu yang akan memastikan bahwa ia akan dapat menemuinya lagi. Tapi ia merasa gugup dan membeku.

Ia akhirnya membuka mulutnya, dan ketika ia melakukannya, lonceng berdentang.

Ruangan itu meledak menjadi riuh dan bergerak, dan Jonah berdiri, meraih biola altonya.

"Aku terlambat," katanya, meraih bakinya.

Dia melihat ke arah baki Caitlin. "Bolehkah aku membawa bakimu?"

Ia menunduk, menyadari bahwa ia melupakannya, dan menganggukkan kepalanya.

"Oke," kata Jonah.

Ia berdiri di sana, tiba-tiba malu, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Hmm...sampai ketemu lagi."

"Sampai ketemu lagi," jawab Caitlin dengan lemah, suaranya hampir-hampir menyeruapi bisikan.

*

Hari pertama sekolah selesai, Caitlin keluar dari bangunan itu menuju ke siang hari bulan Maret yang cerah. Meskipun bertiup angin kencang, ia tidak lagi merasa dingin. Meskipun semua remaja di sekelilingnya berteriak ketika mereka mengalir keluar, ia tidak lagi merasa terganggu oleh kebisingan itu. Ia merasa hidup, dan bebas. Sisa hari itu telah berjalan secara samar-samar; ia bahkan tidak bisa mengingat satu saja nama guru baru.

Ia tidak dapat berhenti memikirkan Jonah.

Ia bertanya-tanya apakah ia telah bertingkah seperti orang bodoh di kafetaria itu. Ia telah tersandung oleh kata-katanya; ia bahkan nyaris tidak menanyakan apapun. Yang bisa ia pikirkan hanya menanyakan tentang biola altonya yang bodoh. Ia harusnya menanyakan di mana dia tinggal, dari mana dia berasal, ke mana dia mendaftar kuliah.

Yang paling penting, apakah dia memiliki seorang pacar. Seseorang seperti dia seharusnya mengencani seseorang.

Tepat pada saat itu, seorang remaja perempuan Hispanik cantik yang berpakaian dengan bagus tersenggol olah Caitlin. Caitlin memandanginya dari atas ke bawah ketika ia lewat, dan bertanya-tanya selama sedetik apakah itu adalah pacarnya.

Caitlin berbelok ke jalan no. 134, dan selama sedetik, melupakan ke mana ia akan pergi. Ia tidak pernah berjalan kaki pulang dari sekolah sebelumnya, dan selama beberapa saat, ia sama sekali tupa di mana apartemen barunya. Ia berdiri di sana di pojokan, bingung. Sebuah awan menutupi matahari dan angin kencang berhembus, dan ia tiba-tiba merasa dingin lagi.

"Hei, amiga!"

Caitlin berbalik, dan menyadari ia berdiri di depan kios dekil di pojokan. Empat pria lusuh duduk di kursi plastik di depannya, tampaknya tidak menyadari hawa dingin, menyeringai pada Caitlin seolah-olah ia adalah santapan selanjutnya.

"Ayo ke sini, sayang!" teriak yang lainnya.

Ia ingat.

Jalan no. 132. Itu dia.

Ia berbelok dengan cepat dan berjalan dengan cepat menyusuri sisi jalan lainnya. Ia memeriksa di belakang bahunya beberapa kali untuk melihat apakah pria-pria itu mengikutinya. Untungnya, tidak.

Angin dingin menyengat pipinya dan menyadarkannya, ketika kenyataan kejam terhadap lingkungan sekitarnya mulai tenggelam. Ia memandang sekeliling pada mobil-mobil yang ditinggalkan, dinding-dinding bergrafiti, kawat berduri, bar-bar di semua jendela, dan ia tiba-tiba merasa sendirian. Dan sangat takut.

Hanya tinggal 3 blok lagi menuju apartemennya, tapi lamanya terasa seperti seumur hidupnya. Ia berharap ia memiliki teman di sisinya - lebih baik lagi, Jonah - dan ia bertanya-tanya apakah ia bisa menjalani perjalanan ini sendirian setiap hari. Sekali lagi, ia merasa kesal pada Ibunya. Bagaimana bisa dia selalu memindahkannya, selalu menempatkan Caitlin di tempat baru yang ia benci? Kapankah hal itu akan berakhir?

Ada kaca pecah.

Jantung Caitlin berdegup lebih cepat ketika ia melihat sejumlah aktivitas jauh di sebelah kiri, di sisi lain jalan itu. Ia berjalan dengan cepat dan mencoba untuk tetap menundukkan kepalanya, tapi saat ia semakin dekat, ia mendengar teriakan dan tawa aneh, dan ia tidak menahan untuk memperhatikan apa yang terjadi.

Empat remaja bertubuh besar - 18 atau 19, mungkin - berdiri di depan remaja lain. Dua dari mereka memegang tangannya, sementara yang ketiga melangkah maju dan meninju perutnya, dan yang keempat melangkah maju dan meninju wajahnya. Remaja itu, mungkin 17 tahun, tinggi, kurus dan tanpa pertahanan, jatuh ke tanah. Kedua remaja laki-laki melangkah ke depan dan menendang wajahnya.

Meskipun sendirian, Caitlin berhenti dan melihatnya. Ia merasa ngeri. Ia tidak pernah melihat hal seperti itu.

Kedua remaja lain mengambil beberapa langkah di sekitar korban mereka, lalu mengangkat sepatu boot mereka tinggi-tinggi dan menendangkannya.

Caitlin takut mereka akan menendang anak itu sampai mati.

"TIDAK!" teriaknya.

Ada suara berderak kesakitan ketika mereka menendangkan kakinya.

Tapi itu bukanlah suara tulang yang patah - melainkan, itu adalah suara kayu. Kayu yang hancur. Caitlin melihat bahwa mereka menginjak-injak sebuah alat musik kecil. Ia melihat lebih dekat, dan melihat potongan dan serpihan sebuah biola alto bercecer di trotoar.

Ia mengangkat tangan ke arah mulutnya dengan perasaan ngeri.

“Jonah!?”

Tanpa berpikir, Caitlin menyebrangi jalan itu, menuju sekumpulan laki-laki, yang sekarang mulai memperhatikannya. Mereka memandanginya dan mata jahat mereka melebar sembari menyikut satu sama lain.

Ia berjalan langsung ke arah korban dan melihat bahwa itu memang Jonah. Wajahnya berdarah dan memar, dan ia pingsan.

Ia memandangi sekumpulan remaja laki-laki itu, kemaharannya mengalahkan ketakutannya, dan berdiri di antara Jonah dan mereka.

"Biarkan dia!" teriaknya pada kelompok remaja itu.

Remaja yang di tengah, paling tidak 64, berotot, membalas dengan tertawa.

"Atau apa?" tanya dia, suaranya sangat dalam.

Caitlin merasakan dunia berlalu cepat, dan menyadari bahwa ia baru saja didorong dengan keras dari belakang. Ia menaikkan sikutnya ketika ia menabrak beton, tapi itu hampir tidak melindungi tabrakannya. Di sudut matanya, ia bisa melihat buku hariannya melayang, kertas-kertasnya berhamburan ke mana-mana.

Ia mendengar tawa. Dan kemudian langkah-langkah kaki, datang ke arahnya.

Jantungnya berdegup dalam dadanya, adrenalinnya muncul. Ia berhasil bergulung dan bersusah-payah berdiri sebelum mereka mencapainya. Ia mengambil langkah seribu di jalan kecil itu, berlari menyelamatkan diri.

Mereka mengikuti di belakangnya.

Di salah satu dari beberapa sekolahnya, kembali Caitlin mengingat bahwa ia akan mempunyai masa depan panjang di suatu tempat, ia mengikuti olahraga lari, dan menyadari ia bagus dalam bidang itu. Yang terbaik dalam tim, sebenarnya. Tidak dalam jarak jauh, tapi dalam lari cepat 100 yard. Ia bahkan bisa berlari lebih cepat dari sebagian besar laki-laki. Dan sekarang, hal itu kembali menyelimutinya.

Ia berlari menyelamatkan hidupnya, dan para laki-laki itu tidak dapat menangkapnya.

Caitlin melirik ke belakang dan melihat seberapa jauhnya mereka di belakang, dan merasa optimis bahwa ia bisa kabur dari mereka semua. Ia hanya harus melakukan belokan yang tepat.

Jalan kecil itu berakhir di sebuah T, dan ia bisa berbelok ke kiri maupun kanan. Ia tidak akan mempunyai waktu untuk merubah keputusannya jika ia ingin mempertahankan kemenangannya, dan ia harus memilih dengan cepat. Ia tidak dapat melihat apa yang ada di sekitar tiap pojokan, sekalipun. Dengan membabi buta, ia berbelok ke kiri.

Ia berdoa semoga itu adalah pilihan yang benar. Ayolah. Kumohon!

Jantungnya berhenti ketika ia melakukan belokan tajam ke kiri dan melihat jalan buntu di depannya.

Salah jalan.

Jalan buntu. Ia berlari ke arah dinding, mencari-cari jalan keluar, apapun itu. Menyadari bahwa tidak ada jalan keluar, ia berbalik untuk menghadapi para penyerang yang mendekatinya.

Terengah-engah, ia menyaksikan mereka berbelok dan mendekat. Ia bisa melihat di belakang bahu mereka bahwa jika ia berbelok ke kanan, ia akan dapat pulang dengan bebas. Tentu saja. Hanya keberuntungan.

"Baiklah, cewek," salah satu dari merka berkata, "kau akan menderita sekarang."

Menyadari bahwa ia tidak mempunyai jalan keluar, mereka berjalan perlahan-lahan ke arahnya, terengah-engah, menyeringai, dan menikmati kekerasan yang akan datang.

Caitlin menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menyakinkan Jonah untuk bangun, muncul di pojokan, terjaga dan penuh tenaga, siap untuk menyelamatkannya. Tapi ia membuka matanya dan dia tidak ada di sana. Hanya para penyerangnya. Semakin mendekat.

Ia membayangkan Ibunya, bagaimana ia membencinya, dari semua tempat yang sudah dia paksakan untuk hidup. Ia memikirkan adiknya Sam. Ia memikirkan bagaimana hidupnya setelah hari ini.

Ia memikirkan seluruh hidupnya, tentang bagaimana ia selama ini diperlakukan, tentang bagaimana tidak seorang pun yang memahami dirinya, tentang bagaimana tidak sesuatu pun menjadi seperti keinginannya. Dan sesuatu berdetak. Entah bagaimana, ia merasa sudah cukup.

Aku tidak layak menerima ini. Aku TIDAK layak menerima ini.

Dan kemudian, tiba-tiba, ia merasakannya.

Itu adalah sebuah gelombang, sesuatu yang tidak seperti apapun yang pernah ia alami. Itu adalah sebuah gelombang kemurkaan, meluap dalam dirinya, membanjiri darahnya. Gelombang itu berpusat dalam perutnya, dan menyebar dari sana. Ia bisa merasakan kakinya menjejak tanah, seolah-olah ia dan beton itu adalah satu, dan bisa merasakan kekuatan terpenting melandanya, merayap melalui pinggangnya, naik ke lengannya, menuju bahunya.

Caitlin mengeluarkan raungan yang mengejutkan dan menakutkan juga bagi dirinya. Ketika remaja pertama mendekatinya dan mendaratkan tangan gempalnya ke pergelangan tangannya, ia menyaksikan tangannya bergerak dengan sendirinya, mencengkram kuat pergelangan tangan penyerangnya dan memutarnya ke belakang pada sudut yang tepat. Wajah remaja itu berkerut terkejut ketika pergelangannya, dan kemudian lengannya, patah menjadi dua.

Dia jatuh berlutut, menjerit.

Ketiga remaja laki-laki lain membelalak dengan terkejut.

Yang bertubuh paling besar dari ketiganya menyerang ke arahnya.

"Kau sia-"

Sebelum dia bisa menyelesaikan, ia lompat ke udara dan menanamkan kedua kakinya tepat di dadanya, mengirimnya terbang ke belakang sekitar sepuluh kaki dan menabrak tumpukan kaleng sampah logam.

Ia terbaring di sana, tidak bergerak.

Kedua remaja lainnya saling memandang, terkejut. Dan sangat ketakutan.

Caitlin melangkah maju, merasakan aliran kekuatan yang tidak manusiawi menjalarinya, dan mendengar dirinya menggeram ketika ia menangkap kedua remaja (masing-masing berukuran dua kali darinya), mengangkat masing-masing dari mereka beberapa kaki di atas tanah menggunakan satu tangan.

Ketika mereka tergantung di udara, ia mengayunkan mereka kembali, lalu mengayunkan mereka bersama-sama, menubrukkan mereka berdua satu sama lain dengan kekuatan yang luar biasa. Mereka berdua jatuh ke tanah.

Caitlin berdiri di sana, bernapas, berbuih dengan kemurkaan.

Semua keempat remaja itu tidak bergerak.

Ia tidak merasa lega. Sebaliknya, ia menginginkan lagi. Lebih banyak remaja untuk dilawan. Lebih banyak tubuh untuk dilempar.

Dan ia menginginkan sesuatu yang lain.

Ia tiba-tiba memiliki pandangan sejernih kristal, dan dapat menyoroti leher mereka, terpajan. Ia bisa melihat sampai dengan sepersepuluh inci, dan ia dapat melihat, dari tempatnya berdiri, pembuluh darah berdenyut pada masing-masing leher itu. Ia ingin menggigit. Untuk makan.

Tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya, ia menggoyangkan kepalanya ke belakang dan mengeluarkan pekikan tidak wajar, bergema pada bangunan dan blok itu. Itu adalah pekikan kemenangan, dan kemarahan yang tidak terpenuhi.

Itu adalah jeritan hewan yang menginginkan lebih banyak.

Bab Dua

Caitlin berdiri di depan pintu apartemen barunya, memandangi, dan tiba-tiba menyadari di mana ia berada. Ia tidak tahu bagaimana ia sampai di sana. Hal terakhir yang ia ingat, ia ada dalam gang. Entah bagaimana, ia bisa kembali pulang.

Ia ingat, bagaimana pun, setiap detik atas apa yang terjadi dalam gang itu. Ia mencoba untuk menghapusnya dari pikirannya, tapi tidak bisa. Ia menatap lengan dan tangannya, mengharapkannya terlihat berbeda - tapi lengan dan tangannya normal. Hanya seperti yang selalu mereka lakukan. Kemarahan merayap melalui dirinya, merubahnya, lalu pergi dengan seketika.

Tapi efek setelahnya yang tersisa: ia merasa hampa, untuk satu hal. Mati rasa. Dan ia merasakan sesuatu hal lain. Ia tidak dapat memahaminya dengan benar. Gambar-gambar bermunculan melalui benaknya, gambar-gambar leher para pengganggu itu. Dari detak jantung mereka. Dan ia merasa kelaparan. Sebuah hasrat.

Caitlin sangat tidak ingin pulang. Ia tidak ingin berurusan dengan Ibunya, khususnya hari ini, tidak ingin berurusan dengan tempat baru, dengan tidak berkemas. Jika itu tidak karena Sam beradd di sana, ia mungkin telah berpaling dan pergi. Ke mana ia akan pergi, ia tidak ada gagasan - tapi paling tidak ia akan berjalan.

Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengulurkan tangan serta meletakkan tangannya di pegangan pintu. Entah kenapa pegangan pintu itu hangat, atau tangannya yang sedingin es.

Caitlin memasuki apartemen yang terlalu terang itu. Ia bisa mencium bau makanan di atas kompor - atau mungkin, dalam microwave. Sam. Ia selalu pulang lebih cepat dan membuat makanan untuk dirinya sendiri. Ibunya tidak akan pulang selama berjam-jam.

"Itu tidak terlihat seperti hari pertama yang bagus."

Caitlin berbalik, terkejut pada suara Ibunya. Dia duduk di sana, di sofa, mengisap sebuah rokok, telah mengamati Caitlin dan mencibir.

"Apa yang kau lakukan, sudah merusak sweater itu?

Caitlin melihat ke bawah dan menyadari untuk pertama kalinya ada noda; mungkin akibat menabrak semen.

"Kenapa ibu ada di rumah lebih awal?" tanya Caitlin.

"Hari pertama bagiku, juga, tahu kan," tukasnya. "Kau bukan satu-satunya. Pekerjaan ringan. Bos menyuruhku pulang lebih awal."

Caitlin tidak tahan dengan nada nakal Ibunya. Tidak malam ini. Ia menghina kepadanya, dan malam ini, Caitlin merasa muak. Ia memutuskan untuk memberinya rasa obat-obatannya sendiri.

"Bagus," balas Caitlin. "Apa itu berarti kita pindah lagi?"

Ibunya tiba-tiba melompat berdiri. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu itu!" teriaknya.

Caitlin tahu Ibunya sudah menunggu sebuah alasan untuk berteriak padanya. Ia pikir itu cara terbaik hanya untuk memancingnya dan segera menyelesaikannya.

"Kau seharusnya tidak merokok di depan Sam," jawab Caitlin dingin, lalu memasuki kamar tidur kecilnya dan membanting pintu di belakangnya, menguncinya.

Segera, Ibunya menggedor pintu.

"Kau keluar ke sini, anak sialan! Cara bicara semacam apa kepada ibumu!? Siapa yang menaruh roti di mejamu...."

Pada malam ini, Caitlin, perhatiannya sangat teralihkan, bisa meredam suara Ibunya. Sebaliknya, ia memutar ulang benaknya atas peristiwa hari itu. Suara-suara tawa remaja laki-laki itu. Suara detak jantungnya sendiri di telinganya. Suara raungannya sendiri.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana ia mendapatkan kekuatan semacam itu? Apakah itu hanya dorongan adrenalin saja? Suatu bagian dari dirinya berharap demikian. Tapi bagian lain dari dirinya tahu itu bukan seperti itu. Apakah sebenarnya?

Gedoran di pintu berlanjut, tapi Caitlin hampir tidak mendengarnya. Ponselnya ada di mejanya, bergetar dengan gilanya, menyala-nyala dengan Pesan Instan, SMS, email, obrolan Facebook - tapi ia hampir tidak bisa mendengarnya juga.

Ia menggerakkan jendela kecilnya dan melihat ke bawah ke Amsterdam Ave, dan suara baru muncul dalam benakmya. Itu adalah bunyi suara Jonah. Gambaran senyumnya. Suara yang rendah, dalam dan menenangkan. Ia mengingat bagaimana lembutnya dia, bagaimana rapuhnya dia. Lalu ia melihatnya terbaring di tanah, berlumuran darah, alat musik berharganya hancur. Sebuah gelombang kemarahan baru muncul.

Kemarahannya berubah menjadi kekhawatiran - khawatir apakah dia baik-baik saja, apakah dia pergi, apakah dia berhasil pulang. Ia membayangkan dirinya memanggilnya. Caitlin. Caitlin.

“Caitlin?”

Sebuah suara baru dari luar pintunya. Suara seorang anak laki-laki.

Bingung, ia menyentaknya.

"Aku Sam. Biarkan aku masuk."

Ia menuju pintunya dan menyandarkan kepala di depannya.

"Mama pergi," kata suara di sisi lain. "Keluar untuk beli rokok. Ayolah, biarkan aku masuk."

Ia membuka pintu.

Sam berdiri di sana, menatap kembali, kekhawatiran terukir di wajahnya. Pada usia 15 tahun, dia terlihat lebih tua dari usianya. Ia tumbuh lebih awal, hampir enam kaki, tetapi dia tidak berisi, dan dia kikuk dan kurus. Dengan rambut hitam dan mata coklat, warnanya mirip dengan miliknya. Mereka benar-benar terlihat istimewa. Ia bisa melihat kekhawatiran di wajahnya. Dia menyayanginya lebih dari segalanya.

Ia membiarkannya masuk, dengan segera menutup pintu di belakangnya.

"Maaf," katanya. "Aku hanya tidak bisa menghadapinya malam ini."

"Apa yang terjadi dengan kalian berdua?"

"Seperti biasanya. Dia menungguku pada saat aku masuk."

"Aku rasa dia baru saja mengalami hari yang sulit," kata Sam, mencoba membuat kedamaian di antara mereka, seperti biasanya. "Kuharap mereka tidak memecatnya lagi.

"Siapa peduli? New York, Arizona, Texas… Siapa yang peduli apa selanjutnya? Kepindahan kita tidak akan pernah berakhir."

Sam mengerutkan kening saat dia duduk di kursi mejanya, dan ia segera merasa bersalah. Ia kadang-kadang memiliki lidah yang tajam, berbicara tanpa berpikir, dan ia berpikir dapat menariknya kembali.

"Bagaimana hari pertamamu?" tanyanya, mencoba mengubah topik pembicaraan.

Dia mengangkat bahu. "Oke, kayaknya." Dia mengunci kursi dengan kakinya.

Dia mendongak. "Kau?"

Ia mengangkat bahu. Pasti ada sesuatu dalam ekspresi wajahnya, karena Sam tidak berpaling. Dia tetap menatapnya.

"Apa yang terjadi?"

"Tidak ada," katanya membela diri, dan berpaling lalu berjalan ke arah jendela.

Ia bisa merasakan dia mengamatinya.

"Kau terlihat...berbeda."

Ia berhenti sejenak, bertanya-tanya apakah dia tahu, bertanya-tanya apakah tampang luarnya menunjukkan perubahan. Ia menelan ludah.

"Gimana?"

Diam.

"Aku tidak tahu," dia akhirnya menjawab.

Ia memandang ke luar jendela, mengamati tanpa tujuan ketika seorang pria di luar pojok bodega menjatuhkan kantung uang seorang pembeli.

"Aku benci tempat baru ini," katanya.

Ia berbalik dan menghadap dia.

"Aku juga begitu."

"Aku bahkan berpikiran tentang..." dia menundukkan kepalanya, "...pergi."

"Apa maksudmu?"

Dia mengangkat bahu.

Ia menatap Sam. Dia terlihat benar-benar depresi.

"Ke mana?" tanyanya.

"Mungkin...mencari Ayah."

"Bagaimana caranya? Kita tidak ada ide di mana dia."

"Aku bisa mencoba. Aku bisa menemukannya."

"Bagaimana caranya?"

"Aku tidak tahu.... Tapi aku bisa mencoba."

"Sam. Ia mungkin meninggal sepanjang pengetahuan kita."

"Jangan bilang begitu!" teriaknya, dan wajahnya berubah merah menyala.

"Maaf," katanya.

Ia kembali tenang.

"Tapi apakah kau pernah mempertimbangkan bahwa, bahkan jika kita menemukan dia, dia mungkin sama sekali tidak ingin menemuai kita? Selain itu, dia pergi. Dan dia tidak pernah mencoba menghubungi kita."

"Mungkin karena Ibu tidak mengizinkan dia melakukannya."

"Atau mungkin karena dia tidak menyukai kita."

Kerutan Sam semakin dalam ketika ia memainkan jari kaki ke lantai lagi. "Aku mencarinya di Facebook."

Mata Caitlin terbuka lebar karena terkejut.

"Kau menemukannya?"

"Aku tidak yakin. Ada 4 orang dengan namanya. 2 dari mereka adalah pribadi dan tidak ada foto. Aku mengirimi mereka berdua sebuah pesan."

"Dan?"

Sam menggelengkan kepalanya.

"Aku belum menerima balasannya."

"Ayah tidak akan mungkin ada di Facebook."

"Kau tidak tahu kan," jawabnya, sekali lagi membela diri.

Caitlin mendesah dan berjalan menuju ranjangnya dan berbaring. Ia memandang ke atas ke langit-langit kuning, cat yang mengelupas, dan bertanya-tanya bagaimana mereka semua telah mencapai titik ini. Ada kota-kota mereka merasa gembira di situ, bahkan saat-saat ketika Ibu mereka tampak hampir bahagia. Seperti ketika dia mengencani pria itu. Cukup bahagia, paling tidak, untuk meninggalkan Caitlin sendirian.

Ada kota-kota, seperti yang terakhir, di mana baik ia dan Sam membuat beberapa teman baik, di mana tampaknya seperti mereka mungkin benar-benar tinggal - setidaknya cukup lama untuk lulus di satu tempat. Dan kemudian itu semua nampaknya berubah dengan cepat. Berkemas lagi. Mengucapkan selamat tinggal. Apakah terlalu berlebihan meminta masa kanak-kanak yang normal?

"Aku bisa pindah kembali ke Oakville," kata Sam tiba-tiba, mengganggu pikirannya. Kota terakhir mereka. Sangat luar biasa bagaimana dia selalu tahu dengan tepat apa yang ia pikirkan. "Aku bisa tinggal dengan teman-temanku."

Hari mulai melandanya. Itu semua terlalu banyak. Ia tidak berpikir dengan jernih, dan dalam kekecewaannya, apa yang ia dengar adalah bahwa Sam sedang bersiap-siap meninggalkannya, bahwa dia tidak benar-benar peduli terhadapnya lagi.

"Pergi saja!" tiba-tiba ia membentak, tanpa bermaksud demikian. Seolah-olah seseorang yang lain yang telah mengatakannya. Ia mendengar kekasaran dalam suaranya sendiri, dan segera menyesalinya.

Mengapa dia melontarkan sesuatu seperti itu? Mengapa dia tidak mengendalikan dirinya sendiri?

Seandainya ia sedang dalam suasana hati yang lebih baik, seandainya ia lebih tenang dan tidak mengalami begitu banyak pukulan sekaligus, ia tidak akan mengatakannya. Atau ia akan menjadi lebih manis. Ia akan mengatakan sesuatu seperti, Aku tahu apa yang sedang kau coba katakan bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, tidak peduli seberapa buruknya, karena kau tidak akan meninggalkan aku sendirian untuk mengatasi semua ini. Dan aku menyayangimu karena itu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu juga. Dalam kekacauan masa kanak-kanak kita, paling tidak kita memiliki satu sama lain. Sebaliknya, suasana hatinya sudah melakukan yang terburuk pada dirinya. Sebaliknya, ia bertingkah egois, dan membentak.

Ia berdiri dan bisa melihat luka tergores di wajahnya. Ia ingin menariknya kembali, untuk mengatakan bahwa ia menyesal, tapi ia terlalu berlebihan. Entah bagaimana, ia tidak bisa membuat dirinya sendiri membuka mulutnya.

Dalam kesunyian, Sam perlahan-lahan berdiri dari kursi meja belajarnya dan keluar kamar, dengan lembut menutup pintu di belakangnya.

Bodoh, pikirnya. Kau sungguh bodoh. Mengapa kau memperlakukannya sama dengan Ibu memperlakukanmu?

Ia kembali berbaring, menatap langit-langit. Ia menyadari bahwa ada alasan lain ia membentaknya. Dia mengganggu benaknya, dan dia melakukannya pada saat ketika mereka berubah menjadi lebih buruk. Pikiran kelam melintas di benaknya, dan dia menepisnya sebelum ia memiliki kesempatan untuk menyelesaikannya.

Mantan pacar Ibunya. Tiga kota yang lalu. Itu adalah satu waktu ketika Ibunya nampak benar-benar bahagia. Frank. 50 tahun. Pendek, gemuk, botak. Tebal seperti sebuah gelondong kayu. Berbau seperti parfum murahan. Ia berusia 16 tahun.

Ia sedang berdiri di dalam ruang cuci yang kecil, melipat baju-bajunya, ketika Frank muncul di pintu. Dia adalah seorang penipu, selalu memandanginya. Dia mengulurkan tangan dan mengambil sepasang baju dalamnya, dan ia bisa merasakan pipinya merona karena malu dan marah. Dia memeganginya dan menyeringai.

"Kau mejatuhkan ini," katanya, menyeringai. Ia menyambarnya dari tangannya.

"Apa yang kau inginkan?" tukasnya.

"Apakah itu cara berbicara kepada ayah tiri barumu?"

Dia mengambil setengah langkah lebih dekat.

"Kau bukan ayah tiriku."

"Tapi aku akan jadi - segera."

Ia mencoba kembali melipat baju-bajunya, tapi dia mengambil langkah lain lebih dekat. Terlalu dekat. Jantungnya berdegup dalam dadanya.

"Aku rasa ini adalah waktunya kita saling mengenal satu sama lain dengan sedikit lebih baik," katanya, melepaskan sabuknya. "Benarkah?"

Ketakutan, ia mencoba untuk mendesak melewatinya dan keluar ke pintu dalam ruangan kecil itu, tapi saat ia melakukannya, dia menghalangi jalannya, dan dengan kasar menyambarnya dan mendorong punggungnya ke dinding.

Seperti itulah yang terjadi.

Kemarahan telah melandanya. Kemarahan tidak seperti apapun yang pernah ia alami. Ia merasakan tubuhnya memanas, terbakar, dari jari kakinya sampai kulit kepalanya. Saat dia mendekatinya, ia melompat ke atas dan menendangnya, menanamkan kedua kakinya tepat di jantungnya.

Meskipun sepertiga dari ukuran tubuhnya, ia terbang ke belakang melalui pintu, retak kayu dari engselnya, dan terus melayang, sepuluh kaki ke kamar sebelah. Itu adalah seperti sebuah meriam meledak padanya di seluruh rumah.

Caitlin berdiri di sana, gemetar. Ia tidak pernah menjadi orang yang kejam, tidak pernah begitu ingin meninju seseorang. Terlebih lagi, ia tidak sebesar itu, atau kuat. Bagaimana ia tahu harus menendangnya seperti itu? Bagaimana ia pernah punya kekuatan untuk melakukannya? Ia tidak pernah melihat siapa pun - terlebih lagi orang dewasa - terlempar melewati udara, atau meremukkan sebuah pintu. Dari mana datangnya kekuatannya?

Ia berjalan ke arahnya, dan berdiri di depannya.

Dia pingsan kedinginan, telentang. Ia bertanya-tanya apakah ia telah membunuhnya. Tapi pada saat itu, kemarahan masih memenuhi dirinya, ia tidak benar-benar peduli. Ia lebih khawatir terhadap dirinya sendiri, tentang siapa - atau apa - sebenarnya ia.

Ia tidak pernah melihat Frank lagi. Dia putus dengan Ibunya di hari berikutnya, dan tidak pernah datang kembali. Ibunya telah mencurigai sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua, tapi ia tidak pernah mengatakan apapun. Dia, meski demikian, menyalahkan Caitlin atas perpisahan itu, karena menghancurkan satu waktu bahagia dalam hidupnya. Dan dia tidak pernah berhenti menyelahkannya sejak itu.

Caitlin melihat kembali pada langit-langit yang terkelupas, jantungnya berdebar lagi. Ia memikirkan kemarahan hari ini, dan bertanya-tanya apakah dua episode itu ada hubungannya. Ia selalu menganggap bahwa Frank hanya menjadi gila, peristiwa yang terpisah, sejumlah ledakan kekuatan aneh. Tapi sekarang ia bertanya-tanya apakah itu sesuatu yang lain. Apakah ada sejenis kekuatan di dalam dirinya? Apakah ia sejenis orang aneh?

Siapakah ia?

Bab Tiga

Caitlin berlari. Para pengganggu kembali, dan mereka mengejarnya di sepanjang jalan kecil. Jalan buntu terbentang di depannya, sebuah dinding yang sangat besar, tapi ia terus berlari, tepat ke arah dinding. Ketika ia berlari, ia memperoleh kecepatan, kecepatan yang tidak mungkin, dan bangunan-bangunan terbang secara samar. Ia bisa merasakan angin bergegas melalui rambutnya.

Ketika ia semakin mendekat, ia melompat, dan dalam satu lompatan ia berada di atas dinding, setinggi tiga puluh kaki. Satu lagi lompatan, dan ia terbang melalui udara lagi, tiga puluh kaki, dua puluh, mendarat di atas beton tanpa kehilangan langkah, masih berlari, dan berlari. Ia merasa kuat, tidak terlihat. Kecepatannya bertambah lebih banyak lagi, dan ia merasa seolah-olah ia bisa terbang.

Ia menatap ke bawah dan di depan matanya bangunan berubah menjadi rumput - rumput yang tinggi, bergoyang, dan hijau. Ia berlari melewati sebuah padang rumput, matahari bersinar, dan ia mengenalinya seperti rumah dari masa kanak-kanaknya.

Di kejauhan, ia bisa merasakan bahwa ayahnya berdiri di cakrawala. Ketika ia berlari, ia merasakan ia semakin mendekatinya. Ia melihatnya semakin jelas. Dia berdiri dengan senyum lebar, dan lengan terentang lebar.

Ia rindu untuk bertemu dengannya lagi. Ia berlari sebisa mungkin. Tapi ketika ia semakin dekat, dia menjadi lebih jauh.

Tiba-tiba, ia jatuh.

Pintu abad pertengahan yang besar terbuka, dan ia memasuki sebuah gereja. Ia menyusuri lorong dengan penerangan yang samar-samar, obor terbakar di kedua sisinya. Di depan sebuah mimbar gereja, seorang pria berdiri memunggunginya, sedang berlutut. Ketika ia semakin dekat, dia berdiri dan berbalik.

Itu adalah seorang pendeta. Ia menatap ke arahnya, dan wajahnya diliputi dengan ketakutan. Ia merasakan darah mengalir melalui nadinya, dan ia menyaksikan dirinya sendiri ketika ia mendekati dia, tidak dapat menghentikan dirinya. Dia mengangkat sebuah salib ke wajahnya, takut.

Ia menyambarnya. Ia merasakan giginya tumbuh panjang, terlalu panjang, dan menyaksikan gigiya tertancap ke dalam leher pendeta itu.

Dia menjerit, tapi ia tidak peduli. Ia merasakan aliran darah melalui giginya dan menuju nadinya, dan itu adalah perasaan terhebat dalam hidupnya.

Caitlin duduk tegak di ranjang, terengah-engah. Ia melihat ke sekelilingnya, bingung. Matahari pagi yang tajam mengalir masuk.

Akhirnya, ia menyadari bahwa ia telah bermimpi. Ia menyeka keringat dingin dari dahiya dan duduk di pinggir ranjangnya.

Sunyi. Memutuskan dari cahaya itu, Sam dan Ibunya pasti telah pergi. Ia memandang ke arah jam dan melihat bahwa itu memang terlambat: 8:15. Ia akan terlambat untuk hari kedua sekolah.

Sempurna.

Ia terkejut bahwa Sam tidak membangunkannya. Dalam semua tahun-tahun mereka, dia tidak pernah membiarkannnya tidur terlalu lama - dia selalu membangunkannya jika ia akan berangkat lebih dulu.

Dia pasti masih marah tentang tadi malam.

Ia melirik ponselnya: mati. Ia telah lupa mengisi dayanya. Seperti itu juga. Ia tidak merasa ingin berbicara kepada siapa pun.

Ia melemparkan beberapa baju daru lantai dan menyisirkan tangannya melalui rambutnya. Ia biasanya langsung berangkat tanpa makan, tapi pagi ini ia merasa haus. Haus yang tidak biasa. Ia menuju ke kulkas dan meraih setengah galon jus buah anggur merah. Dalam kegilaan yang tiba-tiba, ia merobek bagian atas dan menenggaknya langsung dari wadahnya. Ia tidak berhenti menenggak sampai ia telah mengosongkan seluruh setengah galon.

Ia memandangi wadah yang kosong. Apakah ia baru saja meminumnya semua? Dalam hidupnya, ia tidak pernah minum lebih dari setengah gelas. Ia menyaksikan dirinya sendiri mengulurkan tangan dan menghancurkan wadah kotak karton itu dengan satu tangan, meremasnya menjadi sebuah bola kecil. Ia tidak bisa memahami kekuatan yang baru diketemukan semacam apa ini yang mengalir melalui nadinya. Hal itu menarik. Dan menakutkan.

Ia masih merasa haus. Dan lapar. Tapi bukan karena makanan. Nadinya menjerit untuk sesuatu yang lain, tapi ia tidak bisa memahami apa itu.

*

Itu adalah hal yang aneh melihat aula sekolahnya kosong, sangat berlawanan dari hari sebelumnya. Dengan berlangsungnya pelajaran, tidak ada seorang pun di situ. Ia melirik jam tangannya: 8:40. Ada sisa 15 menit sampai kelas ketiga dari hari itu. Ia bertanya-tanya apakah tidak apa-apa untuk membolos, tapi kemudian sekali lagi, ia tidak tahu ke mana lagi untuk pergi. Jadi ia mengikuti angka aula menuju ruangannya.

Ia berhenti di luar pintu ruang kelas, dan bisa mendengat suata hguru. Ia bimbang. Ia benci mengganggu, menjadi mencolok. Tapi ia tidak melihat pilihan lain apa yang ia miliki.

Ia menarik napas dalam dan memutar gagang pintu logam.

Ia masuk, dan seluruh kelas berhenti dan memandanginya. Termasuk gurunya.

Sunyi.

"Nona...." guru itu, lupa namanya, berjalan menuju mejanya dan mengambil selembar kertas, mencatinya, "....Paine." Cewek baru. Kamu terlambat 15 menit."

Seorang wanita tua yang tidak ramah, guru itu memelototi Caitlin

"Apa yang kau punya untuk dikatalan olehmu sendiri?"

Caitlin ragu-ragu.

"Maaf?"

"Itu tidak cukup bagus. Mungkin bisa diterima untuk terlambat di kelas mana pun Anda berasal, tapi pasti tidak diterima di sini."

"Tidak dapat diterima," kata Caitlin, dan segera menyesalinya.

Kesunyian aneh menyelimuti ruangan itu.

"Maaf, bisa diulangi?" tanya guru itu, perlahan-lahan.

"Anda bilang 'tidak diterima." Maksud Anda 'tidak dapat diterima.'"

"OH - SIALAN!" seru seorang anak laki-laki berisik dari belakang ruangan, dan seluruh kelas meledak menjadi tawa.

Wajah guru berubah merah padam.

"Kamu anak nakal. Melapor ke kantor Kepala Sekolah sekarang juga!"

Guru bergegas dan membuka pintu di samping Caitlin. Dia berdiri beberapa inci jauhnya, cukup dekat sehingga Caitlin bisa mencium parfum murahannya. "Keluar dari kelas saya!"

Biasanya Caitlin akan menyelinap diam-diam keluar dari ruangan - pada kenyataannya, ia tidak akan pernah mengoreksi guru untuk memulainya. Tapi sesuatu telah berubah dalam dirinya, sesuatu yang tidak sepenuhnya ia mengerti, dan ia merasa pembangkangan meningkat. Ia tidak merasa bahwa ia harus menunjukkan rasa hormat kepada siapa pun. Dan ia tidak lagi merasa takut.

Sebaliknya, Caitlin berdiri di sana, mengabaikan guru itu, dan perlahan-lahan mengamati ruang kelas itu, mencari Jonah. Ruangan itu penuh sesak, dan ia mencari dari baris ke baris. Tidak ada tanda dirinya.

"Nona Paine!" Apa kau tidak mendengar apa yang saya katakan!?"

Caitlin balas menatap dengan sikap menantang. Lalu ia berpaling dan perlahan-lahan berjalan keluar dari ruangan itu.

Ia bisa merasakan bantingan pintu di belakangnya, dan kemudian mendengar keributan teredam di dalam ruangan, diikuti oleh, "Tenang, anak-anak!"

Caitlin terus menyusuri lorong kosong, berkeliaran, tidak benar-benar yakin ke mana ia akan pergi.

Ia mendengar langkah-langkah kaki. Di kejauhan, seorang petugas keamanan muncul. Dia berjalan langsung ke arahnya.

"Tanda masuk!" dia menghardiknya, masih dua puluh meter jauhnya.

"Apa?" sahutnya.

Dia semakin mendekat.

"Mana kartu tanda masuk ke aula milikmu? Kau seharusnya memegangnya supaya terlihat setiap saat."

"Kartu tanda masuk apa?"

Dia berhenti dan memeriksanya. Dia adalah pria jelek yang terlihat jahat, dengan tahi lalat besar di dahinya.

"Kamu tidak dapat berjalan di aula tanpa sebuah kartu tanda masuk. Kau tahu itu. Mana?

"Aku tidak tahu-"

Dia mengambil tadio CBnya, dan berkata pada alat itu, "Pelanggaran kartu masuk aula di sayap 14. Aku membawanya untuk dihukum sekarang."

"Dihukum?" tanya Caitlin, bingung. "Apa yang kau-"

Dia menyambarnya dengan kasar menggunakan tangan dan menariknya di sepanjang aula.

"Jangan mengatakan sepatah kata pun!" bentaknya.

Caitlin tidak suka rasa jari-jarinya mencengkram lengannya, membimbingnya seolah-olah ia adalah anak kecil. Ia bisa merasakan hawa panas naik melalui tubuhnya. Ia merasakan Amarah muncul. Ia tidak benar-benar mengerti bagaimana, atau mengapa, tapi ia tahu. Dan ia tahu bahwa, saat itu, ia tidak akan dapat mengendalikan amarahnya - atau penggunaan kekuatannya.

Ia harus menghentikannya sebelum terlambat. Ia menggunakan setiap daya-upaya dari kehendaknya untuk membuatnya berhenti. Tapi selama jari-jarinya masih mencengkramnya, amarah itu tidak akan mau pergi.

Ia mengempaskan lengannya dengan segera, sebelum kekuatan penuh mengambil kendali dirinya, dan menyaksikan tangannya melayang lepas darinya, dan sebagaimana ia tersentak beberapa kaki ke belakang.

Ia kembali memandangnya, terkejut bahwa seorang gadis seukurannya dapat melemparkan dia beberapa kaki menyeberangi aula hanya dengan sedikit sentakan lengannya. Dia bimbang antara marah dan takut. Ia bisa melihatnya memikirkan apakah akan menyerangnya atau menyerah. Dia menurunkan tangan ke sabuknya, di mana tergantung sebuah kaleng besar semprotan merica.

"Jika kau memegangku dengan tanganmu lagi, gadis muda," katanya dalam kemarahan yang dingin, "dan aku akan memukulmu."

"Jadi jangan memegangku," jawabnya menantang. Ia terkejut atas bunyi suaranya sendiri. Suaranya telah berubah. Suaranya semakin dalam, lebih kasar.

Dia perlahan-lahan melepaskan tangannya dari semprotan. Dia menyerah.

"Jalan di depanku," katanya. "Melewati aula dan naik lewat tangga itu."

*

Petugas keamanan itu meninggalkan ia di pintu masuk yang penuh sesak menuju kantor Kepala Sekolah, dan ketika dia pergi, radionya berbunyi, dan dia segera pergi ke lokasi lain. Sebelum dia pergi, dia berpaling padanya.

"Jangan biarkan aku melihatmu di lorong ini lagi," bentaknya.

Caitlin berpaling dan melihat lima belas remaja, semua usia, duduk, berdiri, semua nampaknya menunggu untuk bertemu kepala sekolah. Mereka semua nampaknya seperti pengacau. Mereka sedang diproses, satu siswa pada satu waktu. Seorang penjaga berdiri mengawasi, tapi lesu, mengantuk sambil berdiri.

Caitlin tidak ingin menunggu setengah hari, dan ia jelas tidak merasa ingin bertemu Kepala Sekolah. Ia seharusnya tidak terlambat ke sekolah, itu benar, tapi dia tidak pantas diperlakukan seperti ini. Ia muak.

Pintu lorong terbuka dan seorang penjaga keamanan menyeret tiga anak lagi, berkelahi dan mendorong. Kekacauan terjadi di ruang tunggu kecil, yang benar-benar penuh sesak. Kemudian bel berbunyi, dan di luar pintu kaca, ia bisa melihat lorong-lorong terisi. Saat itu kekacauan di dalam dan di luar.

Caitlin melihat kesempatannya. Ketika pintu terbuka lagi, ia merunduk melewati anak lain dan menyelinap ke ruang depan.

Ia melihat dengan cepat di belakang bahunya, tapi tidak melihat siapa pun mengetahui. Ia dengan cepat memotong kerumunan padat anak-anak, pergi ke sisi lain, kemudian ke ujung jalan. Ia memeriksa lagi: tetap tidak ada yang datang.

Ia selamat. Bahkan jika petugas melihat ketidakhadirannya - yang ia ragukan, karena ia bahkan tidak pernah diproses - dia sudah terlalu jauh untuk mengejarnya. Ia bergegas lebih cepat menyusuri lorong, menempatkan lebih banyak jarak antara mereka, dan menuju ke kantin. Ia harus mencari Jonah. Ia harus tahu apakah dia baik-baik saja.

Kafetaria itu penuh sesak, dan dengan segera ia berjalan di lorong, mencarinya. Tidak ada. Ia berjalan kedua kalinya, perlahan-lahan mengamati setiap meja, dan masih tidak dapat menemukannya.

Ia menyesal tidak kembali untuknya, tidak memeriksa luka-lukanya, tidak memanggil ambulans. Ia bertanya-tanya apakah dia telah benar-benar terluka. Mungkin dia berada di rumah sakit. Mungkin dia bahkan tidak akan kembali ke sekolah.

Tertekan, ia meraih nampan makanan dan menemukan meja dengan pandangan yang jelas ke pintu. Ia duduk di sana, hampir tidak makan, dan menyaksikan setiap anak yang datang, berharap adanya tanda-tanda dari dia setiap kali pintu terbuka.

Tapi dia tidak pernah datang.

Bel berdering, dan kafetaria itu kosong. Tetap saja, ia duduk di sana menunggu.

Tidak ada.

*

Bel terakhir hari sekolah berdering, dan Caitlin berdiri di depan loker yang ditentukan untuknya. Ia menatap kombinasi yang tercetak pada selembar kertas di tangannya, memutar kenop dan menarik. Tidak berhasil. Ia menunduk dan mencoba kombinasi lagi. Kali ini, terbuka.

Ia menatap loker logam yang kosong. Dalam pintu dilapisi dengan grafiti. Jika tidak, loker itu benar-benar kosong. Tertekan. Ia memikirkan semua sekolah lainnya, bagaimana ia akan terburu-buru untuk menemukan lokernya, untuk membukanya, untuk menghafal kombinasi, dan untuk menempeli pintu dengan gambar remaja laki-laki dari majalah. Itu caranya mendapatkan sedikit kendali, membuat dirinya merasa di rumah, menemukan satu tempat di sekolah tersebut, membuat sesuatu yang familier.

Tapi di suatu tempat di sepanjang deretan, beberapa sekolah yang lalu, ia menjadi kurang antusias. Ia mulai bertanya-tanya titik apa yang sangat mengganggu, karena itu adalah satu-satunya masalah waktu sampai ia harus pindah lagi. Ia menjadi lebih lambat dan semakin lambat untuk menghias lokernya.

Kali ini, ia tak akan repot-repot. Ia menutup pintu dengan keras.

“Caitlin?”

Ia terlompat.

Berdiri di sana, satu kaki jauhnya, berdirilah Jonah.

Ia mengenakan kacamata hitam besar. Ia bisa melihat bahwa kulit di bawahnya bengkak.

Ia terkejut melihat dia berdiri di sana. Dan senang. Sebenarnya, ia terkejut melihat betapa senang dirinya. Sebuah perasaan gugup yang hangat berpusat di perutnya. Ia merasa tenggorokannya menjadi kering.

Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan padanya: apakah ia berhasil pulang dalam keadaan OKE, apakah ia melihat para penyerang itu lagi, apakah ia melihatnya di sana…. Tapi entah kenapa, kata-kata tidak dapat menemukan jalannya sendiri dari otak menuju ke mulutnya.

"Hei," hanya itu yang berhasil ia katakan.

Dia berdiri di sana, memandangi. Dia terlihat tidak yakin cara untuk memulai.

"Aku merasa kehilangan di kelas hari ini," katanya, dan segera menyesali pilihan kata-katanya.

Bodoh. Kau harusnya mengatakan, "Aku tidak melihatmu di kelas." "Kehilangan" terdengar putus asa.

"Aku masuk terlambat," katanya.

"Aku juga," ujar Caitlin.

Dia bergeser, terlihat tidak nyaman. Ia menyadari biola altonya tidak ada di sisinya. Jadi itu memang sungguhan. Itu semua bukan sebuah mimpi buruk.

"Apa kau OKE?" tanyanya.

Ia menunjuk ke arah kacamatanya.

Dia mengulurkan tangan dan perlahan-lahan melepaskannya.

Wajahnya ungu dan bengkak. Ada luka dan perban di dahi dan di sebelah matanya.

"Aku sudah lebih baik," ujarnya. Dia terlihat malu.

"Oh tuhanku," katanya, merasa menyesal melihat pemandangan tersebut. Ia tahu bahwa ia setidaknya harus merasa baik tentang setelah membantunya, tentang mengurangi lebih banyak luka lagi. Tapi sebaliknya ia merasa bersalah karena tidak berada di sana lebih cepat, karena tidak kembali untuknya. Tapi setelah...hal itu terjadi, semuanya menjadi samar-samar. Ia tidak benar-benar bisa mengingat bagaimana ia bisa berhasil pulang. "Aku sangat menyesal."

"Apakah kau mendengar bagaimana itu terjadi?" tanya Jonah.

Dia menatapnya dengan saksama, dengan mata hijau mudanya, dan ia merasa dia sedang menguji dirinya. Seolah-olah dia sedang berusaha untuk membuatnya mengakui bahwa ia berada di sana.

Apakah dia melihatnya? Dia tidak mungkin melihatnya. Dia tidak sadarkan diri. Atau benarkah begitu? Apakah dia mungkin melihat apa yang terjadi setelahnya? Haruskah ia mengakui bahwa ia telah berada di sana?

Di satu sisi, ia sangat ingin menceritakan bagaimana ia telah membantunya, untuk memenangkan persetujuannya, dan rasa terima kasihnya. Di sisi lain, tidak ada cara ia bisa menjelaskan apa yang ia lakukan tanpa terlihat seperti seorang pembohong atau semacam orang aneh.

Tidak, ia menyimpulkan dalam hati. Kau tidak bisa mengatakan padanya. Kau tidak boleh.

"Tidak," ujarnya dengan bohong. "Aku benar-benar tidak mengenal siapa pun di sini, ingat kan?"

Dia berhenti sejenak.

"Aku diejek," ujarnya. "Waktu pulang dari sekolah."

"Aku sangat menyesal," katanya lagi. Ia terdengar seperti orang bodoh, mengulangi frasa bodoh yang sama, tapi ia tidak ingin mengatakan apapun yang akan memberikan terlalu banyak keterangan.

"Ya, Ayahku sangat marah," lanjutnya. "Mereka mengambil biola altoku."

"Itu menyebalkan," katanya. "Akankah kau membeli yang baru?"

Jonah menggelengkan kepalanya perlahan. "Beliau bilang tidak. Dia tidak mampu membelinya. Dan itu berarti seharusnya aku lebih berhati-hati terhadapnya."

Kekhawatiran terlintas di wajah Caitlin. "Tapi aku kira kau mengatakan bahwa itu adalah tiket keluarmu?"

Ia mengangkat bahu.

"Apakah yang akan kau lakukan?" tanyanya.

"Aku tidak tahu."

"Mungkin polisi akan menemukannya," katanya. Ia ingat, tentu saja, bahwa biola itu sudah hancur, tapi ia mengira bahwa dengan mengatakan ini, itu akan membantu membuktikan padanya bahwa ia tidak tahu.

Dia mengamati Caitlin dengan saksama, seolah-olah mencoba untuk memutuskan apakah ia berbohong.

Akhirnya, dia mengatakan, "Mereka menghancurkannya." Dia berhenti sejenak. "Aku kira beberapa orang hanya merasa perlu untuk menghancurkan barang orang lain."

"Oh tuhanku," ujarnya, mencoba yang terbaik tidak untuk mengungkapkan apapun, "itu mengerikan."

"Ayah marah padaku karena aku tidak melawan ... .Tapi itu bukan siapa diriku."

"Mereka bajingan. Mungkin polisi akan menangkap mereka," katanya.

Sebuah seringai kecil terlintas di wajah Jonah. "Itu adalah hal yang aneh. Mereka sudah mendapatkan balasannya."

"Apa maksudmu?" tanya Caitlin, mencoba terdengar menyakinkan.

"Aku menemukan orang-orang itu di jalan kecil, tepat setelahnya. Mereka dihajar lebih parah dari aku. Bahkan tidak dapat bergeak." Seringainya melebar. "Seseorang menghajar mereka. Aku rasa Tuhan itu ada."

"Itu sangat aneh," katanya.

"Mungkin aku mempunyai seorang malaikat penjaga," katanya, mengamati ia lebih dekat.

"Mungkin," jawabnya.

Dia memandanginya untuk waktu yang lama, seolah-olah menunggu ia menawarkan sesuatu, untuk mengarah ke sesuatu. Tapi ia tidak.

"Dan ada sesuatu yang bahkan lebih aneh dibandingkan semua itu," katanya, pada akhirnya.

Dia mengulurkan tangan dan mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, dan memegangnya.

"Aku menemukan ini."

Ia melihat ke bawah dengan terkejut. Itu adalah buku hariannya.

Ia merasa pipinya memerah saat ia mengambilnya, juga senang karena mendapatkannya kembali dan ketakutan karena dia memiliki sepotong bukti bahwa ia berada di sana. Sekarang dia pasti mengetahui bahwa ia telah berbohong.

"Ada namamu di situ. Ini adalah milikmu, kan?"

Ia mengangguk, memeriksanya. Itu semua ada sana. Ia telah melupakannya.

"Ada beberapa halaman yang lepas. Aku mengumpulkannya semua dan menyatukannya kembali. Aku harap aku sudah mendapatkan semuanya," katanya.

"Memang," kata Caitlin dengan lembut, tersentuh dan malu.

"Aku mengikuti jejak dari halaman-halaman itu, dan hal yang aneh adalah....mereka mengarahkan aku ke jalan kecil."

Ia terus melihat ke bawah ke arah buku itu, menolak untuk melakukan kontak mata.

"Bagaimana kau mengira buku harianmu sampai di sana?" dia bertanya.

Ia memandangi matanya lekat-lekat, berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan mimik serius.

"Aku berjalan pulang malam kemarin, dan aku menghilangkannya entah di mana. Mungkin mereka menemukannya."

Dia mempelajarinya.

Akhirnya, dia berkata, "Mungkin."

Mereka berdiri di sana, dalam kesunyian.

"Hal teraneh dari semuanya," lanjutnya, "adalah sebelum aku benar-benar pingsan, aku bisa bersumpah aku melihatmu di sana, berdiri di depanku, berteriak pada orang-orang itu untuk meninggalkan aku sendirian....Bukankah itu gila?"

Dia mengamatinya, dan ia balas memandang, tepat di matanya.

"Aku pasti cukup gila untuk melakukan hal seperti itu," katanya. Meskipun is, sebuah senyum kecil tersungging di sudut mulutnya.

Dia berhenti sejenak, lalu menyunggingkan sebuah seringai lebar.

"Ya," jawabnya, "memang."

Bab Empat

Caitlin berada di awan sembilan saat ia berjalan pulang dari sekolah, mencengkeram buku hariannya. Ia tidak pernah sebahagia ini. Kata-kata Jonah terulang kembali dalam kepalanya.

"Ada konser malam ini. Di Carnegie Hall. Aku telah mendapatkan dua tiket gratis. Itu adalah kursi terjelek di gedung itu, tapi penyanyinya dianggap luar biasa."

"Apa kau mengajakku keluar?" katanya, tersenyum.

Dia balas tersenyum.

"Jika kau tidak keberatan pergi dengan benjolan memar ini," katanya, kembali tersenyum. "Selain itu, ini adalah malam Jumat."

Ia langsung bergegas pulang, tidak mampu menahan kegembiraannya. Ia tidak tahu apapun tentang musik klasik - ia bahkan tidak pernah benar-benar mendengarkan musik itu sebelumnya - tapi ia tidak peduli. Ia akan pergi ke mana pun bersamanya.

Carnegie Hall. Dia mengatakan pakaian yang indah. Apa yang akan ia kenakan? Ia memeriksa jam tangannya. Ia tidak akan punya banyak waktu untuk ganti baju jika ia akan menemuinya di kafe itu sebelum konser. Ia mempercepat langkahnya.

Sebelum ia menyadarinya, ia sampai di rumah, dan bahkan kehambaran bangunannya tidak membuatnya surut. Ia menaiki lima anak tangga dan bahkan hampir tidak merasakannya sambil berjalan ke apartemen barunya.

Teriakan Ibunya segera saja datang: "Kau perempuan sialan!"

Caitline menghindar tepat pada waktunya, ketika Ibunya melempar sebuah buku ke wajahnya. Buku itu melayang melewatinya, dan menghantam dinding.

Sebelum Caitlin bisa berbicara, ibunya menyerang - kukunya, ditujukan tepat ke wajahnya.

Caitlin mengulurkan tangan dan menangkap pergelangan tangannya tepat pada waktunya. Ia terbelit dengan Ibunya, ke arah belakang dan depan.

Caitlin bisa merasakan kekuatan barunya bergelombang melalui pembuluh darahnya, dan ia merasa bahwa ia bisa melempar ibunya ke seberang ruangan bahkan tanpa berusaha. Tapi ia menghendaki dirinya untuk mengendalikannya, dan ia mendorong liburnya, namun hanya cukup keras untuk mengirimkannya ke atas sofa.

Ibunya, di sofa, tiba-tiba meledak dalam tangisan. Dia duduk di sana, terisak.

"Itu adalah salahmu!" teriaknya dia antara isakannya.

"Apa yang salah denganmu?" Caitlin balas berteriak, benar-benar tanpa perlindungan, tidak mempunyai gagasan apa yang sedang terjadi. Bahkan bagi Ibunya, ini adalah tingkah laku yang gila.

“Sam.”

Ibunya mengeluarkan selembar kertas catatan.

Jantung Caitlin berdegup ketika ia mengambilnya, sebuah perasaan ngeri membasahi seluruh dirinya. Apapun itu, ia tahu itu bukan hal yang bagus.

"Dia pergi!"

Caitlin mengamati catatan tulisan tangan itu. Ia tidak benar-benar konsentrasi ketika ia membaca, hanya mengambil penggalan kata - kabur...tidak ingin berada di sini...kembali dengan teman-temanku...jangan coba mencariku.

Tangannya gemetar. Sam telah melakukannya. Dia benar-benar pergi. Dan dia bahkan tidak menunggunya. Bahkan tidak menunggu untuk mengatakan perpisahan.

"Itu karena kau!" maki Ibunya.

Sebagian diri Caitlin tidak dapat memercayainya. Ia berlari menyusuri apartemen itu, membuka pintu kamar Sam, setengah mengharapkan menemukan dia di sana.

Tapi kamar itu kosong. Bersih. Tidak satu benda pun tersisa. Sam tidak pernah meninggalkan kamarnya sebersih ini. Itu sungguhan. Dia sudah pergi.

Caitlin merasakan kemarahan naik ke tenggorokannya. Ia tidak bisa menahan perasaan bahwa saat ini Ibunya benar, bahwa ini adalah kesalahannya. Sam telah bertanya padanya. Dan ia telah berkata, "Pergi."

Pergi. Mengapa dia harus mengatakan hal itu? Ia berencana untuk meminta maaf, menariknya kembali, tapi dia telah pergi ketika ia bangun. Ia baru akan berbicara padanya ketika ia pulang hari ini. Tapi sekarang sudah terlambat.

Ia tahu ke mana dia pergi. Hanya ada satu tempat yang ingin dia datangi: kota terakhir mereka. Dia akan baik-baik saja. Lebih bauk, mungkin, dibandingkan dia berada di sini. Dia punya teman di sana. Semakin memikirkannya, semakin berkurang kekhawatirannya. Faktanya, ia bahagia untuknya. Dia akhirnya melakukannya. Dan ia tahu cara untuk melacaknya.

Tapi ia akan berurusan dengan hal ini nanti. Ia melirik jam tangannya dan menyadari ia terlambat. Ia berlari menuju kamarnya, segera menyambar pakaian dan sepatu terbaik yang ia miliki, dan melemparkannya semua dalam sebuah tas olahraga. Ia harus pergi tanpa riasan. Tidak ada waktu.

"Mengapa kau harus menghancurkan semua yang kau sentuh?" teriak Ibunya, sekarang tepat di belakangnya. "Aku seharusnya tidak pernah mengadopsimu!"

Caitlin balas memandang, terkejut.

"Apa yang kau katakan!?"

"Itu benar," lanjut Ibunya. "Aku mengadopsimu. Kau bukan anakku. Kau tidak pernah menjadi anakku. Kau adalah anaknya. Kau bukan anak perempuanku yang sebenarnya. Apa kau dengar!? Aku malu memilikimu sebagai seorang anak perempuan!"

Caitlin bisa melihat kebencian di mata hitamnya. Ia tidak pernah melihat Ibunya marah besar seperti ini. Matanya menyimpan rasa membunuh.

"Mengapa kau harus menyingkirkan satu-satunya hal yang indah dalam hidupku!?" Ibunya berteriak.

Kali ini Ibunya menyerangnya dengan kedua tangan terulur di depan, dan mengarah tepat ke lehernya. Sebelum Caitlin dapat bereaksi, ia telah dicekik. Dengan kuat.

Caitlin berjuang untuk bernapas. Tapi cengkraman Ibunya sangat kuat. Benar-benar bermaksud membunuh.

Amarah melanda Caitlin, dan kali ini ia tidak dapat menghentikannya. Ia bisa merasakan rasa panas yang familier, dimulai di ujung jari kakinya, dan menjalar ke atas menuju lengan dan bahunya. Ia membiarkan amarah menyelimutinya. Ketika hal itu terjadi, otot-otot dalam lehernya menggembung. Tanpa melakukan apapun, cengkraman Ibunya melonggar.

Ibunya pasti telah melihat perubahan itu dimulai, karena tiba-tiba dia terlihat takut. Caitlin mengempaskan kepalanya ke belakang dan meraung. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ibunya melepaskan cengkramannya, dan mengambil satu langkah mundur dan menatapnya, mulutnya ternganga.

Caitlin menggapai dengan satu tangan dan mendorongnya, dan dia melayang ke belakang dengan semacam kekuatan yang melemparkannya melewati dinding, menghancurkannya dengan sebuah pukulan, dan menuju ruangan lainnya. Dia terus melaju, menubruk ke dinding lainnya, dan jatuh, tidak sadarkan diri.

Caitlin terengah-engah, mencoba untuk melihat dengan jelas. Ia memeriksa apartemen itu, bertanya pada dirinya sendiri apakah ada benda lain yang ingin ia bawa. Ia tahu ada sesuatu, tapi ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Ia meraih tas olahraga berisi pakaian, dan berjalan keluar dari kamarnya, melalui puing-puing, melewati ibunya.

Ibunya terbaring di sana, merintih, telah mulai duduk.

Caitlin terus berjalan, keluar dari apartemen.

Itu adalah terakhir kalinya, ia bersumpah, ia akan menjumpainya lagi.

Bab Lima

Caitlin berjalan dengan cepat dalam bulan Maret yang dingin menuju ke sisi jalan, jantungnya masih berdegup akibat peristiwa dengan ibunya. Hawa dingin menyengat wajahnya, dan terasa nyaman. Menenangkan. Ia mengambil napas dalam-dalam, dan merasa bebas. Ia tidak akan pernah kembali ke apartemen itu lagi, tidak pernah menelusuri kembali langkah-langkah kotor itu. Tidak pernah harus melihat lingkungan ini. Dan tidak perlu melangkahkan kaki ke sekolah itu. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi, tapi setidaknya jauh dari sini.

Caitlin mencapai jalan dan mendongak, mencari taksi kosong. Setelah satu menit atau lebih menunggu, ia menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkannya. Kereta bawah tanah adalah satu-satunya pilihan.

Caitlin berjalan menuju stasiun Jalan no.135. Ia tidak pernah naik kereta bawah tanah Kota New York sebelumnya. She wasn’t really sure which line to take, or where to get off, and this was the worst time to experiment. She dreaded what she might encounter down in the station on a cold, March night—especially in this neighborhood.

She descended the graffiti-lined steps and approached the booth. Untungnya, ada petugasnya.

"Saya harus pergi ke Columbus Circle," kata Caitlin.

Petugas gemuk di belakang konter kaca itu mengabaikannya.

"Permisi," kata Caitlin, "tapi saya harus -"

"Aku bilang di peron!" tukas wanita itu.

"Tidak, Anda tidak mengatakannya," jawab Caitlin. "Anda tidak mengatakan apapun!"

Petugas itu mengabaikannya lagi.

"Berapa harganya?"

"Dua lima puluh," tukas petugas itu.

Caitlin merogoh dompetnya dan mengeluarkan tiga lemabaran dolar yang lecek. Dia mengangsurkannya di bawah kaca.

Petugas itu, masih mengabaikannya, mengangsurkan kartu Metro.

Caitlin menggesekkan kertu dan memasuki sistem.

Peron itu temaram, hanpir kosong. Dua orang tunawisma menempati bangku, terbungkus selimut. Yang satu tidur, tapi yang lain memandangi ia ketika ia berjalan. Dia mulai menggumam. Caitlin berjalan lebih cepat.

Ia menuju ke ujung peron dan mencondongkan tubuh, mencari-cari kereta. Tidak ada.

Ayolah. Ayolah.

Ia melirik jam tangannya lagi. Sudah terlambat lima menit. Ia bertanya-tanya berapa lama lagi ia harus menunggu. Ia bertanya-tanya apakah Jonah sudah pergi. Ia tidak bisa menyalahkan dia.

Ia menyadari sesuatu bergerak dengan cepat di sudut matanya. Ia berpaling. Tidak ada.

Ketika ia melihat lebih dekat, ia rasa ia melihat sebuah bayangan merayap di sepanjang lantai putih itu, dinding linoleum, kemudian menyelinap ke dalam jalur kereta api. Ia merasa seolah-olah ia sedang diawasi.

Tapi ia mencari lagi dan tidak melihat apapun.

Aku pasti melihat sesuatu.

Caitlin berjalan mendekati peta kereta bawah tanah yang besar. Peta itu tergores dan robek serta tertutup grafiti, tapi ia masih bisa melihat jalur kereta bawah tanah. Paling tidak ia ada di tempat yang benar. Kereta itu seharusnya membawanya tepat menuju Columbus Circle. Ia mulai merasa sedikit lebih baik.

"Kau tersesat, sayang?"

Caitlin berpaling dan melihat seorang pria hitam besar berdiri di depannya. Dia tidak bercukur, dan ketika dia menyeringai, ia melihat bahwa giginya hilang. Dia membungkuk terlalu dekat, dan ia bisa mencium bau napas yang mengerikan. Mabuk.

Ia mengelak dari dia dan berjalan beberapa meter jauhnya.

"Hei jalang, aku bicara padamu!"

Caitlin terus berjalan.

Pria itu tampak tinggi, dan ia terhuyung-huyung dan bergoyang saat ia perlahan-lahan menuju ke arahnya. Tapi Caitlin berjalan jauh lebih cepat, dan itu adalah sebuah peron yang panjang, sehingga masih ada jarak di antara mereka. Ia benar-benar ingin menghindari konfrontasi lain. Tidak di sini. Tidak sekarang.

Dia semakin mendekat. Ia bertanya-tanya berapa lama kereta itu akan sampai ia tidak punya pilihan selain menghadapinya. Tolong, Tuhan, keluarkan aku dari sini.

Saat itu, suara memekakkan telinga memenuhi stasiun, dan kereta tiba-tiba datang. Terima kasih, Tuhan.

Ia naik, dan menyaksikan dengan kepuasan ketika pintu tertutup di depan pria itu. Dalam keadaan mabuk, dia mengutuk dan menggedor pintu logam.

Kereta berangkat, dan saat itu dia tidak dia tampak kabur. Ia sedang dalam perjalanan keluar dari lingkungan ini. Dalam perjalanan menuju kehidupan baru.

*

Caitlin keluar di Columbus Circle dan berjalan dengan langkah cepat. Ia memeriksa jamnya lagi Ia terlambat 20 menit. Ia menelan ludah

Tolong tetap di sana. Tolong jangan pergi. Tolong.

Saat ia berjalan, hanya beberapa blok jauhnya, ia tiba-tiba merasakan sengatan di perutnya. Ia berhenti, terkejut dengan rasa sakit yang hebat.

Ia membungkuk, mencengkeram perutnya, tak bisa bergerak. Ia bertanya-tanya apakah orang-orang menatapnya, tapi ia terlalu sakit untuk peduli. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ia berusaha untuk bernapas.

Orang-orang berlalu dengan cepat di kedua sisi, tapi tidak ada yang berhenti untuk memeriksa apakah ia baik-baik saja.

Setelah sekitar satu menit, ia akhirnya, perlahan-lahan, kembali berdiri. Rasa sakit itu mulai mereda.

Ia menarik napas dalam, bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi.

Ia mulai berjalan lagi, menuju ke arah kafe. Tapi ia sekarang merasa benar-benar bingung. Dan sesuatu yang lain....Rasa lapar. Itu bukan rasa lapar yang normal, tapi haus tak terpadamkan yang mendalam. Ketika seorang wanita berjalan melewatinya, berjalan dengan anjingnya, Caitlin melihat dirinya berbalik dan menatap hewan itu. Ia mendapati dirinya menjulurkan lehernya dan memperhatikan hewan itu berjalan melewatinya, dan menatap lehernya.

Yang mengejutkan, ia bisa melihat rincian pembuluh darah pada kulit anjing itu, darah mengalir melewatinya. Ia mengamati detak jantung melalui darah, dan ia merasakan sensasi mati rasa dan tumpul di giginya sendiri. Ia ingin darah anjing itu.

Seolah-olah merasakan dirinya sendiri diawasi, anjing itu berpaling sambil berjalan, dan menatap dengan ketakutan pada Caitlin. Anjing itu menggeram, dan lari. Pemilik anjing berbalik dan menatap Caitlin, tidak mengerti.

Caitlin terus berjalan. Ia tidak bisa mengerti apa yang terjadi padanya. Ia menyukai anjing. Ia tidak pernah ingin menyakiti binatang, apalagi lalat. Apa yang terjadi padanya?

Rasa lapar itu hilang secepat rasa itu datang, dan Caitlin merasakan dirinya kembali normal. Ketika ia berbelok di ujung jalan, kafe itu mulai terlihat, dan ia mempercepat langkahnya, terengah-engah, dan hampir merasakan dirinya sendiri lagi. Ia memeriksa jamnya. Terlambat 30 menit. Ia berdoa semoga dia ada di sana.

Ia membuka pintu. Jantungnya berdebar-debar, kali ini bukan dari rasa sakit, tapi dari rasa takut bahwa Jonah akan pergi.

Caitlin dengan cepat mengamati tempat itu. Ia berjalan dengan cepat, kehabisan napas, dan sudah merasa mencolok. Ia bisa merasakan semua mata pada dirinya, dan mengamati deretan pengunjung di sebelah kiri, dan di sebelah kanannya. Tapi tidak ada tanda-tanda Jonah. Hatinya mencelos. Dia pasti telah pergi.

“Caitlin?”

Caitlin memutar tubuhnya. Di sana, tersenyum, berdirilah Jonah. Ia merasakan hatinya membengkak dengan sukacita.

"Maafkan aku," katanya terburu-burur. "Aku biasanya tidak pernah terlambat. Aku hanya - hanya -"

"Tidak apa," kata Jonah, dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Caitlin. "Jangan khawatir tentang itu, sungguh. Aku hanya senang kau baik-baik saja," tambahnya.

Ia memandangi mata hijaunya yang tersenyum, terbingkai oleh wajah yang masih memar dan bengkak, dan untuk pertama kalinya pada hari itu, ia merasa damai. Ia merasakan bahwa semua hal bisa baik-baik saja.

"Satu-satunya masalah adalah, kita tidak punya banyak waktu jika kita ingin melihat konser itu," ujarnya. "Kita hanya terlambat sekitar lima menit. Jadi aku rasa kita akan minum kopi itu lain waktu."

"Tidak apa," katanya. "Aku hanya sangat gembira kita tidak melewatkan konser itu juga. Aku merasa seperti seorang -"

Caitlin tiba-tiba melihat ke bawah dan merasa ngeri menyadari bahwa ia masih mengenakan pakaian biasa. Ia masih memegangi tas olahraganya yang berisi pakaian dan sepatu terbaiknya. Ia bermaksud sampai di kafe lebih awal, menyelinap ke kamar mandi, berganti pakaian yang bagus, dan siap untuk bertemu Jonah. Sekarang ia berdiri di sana, berhadapan dengannya, berpakaian seperti orang yang sembrono, dan menggenggam tas olahraga. Pipinya memerah. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Jonah, aku sangat menyesal aku berpakaian seperti ini," katanya. "Aku bermaksud untuk ganti baju sebelum aku datang, tetapi ... Apakah kau mengatakan bahwa kita memiliki waktu lima menit?"

Dia melihat jam tangannya, kilatan keprihatinan melintasi wajahnya.

"Ya, tapi -"

"Aku akan segera kembali," katanya, dan sebelum dia bisa menjawab, ia berlari melalui restoran, menuju kamar mandi.

Caitlin menghambur ke kamar mandi dan menguncinya di belakangnya. Ia menarik lepas tas olahraga dan menarik keluar semua pakaian bagusnya, yang kini kusut. Ia melepaskan pakaian dan sepatu kets, dan cepat-cepat memakai rok beludru hitam, dan blus sutra putih. Ia juga mengambil anting-anting berlian imitasi dan memakainya. Harganya memang murah, tapi cocok. Ia merampungkan pakaiaan itu dengan sepatu bertumit tinggi hitam.

Ia berkaca. Ia agak sedikit kusut, tidak seburuk yang ia bayangkan. Blusnya sedikit terbuka menunjukkan salib perak kecil yang masih ia kenakan di lehernya. Ia tidak punya waktu untuk riasan, tapi setidaknya ia berdandan. Ia dengan cepat mengangsurkan tangannya di air dan mengusap rambutnya, menempatkan beberapa helai pada tempatnya. Ia melengkapi dandanannya dengan tas tangan kulit hitamnya.

Ia baru saja hendak bergegas keluar, ketika ia menyadari timbunan baju lama dan sepatu ketsnya. Ia termangu, bimbang. Ia sungguh-sungguh tidak ingin membawa baju-baju itu bersamanya di penghujung malam itu. Sesungguhnya, ia bahkan tidak pernah ingin mengenakan baju-baju itu lagi.

Ia mengambil semua bajunya dalam sebuah gumpulan, dan dengan sangat puas ia menjejalkannya ke dalam tong sampah di pojok ruang itu. Kini ia mengenakan satu-satunya pakaiannya yang tersisa di dunia.

Ia merasa senang berjalan menuju hidup barunya dengan berpakaian seperti ini.

Jonah menunggunya di luar kafe, mengetukkan kakinya, melirik jam tangannya. Ketika ia membuka pintu, dia berputar, dan ketika dia melihatnya, berpakaian rapi, dia membeku. Dia memandanginya, tidak dapat berkata apa-apa.

Caitlin tidak pernah melihat seorang laki-laki memandanginya seperti itu sebelumnya. Ia tidak pernah benar-benar merasakan dirinya menarik. Cara Jonah memandanginya membuatnya merasa...spesial. Itu membuatnya merasa, untuk pertama kalinya, seperti seorang wanita.

"Kau...terlihat cantik," katanya dengan lembut.

"Terima kasih," ujarnya. Kau juga tampan, ia ingin menjawab, tapi ia menahannya.

Dengan kepercayaan diri yang baru ditemukannya, ia berjalan bersamanya, menyelipkan tangannya ke dalam lengan Jonah, dan dengan lembut membimbing menuju Carnegie Hall. Dia berjalan bersamanya, mempercepat langkah, meletakkan tangannya yang bebas di atas tangannya.

Rasanya nyaman berada dalam lengan laki-laki. Meskipun segala sesuatu yang telah terjadi hari itu, dan hari sebelumnya, Caitlin kini merasa seolah-olah ia sedang berjalan di udara.

Bab Enam

Carnegie Hall benar-benar penuh sesak. Jonah memimpin jalan karena mereka berjuang melalui kerumunan padat, menuju Will Call. Tidak mudah untuk menuju ke sana. Itu adalah kerumunan antrian orang kaya, dan semua orang tampak seperti mereka sedang terburu-buru untuk menghadiri konser. Ia tidak pernah melihat begitu banyak orang berpakaian bagus dalam satu tempat. Sebagian besar laki-laki mengenakan dasi hitam, dan para wanita mengenakan gaun malam panjang. Perhiasan berkilauan di mana-mana. Menyenangkan.

Jonah mendapat tiket dan membawanya menaiki tangga. Dia menyerahkan tiket pada penerima tamu, yang merobeknya dan menyerahkan kembali potongannya.

"Bolehkan aku menyimpan salah satunya?" tanya Caitlin, ketika Jonah akan memasukkan kedua potongan tiket itu ke dalam sakunya.

"Tentu saja," katanya, menyerahkan satu padanya.

Ia mengusap dengan ibu jarinya.

"Aku suka menyimpan hal-hal seperti ini," tambahnya, tersipu. "Sentimental, kurasa."

Jonah tersenyum, saat ia memasukkan ke saku depannya.

Mereka diarahkan oleh seorang petugas menyusuri lorong mewah dengan karpet merah yang tebal. Bingkai foto artis dan penyanyi berjajar di dinding.

"Jadi, bagaimana kau mendapatkan tiket gratis?" tanya Caitlin.

"Guru biolaku," jawabnya. "Dia punya tiket musiman. Dia tidak bisa datang malam ini, jadi dia berikan padaku. Aku harap itu tidak menjadi masalah karena aku tidak membayar tiket itu sendiri," tambahnya.

Ia memandanginya, bingung.

"Kencan kita," jawabnya.

"Tentu tidak," ujarnya. "Kau membawaku ke sini. Itu saja yang penting. Ini mengagumkan."

Caitlin dan Jonah diarahkan oleh penerima tamu lain ke sebuah pintu kecil, yang terbuka langsung ke ruang konser. Ruangan itu tinggi, mungkin 50 kaki, dan di daerah kotak kecil mereka hanya ada 10 atau 15 kursi. Kursi mereka berada tepat di tepi balkon, setinggi pembatasnya.

Jonah membuka kursi besar mewah untuknya, dan ia menatap kerumunan besar dan pada semua pemain. Itu adalah tempat yang elegan di mana ia pernah berada. Ia memandang lautan rambut kelabu, dan ia merasa 50 tahun terlalu muda untuk berada di sini. Tapi gembira di waktu yang sama.

Jonah duduk, dan siku mereka bersentuhan, dan ia merasakan sensasi kehangatan tubuhnya di sampingnya. Ketika mereka duduk di sana, menunggu, ia ingin meraih dan memegang tangannya, dan menggenggamnya. Tapi ia tidak ingin mengambil risiko dengan menjadi terlalu berani. Jadi ia duduk di sana, berharap bahwa dia akan mengulurkan tangan dan memegang tangannya. Dia tidak bergerak. Itu terlalu dini. Dan mungkin dia malu.

Sebaliknya, ia menunjuk, membungkuk ke pembatas.

"Pemain biola terbaik duduk paling dekat dengan bibir panggung," katanya, menunjuk. "Wanita yang ada di sana itu adalah salah satu yang terbaik di dunia."

"Pernahkan kau main di sini?" Tanya Caitlin.

Jonah tertawa. "Aku harap begitu," katanya. "Aula ini hanya 50 blok jauhnya dari kita, tapi mungkin juga menjadi planet yang jauh dalam hal bakat. Mungkin suatu hari," tambahnya.

Ia menatap panggung, pada ratusan pemain yang menyetel alat musik mereka. Mereka semua mengenakan dasi hitam, dan mereka semua tampak begitu serius, begitu terfokus. Di depan dinding belakang berdiri sebuah paduan suara besar.

Tiba-tiba, seorang pemuda, mungkin 20, dengan rambut panjang hitam yang tergerai, mengenakan tuksedo, melangkah dengan bangga ke panggung. Ia mengambil jalan pintas melewati lorong para pemain, menuju ke tengah. Ketika dia melakukannya, seluruh penonton bangkit berdiri dan bertepuk tangan.

"Siapa dia?" tanya Caitlin.

Dia sampai di tengah dan membungkuk berulang-ulang, tersenyum. Bahkan jauh dari sini, Caitlin melihat bahwa dia menarik secara mengejutkan.

“Sergei Rakov,” jawab Jonah. "Dia adalah salah satu penyanyi terbaik di dunia."

"Tapi dia kelihatan begitu muda."

"Itu bukan tentang umur, tapi ini tentang bakat." jawab Jonah. "Ada bakat, dan kemudian ada bakat. Untuk mendapatkan bakat semacam itu, kau harus terlahir dengan bakat itu - dan kau benar-benar harus berlatih. Bukan empat jam sehari, tapi delapan jam sehari. Setiap hari. Aku akan melakukannya jika bisa, tapi ayahku tidak mengijinkan."

"Kenapa tidak?"

"Dia tidak ingin biola menjadi satu-satunya hal dalam hidupku."

Ia bisa mendengar kekecewaan dalam suaranya.

Akhirnya, tepuk tangan mulai berhenti.

"Mereka memainkan Simfoni ke Sembilan Beethoven malam ini," kata Jonah. "Itu mungkin lagunya yang paling terkenal. Pernahkah kau mendengar itu sebelumnya?"

Caitlin menggelengkan kepalanya, merasa bodoh. Ia punya kelas musik klasik dulu di kelas sembilan, tapi ia hampir tidak mendengarkan kata gurunya. Ia tidak benar-benar memahaminya, dan mereka baru saja pindah, dan pikirannya sudah di tempat lain. Sekarang ia berharap dirinya dulu mau mendengarkan.

"Ini memerlukan orkestra besar," katanya, "dan paduan suara besar. Mungkin membutuhkan lebih banyak pemain di atas panggung dari hampir setiap bagian lain musik. Sungguh menarik untuk dilihat. Itulah mengapa tempat ini begitu penuh sesak."

Ia mengamati ruangan. Ada ribuan orang di sana. Dan tidak ada kursi yang kosong.

"Simfoni ini, itu adalah karya terakhir Beethoven. Dia sekarat, dan dia tahu itu. Dia menempatkannya ke dalam musik. Itu adalah suara kematian datang." Dia berpaling padanya dan tersenyum, meminta maaf. "Maaf karena menjadi begitu tidak wajar."

"Tidak, tidak apa-apa," katanya, dan bersungguh-sungguh. Ia senang mendengar dia berbicara. Ia menyukai suaranya. Ia menyukai apa yang dia ketahui. Semua teman-temannya memiliki percakapan yang paling dangkal, dan ia ingin sesuatu yang lebih. Ia merasa beruntung bersama dengannya.

Ada begitu banyak yang ingin ia katakan kepada Jonah, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan - tapi lampu tiba-tiba redup dan keheningan menghampiri penonton. Pertanyaan itu harus menunggu. Ia bersandar dan menyemankan diri.

Ia menunduk dan yang mengejutkannya, ada tangan Jonah. Ia menaruhnya di sandaran tangan di antara mereka, telapak menghadap ke atas, mengundang tangannya. Ia mengulurkan tangan, perlahan-lahan, agar tidak tampak terlalu putus asa, dan menempatkan tangannya di dalam tangannya. Tangannya lembut dan hangat. Ia merasa tangannya meleleh di dalamnya.

Ketika orkestra mulai dan nada pertama yang dimainkan - nada merdu lembut yang menenangkan - ia merasakan gelombang kebahagiaan mengaliri seluruh tubuhnya, dan menyadari bahwa ia tidak pernah begitu bahagia. Ia melupakan semua peristiwa sehari sebelumnya. Jika ini adalah suara kematian, ia ingin mendengar lebih banyak.

*

Ketika Caitlin duduk di sana, tersesat dalam musik, bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah mendengar itu sebelumnya, bertanya-tanya berapa lama ia bisa membuat kencannya dengan Jonah bertahan, hal itu terjadi lagi. Rasa sakit itu tiba-tiba melanda. Rasa itu memukulnya di perut, seperti itu di jalan tadi, dan butuh semua kekuatan hatinya untuk mempertahankan diri dari membungkuk di depan Jonah. Ia mengertakkan gigi diam-diam, dan berusaha untuk bernapas. Ia bisa merasakan keringat keluar di dahinya.

Rasa pedih lainnya.

Kali ini ia menjerit kesakitan, hanya sedikit, cukup untuk nyaris tidak terdengar di atas musik, yang mencapai puncaknya. Jonah pasti mendengar, karena ia berpaling dan menatapnya, khawatir. Dia perlahan meletakkan tangannya di bahu Caitlin.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jonah.

Ia tidak baik-baik saja. Rasa sakit melandanya. Dan sesuatu yang lain: lapar. Ia merasa benar-benar lapar. Ia tidak pernah begitu kewalahan oleh sensasi seperti itu dalam hidupnya.

Ia melirik Jonah, dan matanya langsung mengarah ke lehernya. Ia terpaku pada denyutan dari pembuluh darahnya, mengalir seperti itu dari telinganya ke bawah menuju tenggorokannya. Ia menyaksikan denyutan itu. Ia menghitung detak jantungnya.

"Caitlin?" tanya Jonah lagi.

Hasrat itu luar biasa. Ia tahu bahwa jika ia duduk di sana bahkan untuk satu detik lagi, ia tidak akan mampu untuk mengendalikan diri. Jika dibiarkan tak terkendali, ia pasti akan membenamkan giginya ke leher Jonah.

Dengan sisa kekuatannya, Caitlin tiba-tiba berdiri dari kursinya, melewati Jonah dalam satu lompatan cepat, dan berlari menaiki tangga, menuju pintu.

Pada saat yang sama, lampu di ruang tiba-tiba terang-benderang, ketika orkestra memainkan nada terakhirnya. Istirahat. Seluruh penonton berdiri, bertepuk tangan keras.

Caitlin mencapai pintu keluar beberapa detik sebelum sekumpulan orang bisa keluar dari tempat duduk mereka.

“Caitlin!?” Jonah berteriak dari suatu tempat di belakangnya. Dia mungkin bangun dari tempat duduknya dan mengikutinya.

Ia tidak bisa membiarkan dia melihatnya seperti ini. Yang lebih penting lagi, ia tidak bisa membiarkan dia di mana saja di dekatnya. Ia merasa seperti binatang. Ia menyusuri lorong-lorong kosong Carnegie Hall, berjalan lebih cepat dan lebih cepat, ia berlari dengan sangat cepat.

Sebelum ia mengetahuinya, ia berjalan pada kecepatan yang mustahil, merobek melalui lorong berkarpet. Ia adalah binatang yang memburu mangsanya. Ia membutuhkan makanan. Ia cukup menyadari bahwa ia harus menjauhkan dirinya dari sekelompok orang itu. Cepat.

Ia menemukan pintu keluar dan menempatkan bahunya di situ. Pintu itu terkunci, tapi ia bersandar pada pintu itu dengan kekuatan yang sedemikian rupa sehingga engselnya patah.

Ia mendapati dirinya di tangga pribadi. Ia berlari menuruni tangga, melangkahi tiga sekaligus, sampai ia tiba di pintu yang lain. Ia menaruh bahunya di pintu itu juga, dan menemukan dirinya berada di sebuah lorong baru.

Lorong ini bahkan lebih eksklusif, dan lebih kosong, daripada yang lain. Bahkan dalam keremangan, ia tahu bahwa ia telah tiba di semacam daerah belakang panggung. Ia berjalan menyusuri lorong, membungkuk kesakitan karena kelaparan, dan tahu bahwa ia tidak dapat bertahan satu detik lebih lama.

Ia mengangkat telapak tangannya dan mendorongnya ke pintu pertama yang ia temukan, dan terbuka dengan satu dorongan. Itu adalah ruang ganti pribadi.

Duduk di depan cermin, mengagumi diri sendiri, adalah Sergei. Penyanyi itu. Ini pasti ruang gantinya di belakang panggung. Entah bagaimana, ia sampai ke sini.

Dia berdiri, terganggu.

"Maaf, tapi tidak ada tanda tangan sekarang," tukasnya. "Penjaga keamanan seharusnya memberitahumu. Ini adalah waktu pribadiku. Sekarang, jika kau tidak keberatan, aku harus mempersiapkan diri."

Dengan raungan parau, Caitlin melompat tepat ke tenggorokannya, menenggelamkan giginya dalam-dalam.

Dia menjerit. Tapi itu sudah terlambat.

Giginya tenggelam dalam pembuluh darahnya. Ia minum. Ia merasa darahnya mengalir melalui pembuluh darahnya, merasa hasratnya mulai puas. Itu persis seperti apa yang ia butuhkan. Dan ia tidak bisa menunggu sedetik lagi.

Sergei merosot, tak sadarkan diri, ke kursinya, Caitlin bersandar, wajah berlumuran darah, dan tersenyum. Ia telah menemukan suatu rasa baru. Dan tidak ada yang akan menghalangi jalannya lagi.

Bab Tujuh

Detektif Pembunuhan New York Grace O'Reilly membuka pintu menuju Carnegie Hall dan langsung tahu bahwa itu tidak bagus. Ia telah melihat pers di luar kendali sebelumnya, tetapi tidak pernah yang seperti ini. Para wartawan lebih dari 10, dan luar biasa agresif.

"Detektif!"

Mereka berteriak kepadanya berkali-kali saat ia masuk, ruangan itu dipenuhi dengan kilat lampu.

Ketika Grace dan detektifnya memotong melalui lobi, para wartawan nyaris tidak memberikan jalan. Pada usia 40, berotot dan tegap, dengan rambut hitam pendek dan mata yang cocok, Grace orang yang tangguh, dan digunakan untuk mendorong jalannya. Tapi kali ini, tidaklah mudah. Para wartawan tahu bahwa itu adalah cerita yang besar, dan mereka tidak akan menyerah. Ini akan membuat hidupnya jauh lebih sulit.

Seorang bintang muda internasional dibunuh di puncak ketenaran dan kehebatannya. Tepat di tengah-tengah Carnegie Hall dan tepat di tengah-tengah debut Amerikanya. Pers telah berada di sini tidak peduli, siap untuk meliput debutnya. Tanpa sedikit tersendat, berita pertunjukan ini akan terpampang di halaman surat kabar di setiap negara di dunia. Jika ia hanya terpeleset, atau jatuh, atau terkilir pergelangan kakinya, cerita hanya akan sampai di Halaman 1.

Dan sekarang ini. Terbunuh. Di tengah pertunjukan sialan itu. Tepat di ruang di mana dia menyanyi hanya beberapa menit sebelumnya. Itu hanya terlalu banyak. Pers telah meraih yang satu ini sampai lehernya dan mereka tidak akan melepaskannya.

Beberapa wartawan mendorong mikrofon ke wajahnya.

"Detektif Grant! Ada laporan bahwa Sergei dibunuh oleh binatang buas. Apa itu benar?"

Ia mengabaikan mereka sambil menyikut membuka jalannya.

"Mengapa tidak ada keamanan yang lebih baik dalam Carnegie Hall, detektif?" tanya wartawan lain.

Wartawan lain berteriak, "Ada laporan bahwa ini adalah pembunuhan berantai. Mereka menjuluki dia 'Penjagal Beethoven.' Apa Anda mempunyai komentar?"

Ketika ia sampai di belakang ruangan, ia berbalik dan menghadapi mereka.

Kerumunan menjadi sunyi.

“Penjagal Beethoven?” ulangnya. "Tidak bisakah mereka melakukan yang lebih baik dari itu?"

Sebelum mereka bisa mengajukan pertanyaan lain, ia tiba-tiba keluar dari ruangan itu.

Grace melanjutkan perjalanan menaiki tangga belakang Carnegie Hall, diapit oleh detektif nya, yang terus memberi informasi saat ia masuk. Sebenarnya, ia nyaris tidak mendengarkan. Ia lelah. Ia baru saja berusia 40 minggu lalu, dan ia tahu ia tidak seharusnya selelah ini. Tapi malam bulan Maret yang panjang sudah ia lalui, dan ia butuh istirahat. Ini adalah pembunuhan ketiga bulan ini, belum termasuk bunuh diri. Ia menginginkan cuaca hangat, sedikit pepohonan, sedikit pasir lembut di bawah kakinya. Ia menginginkan tempat di mana tidak ada yang dibunuh oleh siapa pun, di mana mereka tidak pernah berpikir untuk bunuh diri. Ia menginginkan sebuah kehidupan yang berbeda.

Ia melihat arlojinya saat ia memasuki koridor menuju belakang panggung. Pukul 1 pagi. Tanpa harus melihat, ia sudah bisa mengatakan TKP itu kotor. Mengapa mereka tidak memanggilnya ke sini sebelumnya?

Ia seharusnya menikah, seperti yang disuruh ibunya, pada usia 30 tahun. Ia memiliki seseorang. Dia tidak sempurna, tapi dia bisa melakukannya. Tapi ia mempertahankan karirnya, seperti ayahnya. Itu adalah apa yang menurutnya diinginkan ayahnya. Sekarang ayahnya sudah meninggal, dan ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang dia inginkan. Dan ia lelah. Dan sendirian.

"Tidak ada saksi mata," tukas salah seorang detektif yang berjalan di sampingnya. "Forensik mengatakan itu terjadi suatu waktu antara 22:15 - 22:28. Tidak banyak tanda-tanda perlawanan."

Grace tidak suka TKP ini. Ada terlalu banyak orang yang terlibat, sudah dan terlalu banyak orang yang berada di sini sebelumnya. Setiap gerakan yang ia lakukan akan terlihat. Dan tidak peduli pekerjaan penyelidikan hebat yang ia lakukan, penghargaan akan berakhir dicuri oleh orang lain. Ada terlalu banyak departemen yang terlibat, yang berarti terlalu banyak politik.

Ia akhirnya menerobos melewati sisa wartawan, dan memasuki area bebas rekaman, disediakan untuk hanya petugas elit. Ketika ia menuju ke lorong berikutnya, akhirnya tenang. Ia bisa berpikir lagi.

Pintu ke ruang ganti sedikit terbuka. Ia mengulurkan tangan, mengenakan sarung tangan lateks, dan dengan lembut menyodoknya terbuka lebar.

Ia telah melihat semuanya dalam 20 tahun sebagai polisi. Ia telah melihat orang-orang dibunuh dengan hampir setiap cara yang mungkin, bahkan cara yang tidak bisa ia alami dalam mimpi terburuknya. Tapi ia belum pernah melihat sesuatu seperti ini.

Bukan karena itu sangat berdarah. Bukan karena telah terjadi sejumlah kekerasan yang mengerikan. Itu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak nyata. Itu terlalu sunyi. Semua ada dalam tempat yang sempurna. Kecuali, tentu saja, tubuhnya. Dia duduk merosot ke belakang di kursinya, lehernya terluka. Dan di sana, di bawah cahaya, dua lubang yang sempurna, tepat di urat lehernya.

Tidak ada darah. Tidak ada tanda-tanda perlawanan. Tidak ada pakaian terkoyak. Tidak ada yang lain lagi. Seolah-olah kelelawar telah turun, mengisap darahnya dengan sangat bersih, kemudian terbang menjauh, tanpa menyentuh apa pun. Itu menakutkan. Dan terang-terangan menakutkan. Jika kulitnya tidak berubah putih, ia akan berpikir dia masih hidup, hanya sedang tidur siang. Ia bahkan merasa tergoda untuk menghampiri dan merasakan denyut nadinya. Tapi ia tahu itu adalah hal yang bodoh.

Sergei Rakov. Dia masih muda. Dan dari apa yang ia dengar, dia adalah bajingan yang sombong. Mungkinkah dia saat ini memiliki musuh?

Apa sih yang bisa melakukan hal ini? Ia bertanya-tanya. Seekor hewan? Seorang manusia? Semacam senjata baru? Atau dia telah melakukan hal itu pada dirinya sendiri?

"Sudut serangan mengesampingkan bunuh diri," kata Detektif Ramos, berdiri di sisinya dengan buku catatan dan, seperti biasa, membaca pikirannya.

"Aku ingin semua yang kaumiliki tentang dirinya," katanya. "Aku ingin tahu dengan siapa dia berutang uang. Aku ingin tahu siapa musuh-musuhnya - aku ingin tahu mantan pacarnya, istri masa depannya. Aku menginginkan semuanya. Dia mungkin telah membuat murka seseorang."

"Ya, bu," katanya, dan segera keluar dari ruangan itu.

Mengapa mereka memilih waktu ini tepat untuk membunuhnya? Mengapa saat istirahat? Apakah mereka mengirim semacam pesan?

Ia melangkah perlahan-lahan di ruang yang sangat berkarpet itu, berputar-putar, memandangnya dari berbagai sudut. Dia memiliki rambut panjang bergelombang hitam, dan menarik dengan mencolok, bahkan dalam kematian. Sayang sekali.

Pada saat itu, suara mendadak memenuhi ruangan. Semua petugas berbalik sekaligus. Mereka mendongak, dan melihat bahwa TV kecil di sudut telah menyala. TV itu memainkan rekaman pertunjukan malam itu. Beethiven ke-9 memenuhi ruangan itu.

Salah satu detektif mendekati TV untuk mematikannya.

"Jangan," katanya.

Detektif itu menghentikan setengah langkahnya.

"Aku ingin mendengarnya."

Ia berdiri di sana, memandangi Sergei, sebagaimana suaranya memenuhi ruangan itu. Suaranya telah hidup hanya beberapa jam sebelumnya. Menakutkan.

Grace mengitari ruangan itu sekali lagi. Kali ini ia berlutut.

"Kami telah menyusuri seluruh ruangan ini, detektif," kata petugas FBI itu, tidak sabar.

Ia menemukan sesuatu di sudut matanya. Ia mengulurkan tangan, jauh di bawah salah satu kursi berlengan yang apik. Ia menjulurkan lehernya dan memutar lengannya, dan meraba-raba semua di bawahnya.

Ia akhirnya menemukan apa yang cari. Ia berdiri, merah padam, dan mengangkat sepotong kecil kertas.

Semua detektif lain menatap kembali.

"Sebuah potongan tiket," katanya, memeriksanya dengan tangan bersarungnya. “Mezzanine Right, bangku 3. Dari konser malam ini."

Ia mendongak dan menatap tajam semua detektifnya, yang menatap kosong kembali.

"Kau pikir itu milik si pembunuh?" salah satu dari yang mengenakan masker.

"Nah, salah satu hal yang saya tahu," katanya, mengambil satu tatapan terakhir pada bintang opera Rusia yang mati. "Itu bukan miliknya."

*

Kyle berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, mondar-mandir melalui kerumunan yang padat. Dia kesal, seperti biasa. Dia membenci orang banyak, dan dia membenci Carnegie Hall. Dia telah menonton konser di sini sekali, pada tahun 1890, dan tidak berjalan dengan baik. Ia tidak melepaskan dendam dengan mudah.

Saat ia berjalan menyusuri lorong, tunik hitam berkerah tinggi menutupi lehernya dan membingkai wajahnya, orang-orang memberi jalan untuknya. Petugas, penjaga keamanan, pers - seluruh kerumunan terpisah.

Manusia terlalu mudah untuk dikendalikan, pikirnya. Sedikit saja pembengkokan pikiran, dan mereka bergegas keluar dari jalan seperti domba.

Seorang vampir dari Blacktide Coven, Kyle telah melihat semuanya dalam 3.000 tahun lebih. Dia telah berada di sana ketika mereka membunuh Kristus. Dia telah menyaksikan Revolusi Perancis. Dia telah menyaksikan cacar tersebar di Eropa - dan bahkan telah membantu menyebarkannya. Tak ada lagi yang bisa mengejutkan mereka.

Tapi malam ini mengejutkan dia. Dan dia tidak suka dikejutkan.

Biasanya, dia hanya akan membiarkannya seperti biasa, kehadirannya memaksanya berbicara sendiri, dan mendorong menerobos kerumunan. Meskipun sudah sangat tua, dia tampak muda dan tampan, dan orang-orang biasanya memberi jalan. Tapi dia tidak memiliki kesabaran untuk malam ini, terutama mengingat situasi itu. Dia telah membakar pertanyaan yang belum terjawab.

Vampir nakal macam apa akan begitu berani secara terbuka untuk membunuh manusia? Yang akan memilih untuk melakukannya dengan cara yang umum seperti itu, tanpa meninggalkan kemungkinan lain tetapi dengan tubuh yang dapat ditemukan? Itu sangat melawan setiap aturan ras mereka. Apakah kau berada di sisi baik atau buruk dari ras itu, itu adalah salah satu baris yang tidak kau sebrangi. Tidak seorang pun ingin memamerkan perhatian semacam itu terhadap ras mereka. Itu adalah pelanggaran keyakinan mereka yang dijamin hanya oleh satu hukuman: kematian. Kematian penuh siksaaan yang panjang.

Siapa yang akan begitu berani untuk mencoba hal seperti itu? Untuk menarik begitu banyak perhatian yang tidak diinginkan dari pers, politisi, polisi? Dan lebih buruk lagi, untuk melakukannya di wilayah coven-nya? Hal itu membuat coven-nya terlihat buruk - lebih buruk daripada yang buruk. Itu membuat mereka nampak kurang pertahanan. Seluruh ras vampir akan bersidang dan menahan mereka untuk diperhitungkan. Dan jika mereka tidak menemukan bajingan ini, itu bisa berarti perang sekaligus. Perang pada saat mereka tidak mampu untuk memiliki salah satunya, tepat pada saat mereka hendak melaksanakan rencana induk mereka.

Kyle berjalan melewati seorang detektif polisi wanita, dan ia bertabrakan dengannya cukup keras. Yang terutama, ia berpaling dan menatapnya. Dia terkejut. Tidak ada manusia lain dalam kerumunan ini yang mempunyai kekuatan kehendak yang bahkan memperhatikan dia. Dia pasti lebih kuat dari yang lainnya. Entah seperti itu, atau dia mulai ceroboh.

Dia menggandakan kekuatan pikirannya, mengarahkannya tepat ke arahnya. Ia akhirnya menggelengkan kepalanya, berbalik, dan terus berjalan. Dia harus mengingatnya. Dia menunduk dan melihat papan namanya. Detektif Grace Grant. Ia mungkin nantinya akan menjadi masalah.

Kyle terus menyusuri lorong, melewati lebih banyak wartawan, melewati pita pembatas itu, dan akhirnya melewati kawanan baru agen FBI. Dia berjalan menuju pintu terbuka, dan melihat ke dalam. Ruangan itu penuh dengan beberapa agen FBI yang lebih banyak. Ada juga seorang pria dalam setelan mahal. Dari perkiraanya, mata ambisius, Kyle menduga dia adalah seorang politikus.

"Kedutaan Rusia tidak senang," bentaknya kepada agen FBI yang bertanggung jawab. "Anda menyadari bahwa ini bukan hanya masalah bagi polisi New York, atau hanya untuk pemerintah Amerika. Sergei adalah bintang di antara vokalis nasional kami. Pembunuhannya harus ditafsirkan sebagai suatu pelanggaran terhadap negara kami - "

Kyle mengangkat telapak tangannya, dan menggunakan kekuatan kehendaknya, menutup mulut politisi. Dia benci mendengarkan politisi berbicara, dan dia telah mendengar lebih dari cukup dari yang satu ini. Dia benci orang Rusia juga. Dia membenci banyak hal, sebenarnya. Tapi malam ini, kebenciannya naik ke tingkat yang baru. Ketidaksabarannya mendapatkan yang terbaik dari dirinya.

Tak seorang pun di ruangan itu tampak menyadari bahwa Kyle menutup mulut politisi, bahkan politisi diri sendiri. Atau mungkin mereka bersyukur. Bagaimanapun juga, Kyle melangkah ke samping, dan menggunakan kekuatan pikirannya untuk menyarankan setiap orang meninggalkan ruangan.

"Aku mengatakan bahwa kita semua istirahat sambil minum kopi selama beberapa menit," agen FBI yang bertugas itu tiba-tiba berkata. "Menjernihkan kepala kita sedikit."

Kerumunan mengangguk setuju dan dengan cepat meninggalkan ruangan, seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar untuk dilakukan. Sebagai satu langkah terakhir, Kyle meminta mereka menutup pintu di belakang mereka. Dia benci suara-suara manusia, dan terutama tidak ingin mendengar mereka sekarang.

Kyle bernapas dalam-dalam. Akhirnya sendirian, dia bisa membiarkan pikirannya berkonsentrasi sepenuhnya pada manusia ini. Dia mendekat dan menarik ke belakang kerah Sergei, menyingkap bekas gigitan itu. Kyle mengulurkan tangan dan menempatkan dua jari dingin yang pucat atasnya. Dia memegangnya dan memperkirakan jarak di antaranya.

Sebuah rentang gigitan yang lebih kecil dari yang dia sangka. Itu adalah wanita. Vampir bajingan itu adalah perempuan. Dan muda. Giginya tidak sedalam itu.

Dia menempatkan jari-jarinya kembali di atas gigitan itu dan memejamkan mata. Dia mencoba untuk merasakan sifat darah, sifat vampir yang melakukan gigitan tersebut. Akhirnya, dia membuka matanya dengan lebar karena terkejut. Dia menarik tangannya dengan cepat. Dia tidak menyukai apa yang dia rasakan. Dia tidak bisa mengenalinya. Itu pasti seorang vampir bajingan. Bukan dari klannya, atau dari Klan apapun yang dia tahu. Lebih merisaukan, dia tidak bisa mendeteksi jenis vampir itu sama sekali. Dalam 3.000 tahunnya, ini tidak pernah terjadi padanya sebelumnya.

Dia mengangkat jari-jarinya, dan mencicipi mereka. Aromanya meliputi dia. Biasanya, itu saja sudah cukup - dia tahu persis di mana untuk menemukannya. Tapi tetap saja, dia bingung. Sesuatu menutupi penglihatannya.

Dia mengerutkan kening. Mereka tidak punya pilihan dalam hal ini. Mereka akan harus bergantung pada polisi manusia untuk menemukannya. Atasannya tidak akan senang.

Kyle bahkan lebih jengkel dari sebelumnya, kalau bisa. Dia menatap Sergei, dan memperdebatkan apa yang harus dilakukan dengannya. Dalam waktu beberapa jam dia akan terjaga, vampir tanpa klan lain yang lepas. Dia bisa membunuhnya sekarang, untuk selamanya, dan segera menyelesaikannya. Dia benar-benar akan sangat menikmati itu. Ras vampir hampir tidak membutuhkan tambahan baru.

Tapi itu akan menjadi memberikan Sergei hadiah yang besar. Dia tidak akan menderita keabadian, menderita ribuan tahun hidup dan putus asa. Malam yang tak berujung. Tidak, itu akan terlalu baik. Sebaliknya, mengapa tidak membuat Sergei menderita bersama dengan dia?

Dia memikirkan tentang hal itu. Seorang penyanyi opera. Ya. Covennya akan sangat menikmati hal itu. Anak kecil Rusia ini bisa menghibur mereka setiap kali mereka merasa seperti itu. Dia akan membawanya kembali. Mengubahnya. Dan masih belum kaki tangan lain yang dimilikinya.

Selain itu, Sergei bisa membantu mereka menemukannya. Aromanya sekarang mengalir dalam darahnya. Dia bisa menuntun mereka kepadanya. Dan kemudian mereka akan membuatnya menderita.

Bab Delapan

Caitlin bangun terbakar rasa sakit. Kulitnya terasa terbakar, dan ketika ia mencoba membuka matanya, rasa sakit menusuk memaksa matanya menutup. Rasa itu meledak ke dalam tengkoraknya.

Ia tetap menutup matanya, dan sebaliknya menggunakan tangannya untuk meraba ke sekelilingnya. Ia berbaring di atas sesuatu. Itu terasa lunak, tidak keras. Tidak padat. Itu tidak mungkin sebuah matras. Ia menelusurkan jarinya di sepanjang benda itu. Itu terasa seperti plastik.

Caitlin membuka matanya, lebih perlahan kali ini, dan mengintip ke bawah tangannya. Plastik. Plastik hitam. Dan bau itu. Bau apa itu? Ia memalingkan kepalanya sedikit saja, membuka matanya sedikit lagi, dan kemudian ia menyadari. Ia tergeletak, terlentang, di atas tumpukan kantong sampah. Ia menjulurkan lehernya. Ia berada di dalam tempat sampah.

Ia duduk dengan kaget. Rasa sakit meledak, leher dan kepalanya terbelah rasa sakit. Baunya tak tertahankan. Ia melihat sekeliling, matanya terbuka sekarang, dan merasa ngeri. Bagaimana sih ia berakhir di sini?

Ia mengusap dahinya, mencoba untuk mengumpulkan peristiwa yang membuatnya berada di sini. Ia merasa hampa. Ia mencoba mengingat kemarin malam. Ia menggunakan seluruh kekuatan kehendaknya untuk memanggilnya kembali. Perlahan-lahan, ingatan itu datang...

Pertengkaran dengan ibunya. Kereta bawah tanah. Bertemu Jonah. Carnegie Hall. Konser. Lalu....lalu....

Rasa lapar. Hasrat. Ya, hasrat. Meninggalkan Jonah. Bergegas keluar. Menyusuri lorong-lorong. Lalu... Kosong. Tidak ada.

Ke mana ia pergi? Apa yang sudah ia lakukan? Dan bagaimana caranya ia berakhir di sini? Apakah Jonah membiusnya? Apakah dia mengakalinya, lalu menitipkannya di sini?

Sepertinya tidak seperti itu. Ia tidak bisa membayangkan dia sejenis itu. Dalam ingatan terakhirnya, menyusuri lorong, ia sendirian. Ia telah meninggalkan dia jauh di belakang. Tidak. Itu tidak mungkin dia.

Lantas apa?

Caitlin berlutut perlahan pada sampah, salah satu kakinya tergelincir di antara dua kantung, saat ia tenggelam lebih jauh ke dalam lubang. Ia menyentakkan kakinya dengan cepat dan menemukan sejumlah pijakan yang kuat, botol-botol plastik berderak lantang.

Ia mendongak dan melihat bahwa tutup logam tong itu terbuka. Apakah ia membukanya tadi malam dan naik ke sini? Mengapa ia harus melakukan hal itu? Ia mengulurkan tangan dan hanya nyaris mencengkeram batang logam di bagian atas. Ia khawatir ia tidak akan cukup kuat untuk menarik diri dan keluar.

Tapi ia mencoba, dan terkejut menemukan bahwa ia menarik dirinya keluar dengan mudah: satu gerakan lemah gemulai, dan ia mengayunkan kakinya ke samping, turun ke bawah beberapa meter dan mendarat di semen. Yang mengejutkan, ia mendarat dengan kelincahan yang hebat, guncangan nyaris tidak menyakitinya sama sekali. Apa yang telah terjadi padanya?

Tepat ketika Caitlin mendarat di trotoar Kota New York, pasangan berpakaian rapi telah berjalan melewatinya. Ia mengejutkan mereka. Mereka berpaling dan menatap, malu, yang tidak tampak memahami mengapa seorang gadis remaja tiba-tiba melompat keluar dari tempat sampah besar. Mereka memberinya ekspresi yang paling aneh, kemudian menggandakan kecepatan mereka, bergegas supaya berada sejauh mungkin darinya.

Caitlin tidak menyalahkan mereka. Ia mungkin akan melakukan hal yang sama. Ia memandangi dirinya sendiri, masih mengenakan pakaian koktailnya sejak semalam, pakaiannya benar-benar kotor dan tertutup sampah. Ia bau. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menyekanya.

Sementara ia berada di sana, ia mengulurkan tangannya dengan segera ke seluruh tubuh dan sakunya. Tidak ada telepon. Pikirannya berpacu, saat ia mencoba mengingat apakah ia telah mengambilnya dari apartemen.

Tidak. Ia telah meninggalkannya di apartemennya, di kamarnya, di sudut mejanya. Ia bermaksud untuk mengambilnya, tapi sudah begitu bingung oleh ibunya bahwa ia akan meninggalkannya. Sial. Ia juga meninggalkan buku hariannya. Ia membutuhkan keduanya. Dan ia perlu mandi, dan mengganti pakaian.

Caitlin menunduk ke pergelangan tangannya, tapi arlojinya telah hilang. Ia pasti menghilangkannya di suatu tempat pada malam itu. Ia melangkah keluar dari gang, ke trotoar yang sibuk, dan sinar matahari langsung memukulnya di wajah. Nyeri terpancar melalui dahinya.

Ia dengan cepat melangkah kembali ke tempat teduh. Ia tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Untungnya, itu adalah penghujung siang hari. Mudah-mudahan hangover ini, atau apa pun itu, akan berlalu dengan cepat.

Ia mencoba berpikir. Ke mana ia pergi? Ia ingin menelpon Jonah. Itu gila, karena ia nyaris tidak mengenalnya. Dan setelah tadi malam, apa pun yang ia lakukan, ia sangat yakin dia tidak akan pernah ingin melihatnya lagi. Tapi, tetap saja, dia adalah orang pertama yang terlintas dalam benaknya. Ia ingin mendengar suaranya, bersama dengannya. Jika tidak ada yang lain, ia membutuhkan dia untuk mengingatkannya atas apa yang telah terjadi. Ia sangat ingin berbicara dengannya. Ia membutuhkan ponselnya.

Ia akan pulang untuk terakhir kalinya, mengambil ponsel dan buku harian, lalu pergi. Ia berdoa semoga Ibunya tidak sedang di rumah. Mungkin, kali ini saja, keberuntungan akan berada di pihaknya.

*

Caitlin berdiri di luar gedung dan mendongak dengan cemas. Matahari sudah terbenam sekarang, dan sinar matahari tidak lagi mengganggunya. Sesungguhnya, ketika malam mendekat, ia merasa lebih kuat seiring dengan berlalunya waktu.

Ia menaiki lima anak tangga dengan secepat kilat, mengejutkan dirinya sendiri. Ia mengambil tiga langkah sekaligus, dan kakinya bahkan tidak terasa lelah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada tubuhnya. Apapun itu, ia menyukainya.

Suasana hatinya yang baik meredup saat ia mendekati pintu apartemennya. Jantungnya mulai berdebar, saat ia bertanya-tanya apakah ibunya ada di rumah. Bagaimana reaksinya?

Tapi saat ia meraih gagang pintu, ia terkejut melihat bahwa pintu sudah terbuka, sedikit terbuka. Firasat buruknya meningkat. Mengapa pintu itu terbuka?

Caitlin berjalan ragu-ragu masuk ke apartemen, kayu berderit di bawah kakinya. Ia perlahan melangkah melalui lobi dan masuk ke ruang tamu.

Saat ia masuk ia berpaling - dan tiba-tiba mengangkat tangannya ke mulutnya karena terkejut. Gelombang mual mengerikan melandanya. Ia berpaling dan muntah.

Itu adalah Ibunya. Terbaring di sana, tergeletak di atas lantai, dengan mata terbuka. Meninggal. Ibunya. Meninggal. Tapi bagaimana?

Darah mengalir dari lehernya, dan terkumpul dalam dalam genangan kecil di lantai. Tidak mungkin ia bisa melakukannya sendiri. Dia telah dibunuh. Dibunuh. Tapi bagaimana? Oleh siapa? Sebesar apapun ia membenci ibunya, ia tidak akan pernah ingin dia berakhir seperti ini.

Darahnya masih segar, dan Caitlin tiba-tiba menyadari bahwa itu pasti baru saja terjadi. Pintu yang terbuka. Apakah seseorang menerobos masuk?

Ia tiba-tiba berputar, mencari di sekelilingnya, merasakan rambut di bagian belakang lehernya berdiri. Apakah ada orang lain di apartemen itu?

Seolah-olah untuk menjawab pertanyaan diamnya, pada saat itu, tiga orang, berpakaian hitam dari kepala sampai kaki, muncul dari ruangan lain. Mereka berjalan santai ke ruang tamu, menuju tepat pada Caitlin. Tiga orang pria. Sulit untuk mengatakan berapa usia mereka - mereka tampak awet muda - mungkin, akhir 20-an. Mereka semua berbadan tegap. Berotot. Tidak ada lemak satu ons pun di tubuh mereka. Rapi. Dan sangat, sangat pucat.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Caitlin melangkah mundur ketakutan. Suatu perasaan baru mendatangi dirinya, perasaan takut. Ia tidak mengerti bagaimana, tapi ia bisa merasakan energi orang ini. Dan itu sangat, sangat buruk.

"Jadi," kata pimpinannya, dalam gelap, suaranya menyeramkan. "Si ayam pulang ke rumah untuk bertengger."

"Siapa kau?" tanya Caitlin, membela diri. Ia mengamati ruangan untuk mencari semacam senjata. Mungkin sebuah pipa, atau pemukul. Ia mulai memikirkan jalan keluar. Jendela di belakangnya. Apakah itu mengarah ke tangga darurat?

"Justru itu pertanyaan yang ingin kami tanyakan padamu," kata sang pemimpin. "Teman manusiamu tidak mempunyai jawaban," katanya, menunjuk tubuh Ibunya. "Semoga, kau punya."

Manusia? Apa yang orang ini katakan?

Caitlin mengambil beberapa langkah ke belakang. Ia tidak memiliki banyak ruang yang tersisa. Ia hampir merapat ke dinding. Ia ingat sekarang: jendela di belakangnya memang mengarah ke tangga darurat. Ia ingat duduk di atasnya, pada hari pertama di apartemen itu. Tangga itu berkarat. Dan reyot. Tapi nampaknya bisa.

"Itu adalah santapan yang sangat bagus di Carnegie Hall," katanya. Mereka bertiga perlahan mendekatinya, masing-masing mengambil langkah maju. "Sangat dramatis."

Caitlin mencari-cari dalam ingatannya dengan putus asa.

Santapan? Mencoba sebisanya, ia benar-benar tidak punya gagasan tentang apa yang dia bicarakan.

"Mengapa saat istirahat?" tanyanya. "Pesan apa yang sedang kau coba kirimkan?"

Ia berada di depan dinding, dan tidak punya tempat tersisa lagi. Mereka mengambil langkah mendekat lagi. Ia merasa yakin meraka akan membunuhnya jika ia tidak mengatakan pada mereka apa yang mereka inginkan.

Ia berpikir sekeras mungkin. Pesan? Istirahat? Ia mengingat kembali menelusuri lorong, lorong-lorong berkarpet, menuju ruang demi ruang. Mencari. Ya, ingatan itu kembali padanya. Ada pintu terbuka. Kamar ganti. Seorang pria di dalam. Dia memandanginya. Ada ketakutan dalam matanya. Dan kemudian...

"Kau berada dalam wilayah kami," katanya, "dan kau tahu aturannya. Kau harus menjawab pertanyaan itu."

Mereka mengambil langkah mendekat lagi.

Betubrukan.

Tepat pada saat itu, pintu depan apartemen pecah terbuka, dan beberapa polisi berseragam bergegas ke dalam, dengan pistol teracung.

"Berhenti, keparat!" seorang polisi berteriak.

Ketiganya berputar dan menatap pada para polisi.

Mereka kemudian, perlahan-lahan, berjalan ke arah mereka, benar-benar tanpa takut.

"Aku bilang BERHENTI!"

Sang pemimpin tetap berjalan, dan polisi itu menembak. Suara itu memekakkan telinga.

Tapi, yang menakjubkan, pemimpin itu bahkan tidak berhenti. Dia tersenyum lebih lebar, hanya mengulurkan tangannya, dan menangkap peluru di udara. Caitlin terkejut melihat bahwa peluru itu berhenti itu di udara, di telapak tangannya. Dia kemudian mengangkat tangannya, perlahan-lahan mengepalkan tangan dan menghancurkan peluru itu. Dia membuka tangannya, dan debu perlahan disebarkan ke lantai.

Polisi juga menatap kembali dengan terkejut, mulutnya terbuka.

Sang pemimpin menyeringai lebih lebar, mengulurkan tangan dan meraih senapan polisi. Dia menariknya dari polisi itu, mengayunkan dan memukul polisi itu di wajah. Polisi itu terlempar ke belakang, menjatuhkan beberapa anak buahnya.

Caitlin sudah cukup melihat.

Tanpa ragu, ia berbalik, membuka jendela dan naik melewatinya. Ia melompat ke tangga darurat dan menuruni dengan cepat tangga berkarat yang reyot.

Ia berlari sebisa mungkin, berputar dan berbelok. Tangga darurat tua itu mungkin tidak pernah digunakan selama bertahun-tahun, dan saat ia berputar di pojokan, selangkah membuka jalan. Ia terpeleset dan menjerit, tapi kemudian berhasil menguasai keseimbangannya. Seluruh tangga darurat bergeser dan berayun, tapi tidak benar-benar patah.

Ia telah menuruni tiga anak tangga ketika ia mendengar suara ribut itu. Ia mendongak, dan melihat ketiganya melompat menuju tangga darurat. Mereka mulai turun, dengan sangat cepat. Lebih cepat dari dirinya. Ia menambah kecepatannya.

Ia mencapai lantai pertama, dan melihat bahwa tidak ada jalan keluar: 15 kaki tingginya dari trotoar. Ia memalingkan lehernya, melihat bahwa mereka datang. Ia melihat kembali ke bawah. Tidak ada pilihan. Dia melompat.

Caitlin memberanikan dirinya untuk akibatnya, dan menduga akibatnya akan buruk. Tapi yang membuatnya terkejut, ia mendarat dengan mulus di kakinya, seperti seekor kucing, tanpa rasa sakit apapun. Ia segera berlari, merasa percaya diri ia akan meninggalkan para pengejarnya, siapa pun mereka, jauh di belakang.

Ketika ia mencapai ujung jalan, terkejut oleh kecepatannya yang luar biasa, ia melihat ke belakang, berharap melihat mereka jauh di belakang.

Tapi ia terkejut karena melihat mereka hanya beberapa kaki di belakangnya. Bagaimana mungkin?

Sebelum ia bisa menyelesaikan pikirannya, ia merasakan tubuh di atasnya. Mereka telah menjegalnya jatuh ke tanah.

Caitlin memanggil semua kekuatan barunya untuk melawan para penyerangnya. Ia menyikut salah satu dari mereka, dan terkejut dengan senang karena melihat dia terlempar beberapa kaki. Dengan berani, ia mendorong dan menyikut yang lain, dan lagi-lagi terkejut dengan senang melihat dia terlempar ke arah lain.

Sang pemimpin mendarat tepat di atasnya, dan mulai mencekiknya. Dia lebih kuat dari yang lainnya. Ia memandang ke arah mata hitam batu baranya yang besar, dan rasanya seperti menatap mata seekor hiu. Tanpa jiwa. Itu adalah tatapan kematian.

Caitlin menggunakan semua kekuatannya, setiap kekuatan terakhirnya, dan berhasil menggulingkan dan melempar dia dari tubuhnya. Ia melompat berdiri, sekali lagi berlari.

Tapi ia tidak bisa pergi jauh sebelum ia merasakan dirinya dijegal lagi, oleh sang pemimpin. Bagaimana dia bisa secepat itu? Ia baru saja melemparnya menyeberangi jalan sempit.

Kali ini, ia bisa melawan, ia merasakan buku-buku jari di pipinya, dan menyadari dia baru saja menamparnya. Dengan keras. Dunia berputar. Ia sadar dengan cepat, dan siap untuk melawan, ketika tiba-tiba ia melihat dua orang lain berlutut di sampingnya, menjepit ke bawah. Sang pemimpin mengambil kain dari sakunya.

Sebelum ia bisa bereaksi, kain itu menutup hidung dan mulutnya.

Saat ia mengambil satu napas dalam terakhir, dunia berputar, berubah berkabut.

Sebelum dunia berubah menjadi gelap total, ia berani bersumpah ia mendengar bisikan suara kelam di telinganya: "Kau adalah milik kami sekarang."

Bab Sembilan

Caitlin terbangun dalam kegelapan. Ia merasakan logam dingin yang menyakiti pergelangan tangan dan pergelangan kakinya, dan tubuhnya pegal. Ia menyadari bahwa ia dirantai. Berdiri. Lengannya terentang, di sisi tubuhnya, dan ia mencoba untuk menggerakkannya, tapi tidak bergeming. Begitu pula kakinya. Ia mendengar derak saat ia mencoba, dan logam dingin menggali dengan keras ke pergelangan tangan dan pergelangan kakinya. Di mana sih dia berada?

Caitlin membuka matanya lebih lebar, jantung berdebar, mencoba untuk bisa merasakan di mana dirinya. Dingin. Ia masih berpakaian, tapi bertelanjang kaki, dan ia bisa merasakan batu yang dingin di bawah kakinya. Ia juga merasakan batu di sepanjang punggungnya. Ia bersandar di dinding. Dirantai ke sebuah dinding.

Ia bersusah payah melihat ke sekeliling ruangan dan mencoba melakukan sesuatu. Tapi kegelapan itu absolut. Ia kedinginan. Dan haus. Ia menelan ludah, dan tenggorkannya kering.

Ia menarik sebisa mungkin, tapi bahkan dengan kekuatan barunya, rantai itu tidak bergeming. Ia benar-benar terperangkap.

Caitlin membuka mulutnya untuk berteriak minta tolong. Upaya pertamanya tidak berhasil. Mulutnya terlalu kering. Ia menelan ludah lagi.

"Tolong!" ia berteriak, suaranya yang keluar parau. "TOLONG!" teriaknya lagi, dan kali ini ia mendapatkan volume yang sebenarnya.

Tidak ada apa-apa. Ia mendengarkan dengan saksama. a mendengar samar sebuah desing kebisingan di suatu tempat di kejauhan. Tapi dari mana?

Ia mencoba mengingat. Di mana ia terakhir kali?

Ia ingat pulang ke rumah. Apartemennya. Ia mengerutkan kening, mengingat Ibunya. Mati. Ia merasa sangat menyesal, seolah-olah entah bagaimana itu adalah salahnya. Dan ia merasakan belas kasihan. Ia berharap bahwa ia bisa menjadi putri yang lebih baik, bahkan jika ibunya tidak baik baginya. Bahkan jika, sebagaimana ibunya telah nyerocos sehari sebelumnya, ia bukan anak perempuannya yang sesungguhnya. Apakah dia bersungguh-sungguh? Atau itu hanya sesuatu yang dia lampiaskan keluar pada saat marah?

Lalu...ketiga orang itu. Barpakaian hitam. Sangat pucat. Mendekati dirinya. Lalu... Polisi. Peluru itu. Bagaimana mereka menghentikan peluru itu? Apakah orang-orang ini? Mengapa mereka menggunakan kata "manusia"? Ia akan berpikir bahwa mereka hanya khayalan, jika ia tidak melihat mereka menghentikan peluru di udara.

Lalu...jalan kecil itu. Pengejaran.

Dan kemudian.... Kegelapan.

Caitlin tiba-tiba mendengar derit pintu logam. Ia menyipitkan mata, ketika cahaya muncul di kejauhan. Itu adalah sebuah obor. Seseorang datang ke arahnya, membawa obor.

Saat dia mendekat, ruangan itu terang. Ia di sebuah ruangan besar yang ribut, seluruhnya diukir dari batu. Tampak kuno.

Ketika pria itu mendekat, Caitlin bisa melihat wajahnya. Dia memegang obor ke atas, ke wajahnya. Dia menatapnya seakan ia seekor serangga.

Orang ini sangat aneh. Wajahnya menyimpang, membuatnya tampak seperti seorang penyihir tua yang kurus kering. Dia menyeringai, dan memamerkan deretan gigi oranye yang kecil. Napasnya berbau. Dia berjarak seinci dari dirinya, dan menatapnya. Dia mengangkat tangan ke wajahnya, dan ia bisa melihat kuku kuning panjang yang melengkung. Seperti cakar. Dia menyeret kukunya perlahan-lahan di sepanjang pipinya, tidak cukup untuk mengalirkan darah, tapi cukup untuk membuatnya jijik. Dia menyeringai lebih lebar.

"Siapa kau?" Caitlin bertanya, ketakutan. "Di mana aku?"

Dia hanya menyeringai lagi, seolah-olah memeriksa mangsanya. Dia menatap lehernya, dan menjilat bibirnya.

Saat itu, Caitlin mendengar suara pintu besi lain terbuka, dan melihat beberapa obor mendekat.

"Tinggalkan dia!" teriak suara dari kejauhan. Orang yang berdiri di hadapan Caitlin cepat bergegas pergi, mundur beberapa kaki. Dia menundukkan kepalanya, menegur.

Sekelompok obor mendekat, dan saat mereka mendekat, ia bisa melihat pemimpin mereka. Pria yang telah mengejarnya sampai ke jalan kecil itu.

Dia menatapnya kembali, menawarkan senyum dengan kehangatan es. Dia tampan, orang ini, awet muda, tapi menakutkan. Jahat. Mata arangnya yang besar memandangi dirinya.

Dia diapit oleh lima orang lain, semua berpakaian hitam seperti dia, tetapi tidak ada yang besar atau setampan dia. Ada juga dua wanita dalam kelompok, yang balas menatapnya dengan dingin yang sama.

"Kau harus memaafkan pelayan kami," kata pria itu, suaranya berat, dingin, dan sebenarnya.

"Siapa kau?" tanya Caitlin. "Kenapa aku ada di sini?"

"Maafkan akomodasi yang kasar ini," kata pria itu, tangannya menelusuri sepanjang rantai logam tebal yang menahannya ke dinding. "Kami akan lebih senang untuk melepaskanmu," katanya, "jika saja kau mau menjawab beberapa pertanyaan."

Ia balas melihat, tidak yakin apa yang harus dikatakan.

"Aku akan mulai. Namaku adalah Kyle. Saya Wakil Pemimpin Blacktide Coven," ia berhenti sejenak. "Giliranmu."

"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku," jawab Caitlin.

"Untuk memulainya, covenmu. Tergabung dengan siapakah kau?"

Caitlin memutar otak, mencoba untuk mencari tahu apakah ia telah kehilangan pikirannya. Apakah ia mengkhayalkan semua ini? Ia berpikir ia pasti terjebak dalam semacam mimpi yang gila. Tetapi ia merasa baja dingin sangat nyata di pergelangan tangan dan pergelangan kakinya, dan tahu ia tidak bermimpi. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada orang ini. Apa yang dia bicarakan? Coven? Seperti dalam ... vampir?

"Saya tidak berasal dari siapa pun," katanya.

Dia menatapnya untuk waktu yang lama, lalu perlahan-lahan menggeleng.

"Seperti yang kau inginkan. Kami telah berurusan dengan vampir bajingan sebelumnya. Itu selalu sama: mereka datang untuk menguji kami. Untuk melihat seberapa aman wilayah kami. Setelah itu, yang lainnya mengikuti. Begitulah cara pergeseran wilayah dimulai.

"Tapi kau lihat, mereka tidak pernah lolos begitu saja. Kami adalah coven yang tertua dan terkuat di negeri ini. Tidak ada yang membunuh di sini dan berhasil lolos dengan hal itu.

"Jadi aku bertanya lagi: siapa yang mengirimmu? Kapan mereka berencana untuk menyerang?"

Wilayah? Serangan? Caitlin tidak bisa mengerti bagaimana ia tidak bermimpi. Mungkin ia telah menyelipkan beberapa jenis obat. Mungkin Jonah telah menyelinapkan sesuatu. Tetapi ia tidak minum. Dan ia tidak pernah mengonsumsi narkoba. Ia tidak bermimpi. Ini adalah nyata. Terlalu sangat, sangat nyata.

Ia bisa saja membubarkan mereka sebagai sekelompok orang yang benar-benar gila, karena beberapa sekte aneh atau masyarakat yang benar-benar berkhayal. Tapi setelah semua yang telah terjadi dalam 48 jam terakhir, ia benar-benar menemukan dirinya berpikir dua kali. Kekuatannya sendiri. Perilakunya sendiri. Bagaimana ia merasakan tubuhnya berubah. Mungkinkah vampir menjadi kenyataan? Apakah ia salah satu dari mereka? Apakah ia terhuyung-huyung ke tengah semacam perang vampir? Itu sekadar keberuntungan dirinya.

Caitlin menatapnya kembali, berpikir. Apakah ia benar-benar membunuh seseorang? Siapa? Ia tidak ingat, tapi ia punya perasaan yang mengerikan ini bahwa apa yang dia katakan itu benar. Bahwa ia telah membunuh seseorang. Hal itu, lebih dari apa pun, membuat dirinya merasa tidak enak. Ia merasa perasaan yang mengerikan yaitu kasihan dan penyesalan yang tak terhingga. Jika itu benar, ia adalah seorang pembunuh. Ia tidak pernah bisa hidup menanggungnya.

Ia balas menatapnya.

"Aku tidak dikirim oleh siapa pun," katanya, akhirnya. "Aku tidak ingat persis apa yang telah kulakukan. Tapi apa pun yang aku lakukan, aku melakukannya sendiri. Aku tidak benar-benar tahu kenapa aku melakukannya. Aku benar-benar minta maaf untuk apa pun yang aku lakukan," katanya. "Aku tidak bermaksud begitu."

Kyle berpaling dan memandang orang lain. Mereka kembali menatap dia. Dia menggeleng, dan kembali pada dirinya. Tatapannya berubah dingin dan keras.

"Kau anggap aku bodoh, yang kulihat. Tidak bijaksana."

Kyle menunjuk kepada bawahannya, dan mereka bergegas dan melepaskan rantainya. Ia merasa lengannya jatuh, dan merasa lega untuk memiliki aliran darah kembali ke pergelangan tangannya. Berikutnya mereka melepaskan pergelangan kakinya. Empat dari mereka, dua di masing-masing sisi, memegang erat pada lengan dan bahunya.

"Jika kau tidak akan menjawabku," kata Kyle, "maka kau akan menjawab kepada Majelis. Tapi ingatlah, kau telah memilih ini. Mereka tidak akan menunjukkan belas kasihan, seperti yang mungkin aku lakukan."

Ketika mereka membawa dirinya pergi, Kyle menambahkan, "Buat kesalahan, kau akan dibunuh entah bagaimana caranya. Tapi cara saya akan cepat dan tidak sakit. Sekarang kau akan melihat apakah penderitaan itu."

Caitlin mencoba melawan saat mereka menyeretnya ke depan. Tapi itu sia-sia. Mereka membimbingnya ke suatu tempat, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain merangkul nasibnya.

Dan berdoa.

*

Ketika mereka membuka pintu kayu ek, Caitlin tidak bisa memercayai matanya. Ruangan itu sangat besar. Berbentuk lingkaran besar, dilapisi dengan kolom batu setinggi beberapa ratus kaki, didekorasi dengan banyak hiasan. Ruangan itu diterangi dengan baik, obor ditempatkan setiap 5 kaki, di seluruh ruangan itu. Ruangan itu tampak seperti Pantheon. Terlihat kuno.

Saat ia dibawa masuk, hal berikutnya yang ia perhatikan adalah kebisingan. Itu adalah kerumunan besar. Ia memandang sekeliling dan melihat ratusan, bahkan ribuan, pria dan wanita berpakaian hitam, bergerak cepat ke seluruh ruangan. Ada keanehan bagaimana mereka bergerak: begitu cepat, begitu acak, sangat...tidak manusiawi.

Ia mendengar suara desingan, dan mendongak. Puluhan orang ini melompat, atau terbang, melintasi ruangan, pergi dari lantai ke langit-langit, dari langit-langit ke balkon, dari kolom ke birai. Itu adalah suara mendesing yang pernah didengarnya. Seolah-olah ia telah memasuki sebuah gua penuh kelelawar.

Ia melihat semuanya dan sepenuhnya, benar-benar, terkejut. Vampir memang ada. Apakah ia salah satu dari mereka?

Mereka membawanya ke tengah ruangan, rantai berderak, kakinya yang telanjang dingin di batu. Mereka membawanya ke tempat di bagian tengah lantai, yang ditandai oleh ubin lingkaran yang besar.

Saat ia sampai di tengah, kebisingan secara bertahap mereda. Gerakan melambat. Ratusan vampir mengambil posisi di amfiteater batu yang sangat besar di hadapannya. Itu tampak seperti majelis politik, seperti gambar-gambar yang dilihatnya dari alamat negara serikat - kecuali, bukannya ratusan politisi, ini adalah ratusan vampir, semua menatapnya. Ketertiban dan disiplin mereka sangat mengesankan. Dalam hitungan detik, mereka semua duduk tenang dengan sempurna sedapat mungkin. Ruangan itu hening.

Saat ia berdiri di tengah ruangan, tertahan oleh petugas, Kyle melangkah ke samping, melipat tangannya, dan menundukkan kepalanya memberi hormat.

Sebelum majelis duduk kursi batu besar. Itu tampak seperti singgasana. Ia mendongak dan melihat bahwa duduk di dalamnya adalah vampir yang tampak lebih tua daripada yang lain. Ia tahu bahwa dia benar-benar tua. Ada sesuatu dalam mata birunya yang dingin. Mereka menatap seolah-olah mereka telah melihat 10.000 tahun. Ia benci perasaan pandangannya mengarah pada dirinya. Mata itu adalah kejahatan itu sendiri.

"Jadi," katanya, suaranya bergemuruh rendah. "Ini adalah orang yang melanggar wilayah kita," katanya. Suaranya serak dan telah benar-benar tidak ada kehangatan di dalamnya. Suaranya bergema di ruang besar itu.

"Siapa pemimpin covenmu?" tanyanya.

Caitlin menatapnya kembali, bimbang bagaimana cara menjawabnya. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Aku tidak memiliki pemimpin," katanya. Dan aku tidak berasal dari coven manapun. Aku ada di sini karena diriku sendiri."

"Kau tahu hukuman untuk pelanggaran," katanya, senyuman berkembang di sudut mulutnya. "Jika ada sesuatu yang lebih buruk daripada keabadian," lanjutnya, "itu adalah keabadian dalam rasa sakit."

Dia menatapnya.

"Ini kesempatan terakhirmu," katanya.

Ia menatapnya kembali, tidak memiliki gagasan apa yang harus dikatakan. Dari sudut matanya, ia mengamati ruangan itu untuk jalan keluar, bertanya-tanya apakah ada jalan keluar. Ia tidak melihat satu pun.

"Terserah kau," katanya, dan mengangguk sedikit.

Sebuah pintu samping terbuka, dan keluarlah vampir dalam rantai, diseret oleh dua petugas. Dia diseret ke tengah ruangan, hanya beberapa kaki dari tempat Caitlin berdiri. Ia menyaksikan dengan rasa takut, tidak yakin apa yang terjadi.

"Vampir ini melanggar aturan perkawinan," kata sang pemimpin. "Tidak separah pelanggaran seperti pelanggaranmu. Tapi tetap saja, salah satu yang harus dihukum."

Sang pemimpin mengangguk lagi, dan petugas melangkah maju dengan sebotol kecil cairan. Dia mengulurkan tangan dan menyiramkannya pada vampir yang dirantai.

Vampir yang dirantai itu mulai menjerit-jerit. Caitlin menyaksikan gelembung kulitnya di seluruh lengannya, bilur muncul segera, seolah-olah dia dibakar. Jeritannya mengerikan.

"Ini bukan sembarang air suci," kata sang pemimpin, menatap Caitlin, "tetapi air dengan mantra khusus. Dari Vatikan. Aku memastikan padamu bahwa itu akan membakar menembus kulit apapun, dan bahwa rasa sakitnya akan mengerikan. Lebih buruk dari zat asam."

Dia menatap Caitlin lama dan keras. Ruangan itu benar-benar sunyi.

"Beritahu kami dari mana kau berasal dan kau akan terhindar kematian yang mengerikan."

Caitlin menelan ludah, tidak ingin merasakan air itu di kulitnya. Itu tampak mengerikan. Kemudian lagi, jika ia bukan benar-benar vampir, seharusnya air itu tidak menyakitinya. Tapi itu bukan percobaan ingin ia ambil.

Ia menarik lagi rantainya, tapi mereka tidak memberi jalan.

Ia bisa merasakan jantungnya berdebar, dan keringat muncul di alisnya. Apa mungkin ia bisa katakan padanya?

Dia menatapnya, menilai tubuhnya.

"Kau berani. Aku mengagumi kesetiaanmu pada covenmu. Tapi waktumu sudah habis."

Dia mengangguk, dan ia mendengar suara rantai. Ia memandang ke sekeliling, dan melihat dua petugas mengerek sebuah ketel besar. Dengan setiap tarikan, mereka mengangkatnya beberapa kaki di udara. Ketika ketel itu sudah tinggi, sekitar 15 kaki dari tanah, mereka mengayunkannya di atas, sehingga tepat di atas kepalanya.

Ada beberapa ons air suci disiramkan pada vampir itu," kata sang pemimpin. "Di atasmu adalah galon. Ketika air itu membasuh seluruh tubuhmu, itu akan memberimu rasa sakit yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan. Kau akan merasakan sakit ini seumur hidup. Tapi kau masih akan hidup, tidak bisa bergerak, tak berdaya. Ingat, kau telah memilih ini."

Pria itu mengangguk, dan Caitlin merasakan jantungnya berdebar sepuluh kali lebih cepat. Petugas di sisinya mengaitkan rantai ke dalam batu dan berlari, bergegas untuk berada sejauh mungkin darinya.

Ketika Caitlin mendongak, ia melihat ketel itu miring, dan cairan mulai tertuang. Dia melihat kembali ke bawah dan memejamkan mata.

Tolong Tuhan. Tolong aku!

"Tidak!" ia berteriak, menjerit bergema melalui ruangan.

Dan kemudian, dirinya tenggelam.

Bab Sepuluh

Air menutupi seluruh tubuhnya, sehingga sulit untuk bernapas, atau membuka matanya. Setelah sekitar sepuluh detik, meskipun, setelah seluruh rambut dan tubuh dan pakaiannya benar-benar basah kuyup, Caitlin mengedipkan matanya. Ia menguatkan dirinya untuk rasa sakit.

Tapi rasa sakit itu tidak datang.

Ia mengerjap, lalu memandang ketel, bertanya-tanya apakah ketel itu benar-benar kosong. Memang. Ia kembali menatap dirinya sendiri, dan melihat ia basah kuyup. Tetapi ia benar-benar baik-baik saja. Tidak sedikit pun rasa sakit.

Sang pemimpin, tiba-tiba menyadari, berdiri di kursinya, rahangnya menganga. Dia jelas-jelas terkejut. Kyle, juga, berpaling dan melihat, mulutnya terbuka. Seluruh majelis, ratusan vampir, semua berdiri, dan terkesiap menyebar ke seluruh ruangan.

Caitlin bisa melihat bahwa ini bukan reaksi yang mereka harapkan. Mereka semua tercengang.

Entah bagaimana, air mereka tidak berpengaruh padanya. Mungkin ia sama sekali bukan vampir?

Caitlin melihat kesempatannya.

Sementara mereka semua berdiri di sana, terlalu terkejut untuk bereaksi, ia memanggil kekuatannya dan dalam satu gerakan, pecah rantainya. Ia kemudian kabur berlari jauh dari majelis, ke arah pintu samping. Ia berdoa semoga itu mengarah ke suatu tempat.

Ia mencapai setengah jalan melintasi ruangan sebelum siapa pun bisa mengatasi keterkejutan mereka untuk bereaksi.

"Tangkap dia!" ia akhirnya mendengar teriakan sang pemimpin.

Dan kemudian, suara ratusan tubuh bergemerisik ke arahnya. Kebisingan memantul dari dinding, datang dari mana-mana, dan ia menyadari bahwa mereka tidak hanya berjalan ke arahnya, tapi melompat turun dari langit-langit, dari balkon, sayap mereka menyebar, melaju ke arahnya. Mereka menyapu ke bawah ke arahnya, seperti burung pemakan bangkai mengejar mangsanya, dan ia menggandakan kecepatannya, berlari dengan seluruh kekuatannya.

Ia meraba-raba dalam gelap, dipandu hanya oleh obor, dan saat ia berbelok, akhirnya, di kejauhan, ia melihat pintu. Pintu itu terbuka. Dan cahaya datang dari belakangnya. Itu memang pintu keluar, dan itu adalah sempurna. Kecuali untuk yang satu, vampir terakhir.

Berdiri di depan pintu, menghalangi jalannya, adalah vampir besar yang terpahat dengan baik, benar-benar terbungkus dalam warna hitam. Dia tampak lebih muda dari yang lain, mungkin 20, dan wajahnya lebih kaku. Bahkan dalam terburu-buru, bahkan dengan hidupnya dalam bahaya seperti itu, Caitlin mau tak mau melihat bagaimana menarik secara mencolok vampir ini. Namun, ia menghalangi satu-satunya jalan keluar.

Ia bisa berlari lebih cepat dari yang lain, tapi ia tidak bisa melewati pria ini tanpa menembusnya. Ia membuka pintu lebih lebar, seolah-olah membuat jalan baginya untuk melewatinya. Apakah ia mengelabui dirinya? Ia menunduk dan melihat bahwa ia memegang tombak panjang di tangannya.

Saat ia mendekat, ia mengangkatnya dan mengarahkannya tepat ke arahnya. Ia hanya beberapa kaki dari pintu sekarang, dan ia tidak bisa berhenti. Mereka berada di belakangnya, dan jika ia malah melambat, itu akan menjadi akhir dari dirinya. Jadi ia berlari tepat ke arahnya, menutup matanya dan menguatkan diri untuk dampak tak terelakkan dari tombaknya mengalir melewati tubuhnya. Setidaknya itu terjadi dengan cepat.

Saat ia membuka matanya ia melihat dia melepaskan tombaknya, dan ia refleks merunduk.

Tapi dia telah membidik terlalu tinggi. Terlalu tinggi. Ia menjulurkan lehernya ke belakang, dan melihat bahwa dia tidak membidik padanya, tapi pada salah satu vampir yang telah menukik ke arahnya. Tombak berujung perak itu menusuk tenggorokan vampir, dan memekik mengerikan memenuhi ruangan, ketika makhluk itu jatuh ke tanah.

Caitlin menatap vampir baru ini dengan heran. Dia baru saja menyelamatkannya. Mengapa?

"Ayo!" teriaknya.

Ia mempercepat langkahnya dan berlari melalui pintu yang terbuka.

Saat ia berbalik, dia berbalik bersamanya dan menarik menutup pintu dengan sekuat tenaga, menutup dengan kuat di belakang mereka. Dia segera mengulurkan tangan, menyisipkan sebuah batang logam besar, dan menempatkannya di pintu, menahan pintu. Ia mundur beberapa langkah, berdiri di sampingnya, mengamati pintu.

Ia tidak bisa menahan untuk melihat ke arahnya, mempelajari garis rahangnya, rambut cokelat dan mata cokelat. Ia telah menyelamatkannya. Mengapa?

Tapi dia tidak menoleh ke arahnya. Ia masih mengawasi pintu, ketakutan ada dalam matanya. Dengan alasan yang bagus. Dalam beberapa detik setelah menahan pintu, tubuh-tubuh telah menubruk melawan pintu. Pintu itu lebih dari enam kaki tebalnya, dan batang logam baja murni yang lebih tebal. Tapi ternyata tidak cocok. Tubuh menghantam pintu dari sisi lain, dan pintu itu sudah hampir sepenuhnya runtuh. Itu hanya akan menjadi detik sampai mereka menerobos.

"Cepat!" teriaknya, dan sebelum ia bisa bereaksi, dia meraih lengannya dan membawanya pergi. Dia menarik-narik, membuatnya larinya lebih cepat dari ia bisa, lebih cepat dari yang ia tahu ia bisa, dan dalam beberapa detik mereka menuruni satu lorong, lalu yang lain, lalu yang lain, memutar dan berbelok ke segala arah. Satu-satunya hal yang harus mereka melihat dengan yang obor yang sesekali ada. Ia tidak pernah bisa keluar dari sana sendirian.

"Apa yang terjadi?" Caitlin mencoba bertanya saat mereka berlari, terengah-engah. "Di mana kita -"

"Lewat sini!" teriaknya, menghentaknya tiba-tiba ke arah lain.

Di belakang mereka, Caitlin mendengar tabrakan, diikuti oleh suara segerombolan orang, melaju ke arah mereka.

Mereka mencapai tangga melingkar, terbuat dari batu, berkelok-kelok jalannya di sepanjang dinding. Dia berlari dengan kecepatan penuh menuju tangga, menghentaknya bersama dengan dia, dan sebelum ia mengetahuinya mereka berlomba menaiki tangga, berputar-putar, menaiki tiga anak tangga sekaligus. Mereka naik dengan cepat.

Ketika mereka sampai di atas, tampaknya berakhir di dinding tinggi. Sebuah langit-langit batu di atas mereka, dan ia bisa melihat tidak ada jalan keluar lain. Itu adalah jalan buntu. Ke mana dia membawanya?

Dia bingung juga. Dan marah. Tapi dia tampak bertekad. Dia mengambil beberapa langkah mundur, dan dengan awal berlari, menabrakkan ke arah langit-langit. Luar biasa. Dengan kekuatan super ini, dia menghancurkan sebuah lubang. Batu hancur, dan cahaya segera tumpah ruah. Nyata, lampu listrik. Di mana mereka?

"Ayo!" teriaknya.

Dia mengulurkan tangan dan meraih lengannya, menghentaknya ke atas dan keluar, melalui langit-langit, dan masuk ke ruang yang cukup terang.

Ia melihat ke sekeliling. Mereka tampaknya seperti berada di gedung pengadilan. Atau museum. Bangunan besar yang indah. Lantai marmer, ruangan itu semua dari batu, bertiang. Bundar. Tampak seperti sebuah gedung pemerintah.

"Di mana kita?" ia bertanya.

Dia meraih tangannya dan mulai berlari, menarik-narik dirinya melintasi ruangan dengan kecepatan kilat. Ia mendorong salah satu dari dua pintu baja besar. Dia melepaskan pergelangan tangannya dan berlari tepat ke arah pintu, menyandarkan bahunya dengan kuat. Mereka melayang terbuka dengan tabrakan.

Ia mengikuti dekat di belakang, kali ini tanpa menunggu. Ia mendengar suara batu yang bergerak di belakangnya, dan tahu bahwa gerombolan itu sudah dekat.

Mereka sudah berada di luar, akhirnya, dan dingin, udara malam memukul wajahnya. Ia sangat berterima kasih bisa keluar dari bawah tanah.

Ia mencoba untuk mendapatkan pikirannya. Mereka pasti ada di New York. Tapi di mana? Sekelilingnya tampak samar-samar akrab. Dilihatnya sebuah jalan kota, taksi yang lewat. Ia berpaling untuk melihat ke belakang, dan melihat bangunan yang baru saja mereka tinggalkan. Balai Kota. Coven itu berada di bawah Balai Kota.

Mereka berlari menuruni tangga dan melintasi halaman, menuju jalan. Mereka belum sempat jauh ketika terdengar suara pintu yang membuka di belakangnya, dan segerombolan vampir.

Mereka menuju tepat ke arah gerbang besi besar. Saat mendekat, ada dua petugas keamanan. Mereka berpaling, dan melihat mereka berjalan tepat ke arah pintu gerbang. Mata mereka terbuka lebar terkejut, dan mereka meraih senjata mereka.

"Jangan bergerak!" teriak mereka.

Sebelum mereka bisa bereaksi, dia menyambarnya dengan erat, mengambil tiga langkah panjang, dan melompat setinggi mungkin. Ia merasa mereka terbang melalui udara, 10, 20 kaki, mengosongkan gerbang logam dan mendarat di sisi lain dengan selamat.

Mereka mencapai tanah dan berlari. Ia memandang pelindungnya dengan kaget, bertanya-tanya sejauh mana kekuatannya. Bertanya-tanya mengapa dia peduli tentangnya. Dan bertanya-tanya, mengapa ia merasa begitu baik di sampingnya.

Sebelum ia bisa berpikir lebih lama, ada logam jatuh di belakang mereka, diikuti dengan tembakan. Para vampir lain telah keluar, menjatuhkan petugas polisi. Mereka sudah dekat di belakang.

Mereka berlari dan berlari tapi itu tidak berhasil. Gerombolan itu mendekat dengan cepat.

Dia tiba-tiba meraih tangannya dan berbelok di tikungan, membawa mereka ke pinggir jalan. Berakhir di sebuah dinding.

“Ini jalan buntu!" serunya. Tapi dia terus berlari, menyeretnya bersamanya.

Dia mencapai ujung gang, berlutut, dan dengan satu jari dan menarik sebuah penutup besi yang besar.

Ia berpaling, dan melihat sekelompok besar vampir menuju tepat ke arah mereka, tidak lebih dari 20 meter jauhnya.

"Ayo!" teriaknya, dan sebelum ia bisa bereaksi, dia menyambarnya dan mendorongnya ke dalam lubang.

Ia mencengkeram tangga, dan saat ia mendongak, ia melihat dia memegang pada tangan dan lutut, menguatkan dirinya sendiri. Dia mengangkat penutup lubang sebagai perisai.

Ia dikerumuni gerombolan. Dia mengayunkan besi itu dengan liar, dan ia mendengar dampaknya saat dia menjatuhkan vampir demi vampir menjauh dengan besi yang berat. Dia mencoba untuk bergabung dengannya, untuk masuk ke lubang juga, tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia telah dikepung.

Ia hendak memanjat dan membantu dia, ketika tiba-tiba, salah satu vampir berpisah dari gerombolan dan menyelinap ke dalam lubang. Ia melihat Caitlin, mendesis, dan datang tepat ke arahnya.

Ia bergegas menuruni tangga, membawa mereka dua anak tangga sekaligus, tapi itu tidak cukup cepat. Dia mendarat di atas tubuhnya, dan mereka berdua mulai jatuh.

Saat ia jatuh melalui udara, ia menguatkan diri untuk dampaknya. Untungnya, mereka mendarat di air.

Saat ia bangkit, ia melihat dirinya hingga pinggang kotor oleh air limbah.

Ia nyaris tidak punya waktu untuk berpikir ketika vampir itu mendarat di sampingnya dengan percikan. Dengan satu gerakan, dia melukai kembali dan menamparkan tangannya di wajah, mengirimnya terbang beberapa kaki.

Ia mendarat di punggungnya di dalam air, dan mendongak untuk melihat dia menerkam lagi, tepat ke arah tenggorokannya. Ia berguling menghindar tepat pada waktunya, melompat berdiri kembali. Dia cepat, tapi begitu juga dengan ia.

Dia jatuh tepat di wajahnya. Dia bangkit dan berbalik dan bangkit dengan marah. Dia mencakar tangan kanannya tepat ke wajahnya. Ia berhasil mengelak, dan tangannya nyaris tidak mengenainya, angin melewati tepat di pipinya. Tangannya memukul dinding dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga tersangkut ke dalam batu.

Caitlin marah sekarang. Ia merasakan denyut nadi memerah marah panas di pembuluh darahnya. Ia berjalan menghampiri vampir yang terjebak dan balas melukai kakinya dan menanamkan tendangan kuat tepat di perutnya. Dia jatuh pingsan.

Ia kemudian menyambar dari belakang dan melemparkannya tepat ke dinding, wajah lebih dulu. Kepalanya membentur batu keras. Ia bangga dengan dirinya sendiri, menyadari ia telah menghabisinya.

Tapi ia terkejut dengan rasa sakit tiba-tiba di wajahnya, dan menemukan dirinya ditampar sekali lagi. Vampir ini telah pulih dengan cepat - jauh lebih cepat dari yang bisa ia bayangkan. Sebelum ia menyadarinya, dia berada di atas tubuhnya. Dia mendarat pada dirinya dengan tabrakan dan menjatuhkannya. Ia telah meremehkan dirinya.

Tangannya berada di lehernya, dan sungguh-sungguh di atasnya. Dia kuat, tapi ia lebih kuat. Dia memiliki kekuatan lama yang mengalir melalui tubuhnya. Tangannya dingin dan lembap. Ia berusaha melawan, tapi terlalu berat. Ia berlutut, dan dia terus menekan. Sebelum ia menyadarinya, dia mendorong kepalanya ke arah air. Pada detik terakhir, ia berhasil menjerit: "Tolong!"

Sedetik kemudian, kepalanya tenggelam.

*

Caitlin merasa ada gangguan di dalam air, gelombang yang mengalir, dan tahu bahwa orang lain telah mendarat di air. Ia kehilangan oksigen dengan cepat, tidak mampu melawan.

Caitlin merasa ada lengan yang kuat di bawah, dan merasa dirinya sedang diangkat dan keluar dari air.

Ia melompat dan terengah-engah, mengisapnya lebih dalam daripada yang pernah bisa. Ia menarik napas lagi dan lagi, kehabisan napas.

"Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya, memegang bahunya.

Ia mengangguk. Hanya itu yang ia bisa lakukan. Ia menoleh dan melihat bahwa penyerangnya terbaring di sana, mengambang di air, telentang. Darah mengalir keluar dari lehernya. Dia sudah mati.

Ia menatapnya, mata cokelat dia menatapnya. Dia telah menyelamatkannya. Sekali lagi.

"Kita harus bergerak," katanya, meraih lengannya dan membimbingnya, melalui air setinggi pinggang. "Lubang itu tidak akan bertahan cukup lama."

Seperti diberi aba-aba, gorong-gorong di atas mereka tiba-tiba robek.

Mereka berlari. Mereka berbelok ke terowongan demi terowongan, dan mendengar suara air tumpah di belakang mereka.

Dia membuat belokan tajam dan tinggi air turun ke pergelangan kaki mereka. Mereka mempercepat langkah.

Mereka memasuki terowongan lain, dan menemukan diri mereka di tengah-tengah bangunan utama Kota New York. Ada pipa uap besar di sini, melepaskan awan uap yang besar. Panasnya tak tertahankan.

Dia membawanya ke terowongan lain, dan tiba-tiba mengangkatnya dan menempatkannya di punggungnya, membungkus tangannya di dadanya, dan naik tangga, mengambil tiga anak tangga sekaligus. Mereka naik, dan ketika dia mencapai puncak, ia meninju lubang dan mengirimnya terbang di hadapan mereka.

Mereka kembali di atas tanah, di jalan-jalan Kota New York. Di mana, ia tidak tahu.

"Pegang erat-erat," katanya, dan ia memperketat cengkeramannya di sekitar dadanya, menggenggam tangannya satu sama lain. Dia berlari, dan berlari, dan itu berubah menjadi lari cepat, dengan kecepatan yang belum pernah dia alami. Dia memiliki ingatan naik di bagian belakang sepeda motor sekali, tahun yang lalu, dan perasaan angin mencambuk rambutnya pada kecepatan 60 mil per jam. Rasanya seperti itu. Tapi ini lebih cepat.

Mereka pasti telah melakukan kecepatan 80 mil per jam, kemudian 100, kemudian 120 ... Hanya terus berlari. Bangunan, orang, mobil-semuanya menjadi kabur. Dan sebelum ia mengetahuinya, mereka di atas tanah.

Mereka berada di udara, terbang. Dia membuka, sayap hitam besarnya, mengepak perlahan di sampingnya. Mereka naik di atas mobil, di atas orang-orang. Ia menunduk dan melihat bahwa mereka terbang di atas Jalan No. 14. Kemudian, beberapa detik kemudian, No. 34. Beberapa detik lagi, dan mereka berada di atas Central Park.

Dia memeriksa kembali atas bahu mereka, dan begitu juga ia. Ia hampir tidak bisa melihat, dengan angin mencambuk di matanya, tapi ia cukup bisa melihat untuk mengetahui bahwa tidak ada satu pun, tidak ada makhluk, yang sedang mengikuti mereka.

Dia melambat sedikit, dan kemudian turun, menurunkan ketinggian mereka. Sekarang mereka terbang tepat di atas garis pohon. Sangat indah. Ia belum pernah melihat Central Park dengan cara ini, jalan yang menyala, puncak pohon tepat di bawahnya. Ia merasa seakan bisa menjangkau dan menyentuhnya. Ia punya perasaan bahwa itu tidak akan pernah terlihat secantik sekarang.

Ia mengatupkan kedua tangannya erat di dadanya, merasakan kehangatannya. Ia merasa aman. Senyata semua ini, hal-hal terasa kembali normal dalam pelukannya. Ia ingin terbang seperti ini selamanya. Saat ia menutup matanya dan merasakan angin sejuk membelai wajahnya, ia berdoa agar malam ini tidak akan pernah berakhir.

Bab Sebelas

Caitlin merasa mereka melambat, dan kemudian mulai turun. Ia membuka matanya. Ia tidak mengenali salah satu bangunan di bawah mereka. Ternyata mereka jauh berada di pinggir kota. Mungkin, suatu tempat di Bronx.

Saat mereka turun, mereka terbang di atas sebuah taman kecil, dan di kejauhan, ia pikir ia melihat sebuah kastil. Ketika mereka semakin dekat, ia menyadari bahwa itu pasti sebuah kastil. Apa yang sebuah kastil lakukan di sini, di Kota New York?

Ia memutar otak, dan menyadari bahwa ia telah melihat benteng ini sebelumnya. Pada kartu pos di suatu tempat ... Ya. Itu adalah sebuah museum atau semacamnya. Saat mereka naik di sebuah bukit kecil, terbang di atas benteng, terbang di atas dinding abad pertengahan yang kecil, ia tiba-tiba teringat apa itu. Cloisters. Museum kecil itu. Museum itu telah dibawa dari Eropa, sepotong demi sepotong. Umurnya ratusan tahun. Kenapa dia membawanya ke sini?

Mereka turun dengan mulus di atas dinding luar dan menuju teras batu yang besar, menghadap ke sungai Hudson. Mereka mendarat di kegelapan, tapi kakinya mendarat anggun di atas batu, dan dia dengan lembut melepaskannya.

Ia berdiri di sana, di hadapannya. Ia menatap dia lekat-lekat, berharap bahwa dia masih nyata, berharap bahwa dia tidak akan terbang jauh. Dan berharap dia seindah seperti pertama kali melihatnya.

Dia memang tampan. Jika ada hal lain, bahkan lebih dari itu. Dia memandang ke bawah pada mata coklatnya yang besar, dan pada saat itu ia merasakan dirinya tersesat.

Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tapi ia bahkan tidak tahu dari mana untuk memulainya. Siapakah dia? Bagaimana dia dapat terbang? Apakah dia adalah seorang vampir? Mengapa dia mengambil risiko untuk dirinya? Mengapa dia membawanya ke sini? Dan yang terpenting, apakah semua yang telah ia lihat hanyalah halusinasi liar? Atau vampir memang benar ada, tepat di sini di Kota New York? Dan apakah ia adalah salah satu dari mereka?

Ia membuka mulutnya untuk berbicara, tapi yang ia bisa katakan adalah: “Mengapa kita ada di sini?”

Ia tahu itu adalah pertanyaan yang bodoh ketika ia menanyakannya, dan membenci dirinya sendiri karena tidak menanyakan sesuatu yang lebih penting. Tapi berdiri di sana dalam dinginnya malam bulan Maret, dengan wajah sedikit mati rasa, itu adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.

Dia hanya balas memandangnya. Tatapannya nampaknya seperti membelah jiwanya, seolah-olah dia melihat tepat menembus dirinya. Itu terlihat seolah-olah dia berdebat seberapa banyak yang akan dikatakan padanya.

Akhirnya, setelah apa yang nampaknya seperti keabadian, dia membuka mulutnya untuk berbicara.

“Caleb!” seru sebuah suara, dan mereka berdua berpaling.

Sekelompok pria – vampir? – berpakaian hitam, berjalan tepat kea rah mereka. Caleb berpaling dan menghadapi mereka. Ia menyukainya.

“Kami tidak mempunyai izin tentang kedatanganmu,” pria di tengah berkata, sangat serius.

“Itu tidak diumumkan,” jawab Caleb datar.

“Maka kami akan harus menahanmu,” katanya, mengangguk pada anak buahnya, yang dengan perlahan mengitari di belakang Caleb dan Caitlin. “Peraturan.”

Caleb mengangguk, tidak terpengaruh. Pria di tengah melihat langsung pada Caitlin. Ia bisa melihat ketidaksetujuan dalam matanya.

“Kau tahu kami tidak bisa mengizinkannya masuk,” kata pria itu pada Caleb.

“Tapi kau akan mengizinkannya,” jawab Caleb datar. Dia balas memandang pria itu, sama gigihnya. Itu adalah pertemuan kehendak.

Pria itu berdiri di sana, dan ia bisa melihat ketidakyakinan apa yang harus dilakukan. Diikuti kesunyian panjang yang tegang.

“Baiklah, " katanya, membalikkan punggungnya tiba-tiba dan memimpin jalan. "Ini adalah pemakamanmu."

Caleb mengikuti, dan Caitlin berjalan di sampingnya, tidak yakin harus berbuat apa lagi.

Pria itu membuka pintu abad pertengahan yang besar, menyambar cincin kuningan bulat. Dia kemudian melangkah ke samping, memberi isyarat bagi Caleb untuk masuk. Dua orang lainnya, dalam pakaian hitam, berdiri di dalam pintu, berdiri tegak.

Caleb meraih tangan Caitlin dan membawanya melewatinya. Saat ia melewati gerbang batu besar, ia merasa seolah-olah sedang memasuki abad lain.

"Rasa kita tidak perlu membayar tiket masuk," kata Caitlin kepada Caleb, tersenyum.

Dia menatapnya, berkedip. Memerlukan satu detik untuk menyadari itu adalah lelucon. Akhirnya, dia tersenyum.

Dia memiliki senyum yang indah.

Itu membuatnya teringat Jonah. Ia merasa bingung. Itu tidak seperti membuatnya merasakan perasaan yang kuat pada setiap remaja laki-laki - apalagi untuk dua dari mereka di hari yang sama. Ia masih merasa suka pada Jonah. Tapi Caleb berbeda. Jonah masih muda. Caleb, meskipun ia tampak muda, adalah seorang pria. Atau dia...sesuatu yang lain? Ada sesuatu tentang dia yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang membuatnya tidak dapat berpaling. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin meninggalkan sisinya. Ia menyukai Jonah. Namun ia membutuhkan Caleb. Berada di dekatnya adalah segalanya.

Senyum Caleb menghilang secepat itu muncul. Dia jelas terganggu.

"Aku khawatir akan ada harga yang lebih tinggi untuk masuk," katanya, "jika pertemuan ini tidak berjalan seperti yang aku harapkan."

Dia memimpinnya melalui gerbang batu lain, dan ke dalam halaman abad pertengahan yang kecil. Simetris, dikelilingi empat sisi oleh kolom dan lengkungan, halaman ini, diterangi oleh bulan, sangat indah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana mereka masih di Kota New York. Mereka bisa saja ada di pedesaan Eropa.

Mereka berjalan melintasi halaman dan menyusuri lorong batu yang panjang, suara langkah kaki mereka bergema. Mereka dibuntuti oleh beberapa penjaga lainnya. Vampir? Ia bertanya-tanya. Jika demikian, mengapa mereka begitu madani? Mengapa mereka tidak menyerang Caleb, atau ia?

Mereka berjalan menyusuri koridor batu lain dan melalui pintu abad pertengahan lain. Dan kemudian mereka tiba-tiba berhenti.

Berdiri di sana adalah orang lain, berpakaian hitam, yang tampak mengejutkan mirip dengan Caleb. Dia mengenakan jubah merah besar di atas bahunya, dan diapit oleh beberapa petugas. Dia tampak memegang posisi kekuasaan.

"Caleb," katanya lembut. Dia terdengar terkejut melihatnya.

Caleb berdiri di sana dengan tenang, menatap kembali.

"Samuel," jawab Caleb, datar.

Pria itu berdiri di sana, menatap, menggelengkan kepalanya hanya sedikit.

"Bahkan tidak ada pelukan bagi saudaramu yang telah lama hilang?" tanya Caleb.

"Kau tahu ini sangat serius," jawab Samuel. "Kau telah melanggar banyak peraturan dengan datang ke sini malam ini. Terutama dengan membawanya.”

Pria itu bahkan tidak repot-repot mencari ke arah Caitlin. Ia merasa terhina.

"Tapi aku tidak punya pilihan," kata Caleb. "Hari itu telah tiba. Perang ada di sini. "

Sebuah gumaman sunyi meletus antara vampir yang berdiri di belakang Samuel, dan di antara kelompok berkumpul vampir berkeliling di belakang mereka. Dia berbalik, dan melihat bahwa lebih dari selusin dari mereka sekarang mengelilingi mereka. Ia mulai merasa sesak. Mereka sangat kalah jumlah, dan tidak ada jalan keluar. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Caleb, tapi apa pun itu, ia berharap bahwa dia bisa mengatakan jalan keluar dari itu.

Samuel mengangkat tangannya, dan gumaman mereda.

"Terlebih lagi," Caleb melanjutkan, "wanita ini di sini," katanya, sambil mengangguk ke arah Caitlin, "dia adalah Yang Terpilih."

Wanita. Caitlin tidak pernah disebut itu sebelumnya. Ia menyukainya. Namun ia tidak mengerti. Yang Terpilih? Dia telah menempatkan penekanan lucu pada kalimat itu, seolah-olah sedang berbicara tentang Mesias atau sesuatu. Ia bertanya-tanya apakah mereka semua gila.

Gumaman lain muncul, dan semua kepala berpaling menatapnya.

"Saya harus menemui Dewan," kata Caleb, "Dan aku harus membawanya bersamaku."

Samuel menggelengkan kepalanya.

"Kau tahu bahwa aku tidak akan menghentikanmu. Aku hanya bisa menyarankan. Dan aku menyarankan kau untuk pergi sekarang, kembali ke posmu dan tunggu panggilan Dewan."

Caleb balas menatap. "Aku khawatir itu tidak mungkin," katanya.

"Kau selalu melakukan sesuai keinginanmu," kata Samuel.

Samuel melangkah ke samping, dan memberi isyarat dengan tangannya bahwa dia bebas untuk lewat.

"Isterimu tidak akan senang," kata Samuel.

Istri? Pikir Caitlin, dan merasakan hawa dingin merambati tulang punggungnya. Mengapa ia tiba-tiba merasa begitu cemburu? Bagaimana perasaannya terhadap Caleb berkembang dengan cepat? Hak apa yang ia punya untuk merasa begitu posesif padanya?

Ia merasa pipinya berubah menjadi merah. Ia memang peduli. Itu tidak masuk akal sama sekali, tapi ia benar-benar peduli. Mengapa ia tidak memberitahu kepadaku –

“Jangan memanggilnya seperti itu,” jawab Caleb, pipinya juga memerah. “Kau tahu bahwa -”

“Tahu apa!?” muncul pekikan seorang wanita.

Mereka semua berbalik dan melihat seorang wanita bergerak menuju mereka dari lorong. Ia juga mengenakan pakaian hitam-hitam, dengan rambut merah panjang tergerai yang mengekor melewati bahu, dan mata hijau besar bercahaya. Dia tinggi, awet muda, dan sangat cantik.

Caitlin merasa direndahkan di hadapannya, sepertinya ia baru saja menyusut. Ini adalah seorang wanita. Atau apakah itu.. vampir? Apa pun dia, dia adalah makhluk yang Caitlin tidak pernah bisa saingi. Ia merasa kempis, siap untuk menyerahkan Caleb kepada siapa pun dirinya.

"Ketahuilah bahwa apa!?" ulang wanita itu, menatap dengan kasar pada Caleb saat ia berjalan ke arahnya, hanya beberapa kaki jauhnya. Ia melirik Caitlin, dan mulutnya melengkung menggeram. Caitlin belum pernah melihat orang memandangnya dengan begitu banyak kebencian sebelumnya.

"Sera," kata Caleb lembut, "kita belum menikah selama 700 tahun."

"Di matamu, mungkin," bentaknya kembali.

Dia mulai berjalan, mengitari baik Caitlin dan Caleb. Dia memandanginya dari atas ke bawah seolah-olah ia adalah seekor serangga.

“Beraninya kau bawa dia ke sini,” maki dia, “Benar-benar. Kau jauh lebih tahu.”

“Dia adalah Yang Terpilih,” kata Caleb datar.

Tidak seperti yang lainnya, wanita ini tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, dia hanya mengeluarkan wawa pendek yang mengejek.

“Itu konyol,” jawab dia. “Kau sudah membawa perang kepada kami,” lanjutnya, “dan semua untuk seorang manusia. Obsesi yang dungu,” katanya, kemarahannya memuncak. Dengan tiap kalimat, kerumunan di belakang dia nampaknya mendapatkan dukungan, tumbuh dengan kemarahan yang sependapat. Itu menjadi kerumunan yang marah.

“Sebenarnya," Sera melanjutkan," kami memiliki hak untuk merobek-robeknya. "

Kerumunan di belakangnya mulai menggerutu dalam persetujuan.

Kemarahan melintas di wajah Caleb.

"Dan kamu akan harus melewati aku," jawab Caleb, menatap kembali dengan tekad yang sama.

Caitlin merasa kehangatan mengalir melalui dirinya. Dia meletakkan hidupnya pada dirinya. Sekali lagi. Mungkin dia memang peduli padanya.

Samuel melangkah maju, di antara mereka, dan mengulurkan tangannya. Kerumunan menjadi tenang.

"Caleb telah meminta audiensi dengan Dewan," katanya. "Kami berhutang setidaknya itu. Biarkan dia menyatakan kasusnya. Biarkan Dewan memutuskan. "

"Mengapa kita begitu?" bentak Sera.

"Karena itu adalah apa yang aku katakan," jawab Samuel, tekad baja dalam suaranya. "Dan aku memberi perintah di sini, Sera, bukan kau." Samuel menatap lama dan keras padanya. Akhirnya, dia mengalah.

Samuel melangkah ke samping, dan menunjuk ke tangga batu.

Caleb mengulurkan tangan dan meraih tangan Caitlin, dan membimbingnya ke depan. Mereka melangkah menuruni tangga batu yang lebar, dan turun ke dalam kegelapan.

Di belakangnya, Caitlin mendengar tawa tajam memotong sepanjang malam.

"Baguslah.”

Bab Dua Belas

Langkah kaki mereka bergema di anak tangga batu yang lebar ketika mereka menuruninya. Diterangi dengan cahaya redup. Caitlin mengulurkan tangan dan menyarukkan tangannya ke dalam lengan Caleb. Ia berharap dia membiarkannya duduk di sana. Dia memang melakukannya. Sesungguhnya, dia mengencangkan tangannya di sekeliling Caitlin. Sekali lagi, semuanya terasa baik-baik saja. Ia merasa bahwa ia bisa turun menuju dalamnya kegelapan, asalkan mereka bersama-sama.

Begitu banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Seperti apakah Dewan itu? Mengapa dia bersikeras membawa dirinya? Dan mengapakah ia merasa begitu bersikeras berada di sisinya? Ia mungkin dengan mudahnya keberatan di atas sana, memberitahunya bahwa dia memang tidak menginginkan ia pergi, bahwa ia lebih baik menunggu di atas tangga. Tapi ia tidak ingin menunggu di atas tangga. Ia ingin bersama dengan dia. Ia tidak bisa membayangkan dirinya di mana pun lagi.

Tidak satu pun yang masuk akal. Pada setiap kesempatan, bukannya mendapatkan jawaban, yang ia dapatkan adalah pertanyaan-pertanyaan baru. Siapakah semua orang di atas tangga? Apakah mereka vampir sungguhan? Apa yang mereka lakukan di sini? Di Cloisters?

Mereka berbelok di ujung jalan, menuju ke sebuah ruangan besar, dan ia terperangah oleh keindahannya. Ruangan itu menakjubkan, seperti turun menuju kastil abad pertengahan yang sesungguhnya. Langit-langit tinggi menutup kamar berukir dari batu abad pertengahan. Di sebelah kanannya tergeletak beberapa sarkofagus, dinaikkan di atas lantai. Tokoh abad pertengahan yang diukir pada kelopak dengan rumit. Beberapa dari mereka terbuka. Apakah itu di mana mereka tidur?

Ia mencoba untuk mengingat dongeng vampir yang pernah ia dengar. Tidur di peti mati. Terjaga di malam hari. Kekuatan super dan kecepatan. Sakit di bawah sinar matahari. Itu semua tampaknya termasuk. Tapi itu tidak tertahankan. Dan dia tahan terhadap air suci. Terlebih lagi, tempat ini, Cloisters, penuh dengan salib: ada salib besar di mana-mana. Namun tampaknya tidak mempengaruhi vampir ini. Bahkan, ini tampaknya menjadi rumah mereka.

Ia ingin bertanya pada Caleb tentang semua ini, dan banyak lagi, tapi tidak tahu bagaimana memulainya. Ia memantapkan yang terakhir.

"Salib," katanya, mengangguk saat mereka berjalan di bawah satu lagi salib. "Apakah mereka tidak mengganggumu?"

Dia menatapnya, tidak mengerti. Dia tampak seperti tenggelam dalam pikirannya.

"Tidakkah salib menyakiti vampir?" tanyanya.

Pengertian terpancar di wajahnya.

“Tidak semua dari kita," jawabnya. "Ras kami terbagi-bagi. Sama seperti bangsa manusia. Ada banyak ras dalam ras kami, dan banyak wilayah - atau coven - dalam setiap ras. Ini sangat kompleks. Salib tidak mempengaruhi vampir yang baik.”

“Baik?” tanyanya.

“Sama seperti umat manusiamu, ada kekuatan untuk kebaikan dan kekuatan jahat. Kami tidak semuanya sama."

Dia berhenti di situ. Seperti biasa, jawaban hanya mengangkat lebih banyak pertanyaan. Tapi ia harus tutup mulut. Ia tidak ingin ikut campur. Tidak sekarang.

Meskipun langit-langit tinggi, pintunya kecil. Pintu kayu melengkung terbuka, dan mereka berjalan tepat melaluinya, merunduk saat mereka masuk. Saat mereka memasuki ruang baru, ketinggian kembali tampak, dan itu adalah kamar megah yang lain. Ia mendongak dan bisa melihat kaca berwarna di mana-mana. Di sebelah kanannya semacam mimbar, dan di depannya, puluhan kursi kayu kecil. Mencolok, dan indah. Itu benar-benar tampak seperti semacam biara abad pertengahan.

Ia tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan, dan tidak mendengar ada gerakan. Ia tidak mendengar apa-apa. Ia bertanya-tanya di mana mereka semua.

Mereka memasuki ruangan lain, lantai miring perlahan turun, dan ia tersentak. Ruangan kecil ini penuh dengan harta. Itu adalah sebuah museum yang aktif, dan mereka semua terbungkus dengan hati-hati di balik kaca. Tepat di hadapannya, di bawah lampu halogen yang terang, adalah apa yang pasti bernilai ratusan juta dolar, harta kuno yang tak ternilai. Salib emas. Gelas perak besar. Naskah abad pertengahan....

Ia mengikuti Caleb saat ia berjalan melintasi ruangan itu dan berhenti di depan sebuah, kotak kaca panjang vertikal. Di dalamnya ada tongkat gading megah, beberapa kaki panjangnya. Dia menatap melalui kaca.

Dia diam selama beberapa detik.

"Apa itu?" ia akhirnya bertanya.

Dia terus menatap dengan tenang. Akhirnya, ia berkata, "Seorang teman lama."

Itu saja. Dia tidak meneruskan lagi. Ia bertanya-tanya seperti apa sejarah yang dilakukannya dengan benda itu, dan jenis kekuatan apa yang ada. Ia membaca plakat itu: awal tahun 1300an.

“Itu dikenal sebagai tongkat uskup. Sebuah tongkat keuskupan. Ini adalah baik penangkal dan tongkat. Sebatang untuk hukuman dan tongkat untuk memimpin umat beriman. Simbol gereja kami. Ia memiliki kekuatan untuk memberkati, atau mengutuk. Ini adalah apa yang kita jaga. Ini adalah yang membuat kita tetap aman.”

Gereja mereka? Apa yang mereka jaga?

Sebelum ia bisa mengajukan lebih banyak pertanyaan, dia meraih tangannya dan membawanya melalui pintu lain.

Mereka mencapai seutas tali beludru. Dia mengulurkan tangan, melapaskan tangannya, dan menariknya kembali baginya untuk masuk. Dia kemudian mengikuti tepat di belakangnya, kembali menggenggam tangannya, dan membimbingnya ke tangga kayu kecil yang melingkar. Tangga itu mengarah turun, tampaknya tepat ke lantai itu sendiri. Ia melihatnya, bingung.

Caleb berlutut dan membuka gerendel rahasia di lantai. Sebuah perangkap lantai terbuka, dan ia bisa melihat bahwa tangga terus turun, ke dasar.

Caleb menatap lurus ke matanya, "Kau siap?”

Ia ingin berkata Tidak. Tapi sebaliknya, ia mengangguk.

*

Tangga ini sempit dan curam, dan menuntun ke dalam kegelapan yang nyata. Setelah berkelok-kelok dan berliku, lebih dalam dan lebih dalam, ia akhirnya melihat cahaya di kejauhan, dan mulai mendengar gerakan. Saat mereka berbelok di sudut, mereka memasuki ruangan lain.

Ruangan ini besar dan menyala terang, obor di mana-mana. Ini mencerminkan ruangan di atas yang identik sama, dengan langit-langit batu abad pertengahan yang menjulang, melengkung, diukir secara rinci dengan rumit. Ada permadani besar di dinding, dan ruangan besar penuh dengan perabotan abad pertengahan.

Ruangan itu juga diisi dengan orang-orang. Para vampir. Mereka semua berpakaian hitam, dan mereka bergerak sambil lalu di seluruh ruangan. Banyak dari mereka duduk di berbagai kursi, beberapa berbicara satu sama lain. Di coven lain, di bawah Balai Kota, ia merasa kejahatan, kegelapan, merasa dalam bahaya terus-menerus. Di sini, anehnya ia merasa santai.

Caleb membawanya melintasi ruangan panjang, sampai di tengah. Saat mereka berjalan, pergerakan mereda, dan keheningan turun. Ia bisa merasakan semua mata pada mereka.

Saat mereka mencapai ujung ruangan, Caleb mendekati vampir besar, lebih tinggi dari dia, dan dengan bahu yang lebih lebar. Pria itu menunduk, tanpa ekspresi.

"Saya membutuhkan audiensi," kata Caleb sungguh-sungguh.

Vampir itu perlahan berbalik dan berjalan melalui pintu, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.

Caleb dan Caitlin berdiri di sana, menunggu. Ia berpaling, dan mengamati ruangan. Mereka semua - ratusan vampir - menatap mereka. Tapi tidak ada yang bergerak untuk mendekat.

Pintu terbuka, dan vampir besar memberi isyarat. Mereka masuk.

Ruangan kecil ini lebih gelap, remang-remang oleh hanya dua obor di ujung ruangan. Ruangan itu juga benar-benar kosong, kecuali meja panjang di sisi yang berlawanan. Di belakangnya duduk tujuh vampir, semua menatap muram kembali. Itu tampak seperti majelis hakim.

Ada sesuatu tentang vampir ini yang membuat mereka terlihat jauh lebih tua. Ada kekerasan pada ekspresi mereka. Pasti ini adalah majelis hakim.

"Dewan dalam sidang!" vampir besar berteriak, memukul-mukul tongkatnya di lantai, lalu cepat-cepat keluar ruangan. Dia menutup pintu dengan kuat di belakang mereka. Sekarang hanya mereka berdua, menghadapi tujuh vampir.

Dia berdiri ragu-ragu di sisi Caleb, tidak yakin apa yang harus dilakukan, atau katakan.

Keheningan canggung mengikuti, ketika para hakim mempelajari mereka. Rasanya seolah-olah mereka menatap melalui jiwa mereka.

"Caleb," terdengar suara serak, dari vampir di tengah majelis. "Kau telah meninggalkan posmu."

"Saya tidak meninggalkan pos saya, paduka," jawabnya. "Saya masih berada di pos saya dengan setia selama 200 tahun. Saya dipaksa untuk mengambil tindakan malam ini. "

"Kau tidak mengambil tindakan melainkan atas perintah kami," jawabnya. "Kau telah membahayakan kita semua."

"Tugas saya adalah untuk mengingatkan kita untuk perang yang akan datang," jawab Caleb. "Saya percaya bahwa waktunya telah tiba.”

Lenguhan datang dari Dewan. Ada keheningan yang panjang.

"Dan apa yang membuatmu berpikir seperti ini?"

"Mereka menyiram dia dengan air suci, dan air itu tidak membakar kulitnya. Ajaran mengatakan bahwa hari akan datang ketika Yang Terpilih akan tiba, dan dia akan tahan terhadap senjata kami. Dan bahwa dia akan mengumandangkan perang. "

Mereka terkesiap yang tersebar sunyi di seberang ruangan. Mereka semua menatap Caitlin, mengamati dirinya. Beberapa hakim mulai berbicara di antara mereka sendiri, sampai akhirnya yang berada di tengah membanting meja dengan telapak tangannya.

“Diam!” Teriaknya.

Perlahan-lahan, gumaman menjadi sunyi.

“Jadi. Kau mempertaruhkan kita semua untuk menyelamatkan manusia?" tanyanya.

"Saya menyelamatkannya untuk menyelamatkan diri kita sendiri," jawab Caleb. "Jika dia adalah Yang Terpilih, kita bukan apa-apa tanpa dia."

Kepala Caitlin berputar. Ia tidak tahu harus berpikir apa. Yang Terpilih? Ajaran? Apa yang dia bicarakan? Ia bertanya-tanya apakah dia pikir ia adalah orang lain, menganggapnya seseorang yang lebih besar dari dia.

Hatinya tenggelam, bukan karena cara Dewan menatapnya, tetapi karena ia mulai khawatir bahwa Caleb hanya menyelamatkannya demi dirinya sendiri. Bahwa dia tidak benar-benar peduli padanya. Dan bahwa kasih sayang untuknya akan menghilang ketika dia tahu yang sebenarnya. Dia akan mengetahui bahwa dirinya hanya gadis biasa seperti kebanyakn, tidak peduli apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir, dan dia akan meninggalkannya. Sama seperti semua orang lain dalam hidupnya.

Seolah-olah untuk memastikan pikirannya, hakim di tengah perlahan menggeleng, menatap Caleb dengan merendahkan.

"Kau telah membuat kesalahan besar," katanya. "Apa yang kau gagal untuk lihat adalah bahwa kau adalah orang yang memulai perang ini. Kepergianmulah yang telah memperingatkan mereka atas kehadiran kami.

"Selain itu, dia bukan yang seperti yang kau kira."

Caleb mulai, "Lalu bagaimana Anda menjelaskan -"

Anggota dewan lain berbicara kali ini "Berabad-abad yang lalu ada kasus seperti ini. Seorang vampir kebal terhadap senjata. Orang-orang mengira ia adalah Mesias seperti itu juga. Dia bukan. Dia hanya berdarah campuran.”

“Berdarah campuran?” tanya Caleb. Ia tiba-tiba terdengar tidak yakin.

“Vampir karena kelahiran,” lanjutnya, “satu-satunya yang tidak pernah menjelma. Mereka kebal terhadap sejumlah persenjataan, tapi tidak dengan yang lainnya. Namun itu tidak membuat mereka menjadi salah satu dari kami. Juga tidak membuat mereka abadi. Aku akan menunjukkan padamu,” lanjutnya, dan tiba-tiba berpaling pada Caitlin.

Ia merasa gugup dengan mata yang menatap melalui dirinya. "Katakan anak muda, siapa yang merubahmu?"

Caitlin tidak tahu apa yang dia bicarakan. Ia bahkan tidak tahu apa arti pertanyaannya. Sekali lagi malam ini, ia mendapati dirinya bertanya-tanya apa jawaban terbaik untuk diberikan. Ia ragu, merasa bahwa apa pun yang dikatakannya akan memiliki dampak yang besar tidak hanya pada keselamatan dirinya, tetapi juga pada Caleb. Ia ingin memberikan jawaban yang tepat untuk dia, tapi ia hanya tidak tahu harus berkata apa.

"Maafkan saya," katanya, "Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Saya tidak pernah berubah. Saya bahkan tidak tahu apa artinya itu."

Anggota dewan lain mencondongkan tubuh ke depan. "Lalu siapa ayahmu?" dia bertanya.

Dari semua pertanyaan, mengapa dia harus menanyakan hal itu padanya? Itulah pertanyaan yang selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri, seluruh hidupnya yang panjang. Siapa dia? Mengapa ia tidak pernah bertemu dengannya? Mengapa dia meninggalkannya? Jawaban itulah yang ia inginkan lebih dari apa pun dalam hidup. Dan sekarang, sesuai permintaan, ia tentu tidak bisa memberikannya.

"Saya tidak tahu," katanya, akhirnya.

Anggota dewan bersandar, seolah-olah dalam kemenangan. "Kau lihat?" ujarnya. "Berdarah campuran tidak berubah. Dan mereka tidak pernah tahu orang tua mereka. Kau keliru, Caleb. Kau telah membuat kesalahan besar."

"Ajaran menyatakan bahwa berdarah campuran akan menjadi Mesias, dan bahwa dia akan menuntun kita menuju pedang yang hilang," tukas Caleb kembali, dengan sikap menantang.

“Doktrin menyebutkan bahwa seorang berdarah campuran membawa Mesias,” koreksi anggota dewan itu. “Bukan menjadi.”

“Anda menguraikan kata-kata,” jawab Caleb. “Saya mengatakan pada Anda bahwa perang telah dimulai, dan dia akan memimpin kita pada pedang itu. Waktu berlalu dengan cepat. Kita harus membuat dia membimbing kita pada pedang itu. Itu adalah satu-satunya harapan yang kita miliki.”

“Sebuah dongeng anak-anak,” jawab anggota dewan yang lain. “Pedang yang kau bicarakan tidak ada. Dan jika memang ada, berdarah campuran tidak akan menjadi yang terpilih untuk memimpin kita.”

“Jika kita tidak, yang lainnya akan melakukannya. Mereka akan menangkapnya, dan menemukannya, dan menggunakan pedang itu untuk melawan kita.”

“Kau telah melakukan sebuah pelanggaran berat dengan membawanya ke sini,” ujar salah satu dari mereka, dari jauh di belakang majelis.

“Tapi saya –“ Caleb memulai.

“CUKUP!” bentak pemimpin anggota dewan itu.

Ruangan itu menjadi sunyi.

“Caleb. Kau telah sengaja melanggar beberapa hukum coven kami. Kau telah meninggalkan posmu. Kau telah menodai misimu. Kau telah memicu perang. Dan kau telah mempertaruhkan kita semua untuk seorang manusia. Bahkan bukan manusia, tapi berdarah campuran. Lebih buruk lagi, kau telah membawanya ke sini, langsung ke tengah-tengah kita, membahayakan kita semua.

"Kami menghukummu untuk 50 tahun kurungan. Kau tidak akan meninggalkan tanah ini. Dan kau akan membuang berdarah campuran ini dari dinding kita sekarang ini juga.

"Sekarang, tinggalkan kami.”

Bab Tiga Belas

Caitlin dan Caleb berdiri bersama di teras besar terbuka di luar Cloister, melihat keluar di malam hari. Jauh di sana, ia bisa melihat Sungai Hudson, mengintip di antara pepohonan yang meranggas di bulan Maret. Di kejauhan, ia bahkan bisa melihat lampu-lampu kecil mobil menuju jembatan. Malam itu benar-benar hening.

"Aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaan bagiku, Caleb," katanya lembut, setelah beberapa detik hening.

"Aku tahu," jawab Caleb.

"Apa yang aku lakukan di sini? Menurutmu siapa aku ini?" tanya Caitlin. Ini membawanya beberapa detik lagi untuk mengumpulkan keberanian untuk menanyakan pertanyaan terakhir, "Dan kenapa kau menyelamatkan aku?"

Caleb memandang ke cakrawala selama beberapa detik. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, atau jika ia bahkan akan menjawab.

Akhirnya, dia berpaling padanya. Dia menatap langsung ke matanya, dan kekuatan tatapannya sangat menakjubkan. Ia tidak bisa berpaling jika ia mencobanya.

"Aku adalah vampir," ujarnya, datar. "Dari Coven Putih. Aku hidup selama lebih dari 3.000 tahun, dan aku berada dalam coven ini selama 800 tahun di antaranya.”

“Mengapa aku ada di sini?”

“Coven dan ras vampir selalu berperang. Mereka sangat teritorial. Sayangnya, kau tersandung tepat ke tengahnya."

"Apa maksudmu?" tanyanya. "Bagaimana?"

Dia menatapnya, bingung. "Kau tidak ingat?"

Ia menatap kembali, dengan tatapan kosong.

"Pembunuhanmu. Itu memicu semua ini."

"Pembunuhan?"

Dia menggelengkan kepala dengan perlahan. "Jadi, kau tidak ingat. Khas. Pembunuhan pertama selalu seperti itu." Dia menatap matanya. "Kau membunuh seseorang tadi malam. Seorang manusia. Kau meminum darahnya. Di Carnegie Hall. "

Caitlin merasa dunianya berputar. Ia hampir tak percaya dirinya mampu menyakiti siapa pun, namun entah bagaimana, jauh di lubuk hati, ia merasa itu benar. Ia merasa takut untuk bertanya siapa orang itu. Mungkinkah Jonah?

Seakan membaca pikirannya, Caleb menambahkan, "Penyanyi itu."

Caitlin hampir tidak bisa mencerna semuanya. Rasanya terlalu nyata. Ia merasa seolah ia baru saja dicap dengan tanda hitam bahwa ia tidak pernah bisa membatalkannya. Ia merasa begitu hancur. Dan di luar kendali.

"Mengapa aku melakukannya?" tanyanya.

"Kau harus minum darah," jawabnya. "Mengapa kau melakukannya di sana, dan kemudian, itulah yang tidak seorang pun yang tahu. Itulah yang memulai perang ini. Kau berada di wilayah coven yang lain. Sebuah coven sangat kuat.”

“Jadi, aku hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah?”

Dia mendesah, “Aku tidak tahu. Mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu.”

Ia menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Mungkin kau dimaksudkan untuk ada di sana. Mungkin itu adalah takdirmu.”

Ia berpikir. Ia berpikir keras, takut untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya. Akhirnya, ia memantapkan keberaniannya. “Jdi apakah itu berarti…aku adalah seorang vampir?”

Dia memalingkan muka. Setelah beberapa detik, dia akhirnya berkata, “Aku tidak tahu.”

Dia berpaling dan menatapnya.

“Kau bukan seorang vampir sungguhan. Tapi kau bukan manusia sungguhan juga. Kau berada entah di mana di antaranya.”

“Berdarah campuran?” tanyanya.

“Itulah apa yang mereka sebut. Aku tidak begitu yakin.”

“Apakah itu tepatnya?”

“Itu adalah seorang vampir yang dilahirkan. Itu bertentangan dengan hukum kami, doktrin kami, bagi seorang vampir untuk mempunyai keturunan dengan seorang manusia. Terkadang, meskipun, seorang vampir kawakan akan melakukannya. Hal itu sangat merendahkan ras kami. Hukuman untuk kawin silang dengan seorang manusia adalah kematian. Tidak terkecuali. Dan anak itu dianggap orang buangan.”

“Tapi aku kira kau mengatakan bahwa Mesiahmu adalah seseorang berdarah campuran? Bagaimana mereka meremehkan seseorang berdarah campuran jika seseorang itu akan menjadi penyelamat mereka?”

“Itulah paradoks agama kami,” jawabnya.

"Ceritakan lebih banyak," ia mendesak. "Bagaimana tepatnya seseorang berdarah campuran itu berbeda?"

"Vampir sungguhan minum darah dari saat mereka berubah. Darah campuran biasanya tidak mulai minum darah sampai mereka cukup umur."

Ia takut untuk mengajukan pertanyaan berikutnya.

"Kapankah itu?”

“18 tahun.”

Caitlin berpikir keras. Itu mulai masuk akal. Ia baru saja berumur 18. Dan hasratnya baru saja dimulai.

"Darah campuran juga tidak abadi," lanjut Caleb. "Mereka bisa mati, seperti manusia biasa. Kami, sebaliknya, tidak bisa.

"Untuk menjadi seorang vampir sejati, seseorang harus dihidupkan oleh vampir sejati, seseorang dengan maksud untuk meminum. Para vampir tidak diperbolehkan untuk mengubah sembarang orang - itu akan menggelembungkan ras kita terlalu besar. Mereka harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Dewan Induk."

Caitlin mengerutkan alisnya, mencoba untuk mencerna semuanya.

"Kau memiliki sejumlah kualitas kami, tetapi tidak semua. Dan karena kau bukan keturunan penuh, sayangnya, ras vampir tidak akan menerimamu. Setiap vampir dimiliki sebuah coven. Itu terlalu berbahaya untuk tidak dimiliki. Biasanya, aku bisa mengajukan petisi untuk menerima kau dalam barisan kami. Tetapi mengingat bahwa kau adalah campuran...mereka tidak akan mengizinkannya. Tidak ada coven yang mau."

Caitlin berpikir keras. Jika ada sesuatu yang lebih buruk daripada menemukan bahwa dirinya sesuatu selain manusia, mengetahui bahwa ia tidak benar-benar sesuatu. Mengetahui bahwa ia tidak bisa punya tempat. Ia tidaklah di sini atau di sana, terjebak di antara dua dunia.

"Jadi apa semua pembicaraan tentang Mesias? Tentang aku yang merupakan...Yang Terpilih?"

"Doktrin kami, hukum kuno kami, mengatakan kepada kami bahwa suatu hari seorang utusan, seorang Mesias, akan tiba, dan membawa kami pada pedang yang hilang. Ini memberitahu kami bahwa pada hari itu, perang akan dimulai, sebuah akhir, perang habis-habisan antara ras vampir, perang yang bahkan akan menyeret ras manusia. Ini adalah versi kami tentang Hari Kiamat. Satu-satunya hal yang bisa menghentikannya, yang bisa menyelamatkan kami semua, adalah pedang yang hilang ini. Dan satu-satunya orang yang dapat menuntun kami pada pedang itu adalah Mesias.

“Ketika aku menyaksikan apa yang terjadi padamu mala mini, aku merasa yakin bahwa itu adalah kau. Aku tidak pernah melihat vampir lain yang kebal terhadap air suci seperti itu.”

Ia menatap pada dirinya.

“Dan sekarang?” tanyanya.

Dia memandang ke arah cakrawala.

“Aku tidak begitu yakin.”

Caitlin menatapnya. Ia merasakan sebuah keputus-asaan merebak.

“Jadi,” ia bertanya, takut atas jawabannya, “apakah itu adalah satu-satunya alasan kau menyelamatkan aku? Karena kau piker aku akan menuntunmu pada sebuah pedang yang hilang?”

Caleb balas memandang, dan ia bisa melihat kebingungan dalam wajahnya.

“Apa alasan lain yang akan ada?” jawabnya.

Ia merakan angin menghisapnya, seolah-olah ia telah dipukul oleh sebuah pemukul. Semua cinta yang ia rasakan terhadapnya, hubungan yang ia kira akan mereka miliki, terkuras dalam satu helaan napas. Ia merasa ingin menangis. Ia ingin berbalik dan lari, tapi tidak tahu ke mana harus pergi. Ia merasa malu.

“Nah,” katanya, menahan air matanya, “paling tidak istrimu akan senang mengetahui bahwa kau hanya melakukan tugasmu. Bahwa kau tidak punya perasaan terhadap orang lain. Atau apapun kecuali pedang bodoh itu.”

Ia berbalik dan berjalan menjauh. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi, tapi ia harus menjauh darinya. Perasaannya terlalu tidak tertahankan. Ia tidak tahu bagaimana untuk membuatnya menjadi masuk akal.

Ia baru saja pergi beberapa kaki ketika ia merasakan sebuah tangan di lengannya. Dia memutar tubuhnya. Dia berdiri di sana, menatap ke dalam matanya.

“Dia bukan istriku,” katanya dengan lembut. “Kami pernah menikah dulu, ya, tapi itu 700 tahun yang lalu. Pernikahan itu hanya bertahan satu tahun. Dalam ras vampir, sayangnya, mereka tidak melupakan sesuatu dengan mudah. Tidak ada pembatalan.”

Caitlin mengibaskan tangannya lepas, “Nah, apapun dia, dia akan gembira karena kau kembali.”

Caitlin tetap berjalan, melangkah menjauh.

Sekali lagi dia menghentikannya, kali ini mengepungnya dan berdiri tepat di jalannya.

“Aku tidak tahu bagaimana aku sudah menyinggungmu,” katanya, “tapi apapun yang aku lakukan, aku minta maaf.”

Itu adalah apa yang tidak kau lakukan, Caitlin ingin mengatakannya. Itu adalah apa yang tidak kau pedulikan, bahwa kau tidak benar-benar mencintaiku. Bahwa aku hanyalah sebuah obyek, sesuatu untuk mencapai tujuan. Hanya seperti pria-pria lain yang pernah aku kenal. Aku telah mengira bahwa kali ini, mungkin, dia berbeda.

Tapi ia tidak mengatakannya, sebaliknya, ia hanya menundukkan kepalanya, dan sebaik mungkin menahan air mata. Ia tidak bisa melakukannya. Ia merasakan air mata panas mengalir jatuh kepipinya. Ada sebuah tangan di pipinya, dan dia mengangkat kepalanya, memaksanya untuk memandang dia.

“Aku minta maaf,” akhirnya dia berkata, terdengar tulus. “Kau memang benar. Itu bukan satu-satunya alasan aku menyelamatkanmu.” Dia menarik napas dalam. “Aku memang merasakan sesuatu terhadap dirimu.”

Caitlin merasakan hatinya melambung.

“Tapi kau harus mengerti, itu terlarang. Hukum sangat ketat terhadap hal ini. Seorang vampir tidak pernah dapat, selamanya, bersama dengan seorang manusia, atau seorang darah campuran, atau siapapun yang bukan vampir sejati. Hukumannya adalah kematian. Tidak ada cara lain untuk itu.”

Caleb menunduk.

“Jadi, kau lihat,” dia akhirnya melanjutkan, “jika aku tidak merasakan sesuatu terhadap dirimu, jika aku hanya bertindak untuk sejumlah alasan selain untuk kebaikan, maka itu akan berarti kematianku.”

“Lalu, apa yang akan terjadi padaku?” tanyanya. Ia memandang ke sekeliling. “Yang jelas, aku tidak diterima di sini. Ke mana aku harus pergi?”

Caleb menunduk, menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa pulang,” tambahnya. “Aku tidak lagi punya rumah. Para polisi mencariku. Demikian juga para vampir jahat itu. Apa yang harus aku lakukan? Pergi ke luar sana sendirian? Aku bahkan tidak tahu apa aku ini.”

“Aku harap aku mempunya jawabannya. Aku mencoba. Aku sungguh-sungguh melakukannya. Tapi tidak ada lagi yang bisa aku perbuat. Tidak seorang pun bisa menentang Dewan. Itu akan berarti kematian kita. Aku dihukum 50 tahun kurungan. Aku tidak bisa meninggalkan tanah ini. Jika aku melakukannya, aku akan diusir dari klanku selamanya. Kau harus mengerti.”

Caitlin berbalik pergi, tapi sekali lagi dia memutar tubuhnya.

“Kau harus mengerti! Kau hanyalah manusia. Hidupmu akan berakhir dalam 80 tahun. Tapi untukku, ribuan tahun. Penderitaanmu singkat. Penderitaanku tiada akhir. Aku tidak bisa dibuang untuk selamanya. Covenku adalah satu-satunya yang aku miliki. Aku mencintaimu. Aku merasakan sesuatu terhadap dirimu. Sesuatu yang aku sendiri bahkan tidak mengerti. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan terhadap siapapun dalam 3.000 tahun. Tapi aku tidak bisa menanggung akibat meninggalkan dinding ini.”

“Jadi,” ujarnya, “aku akan bertanya padamu lagi. Apa yang akan terjadi pada diriku?”

Dia hanya menundukkan kepalanya.

“Aku mengerti,” jawabnya. “Aku bukan lagi masalahmu.”

Ia mengambil jalannya segera melintasi teras itu , dan menuruni tangga batu. Kali ia benar-benar pergi, menuju Bronx dalam kegelapan malam Kota New York. Ia tidak pernah merasa sendiri seperti ini.

Bab Empat Belas

Kyle berjalan tepat menuju koridor batu, diapit oleh serombongan kecil vampir. Mereka berjalan cepat menyusuri lorong, langkah kaki mereka bergema, salah satu ajudannya memegang obor di depan.

Mereka sedang menuju jauh ke dalam koridor pimpinan, ruang bawah tanah yang tidak satu pun vampir yang pernah masuk kecuali diberikan izin. Kyle belum pernah ke bawah sini sebelumnya. Tapi pada hari ini, dia dipanggil oleh pemimpin tertingginya sendiri. Pasti serius. Pada 4.000 tahun, Kyle tidak pernah dipanggil. Tapi dia telah mendengar dari orang lain yang pernah dipanggil. Mereka yang pernah ke sana, dan tidak akan kembali.

Kyle menelan ludah, dan berjalan lebih cepat. Dia selalu percaya bahwa itu yang terbaik untuk menyambut berita buruk dengan cepat, dan segera menyelesaikannya.

Mereka datang di pintu besar yang terbuka, dijaga oleh beberapa vampir, yang menatap dingin padanya. Akhirnya, mereka melangkah ke samping dan membuka pintu. Tapi setelah Kyle berlalu, mereka mengulurkan tongkat mereka, mencegah rombongan mengikuti. Kyle merasa pintu dibanting di belakangnya.

Kyle melihat puluhan vampir berbaris, tegak, di sepanjang dinding, berdiri diam-diam di kedua sisi ruangan. Di depan dan tengah di dalam ruangan, duduk di kursi besar logam adalah Rexus, pemimpin tertingginya.

Kyle mengambil beberapa langkah ke depan dan menundukkan kepalanya, menunggu untuk ditangani.

Rexus menatap kembali dengan tatapan matanya birunya yang dingin dan keras.

"Ceritakan semua yang kau tahu tentang manusia ini, atau berdarah campuran, atau apa pun dia," ia memulai. "Dan tentang mata-mata ini. Bagaimana dia menyusup ke kelompok kita?"

Kyle mengambil napas dalam-dalam, dan memulai.

"Kami tidak tahu banyak tentang gadis itu," ujarnya. "Kami tidak tahu mengapa air suci tidak memengaruhi dirinya. Tapi kami tahu bahwa dia adalah orang yang menyerang penyanyi itu. Kami memiliki penyanyi itu dalam tahanan sekarang, dan segera setelah dia pulih, kami mengharapkan dia untuk membawa kita padanya. Dia dihidupkan olehnya. Dia memiliki aroma dalam darahnya."

"Apa coven yang dia miliki?" tanya Rexus.

Kyle berjalan dalam kegelapan, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Kami pikir dia hanya vampir bajingan.”

“Pikir!? Apa kau tidak tahu apa-apa?”

Kyle, ditegur, merasa pipinya memerah.

"Jadi kau membawanya ke tengah-tengah kita tanpa mengetahui sesuatu tentang dia," kata Rexus. "Kau membahayakan seluruh coven kita."

"Saya membawa dia untuk menginterogasinya. Aku tidak tahu dia akan kebal."

"Dan bagaimana dengan mata-mata itu?" tanya Rexus, memotongnya.

Kyle menelan ludah.

"Caleb. Kami membawanya masuk 200 tahun yang lalu. Dia telah membuktikan loyalitasnya berkali-kali. Kami tidak pernah punya alasan untuk mencurigainya.”

“Siapa yang telah merekrutnya?” tanya Rexus.

Kyle berhenti sejenak. Dia menelan ludah dengan sulit.

“Saya.”

“Jadi,” ujar Rexus. “Sekali lagi, kau mengizinkan sebuah ancaman dalam barisan kita.”

Rexus melotot kembali. Itu bukan pertanyaan. Itu sebuah pernyataan. Dan penuh dengan kecaman.

"Saya minta maaf, tuan," kata Kyle, menundukkan kepala. "Tapi dalam pembelaan saya, tidak ada seorang pun di sini, tidak satu vampir, pernah mencurigai Caleb. Pada banyak kesempatan - "

Rexus mengangkat tangannya.

Kyle berhenti.

"Kau telah memaksaku untuk memulai perang. Sekarang aku akan harus mengarahkan kembali semua sumber daya kita. Rencana induk kita harus ditunda."

"Saya minta maaf, tuan. Saya akan melakukan apapun yang saya bisa untuk menemukan mereka, dan membuat mereka membayarnya. "

"Aku takut itu terlalu terlambat untuk itu."

Kyle menelan ludah, menguatkan dirinya untuk apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Jika itu adalah kematian, dia sudah siap.

"Aku bukan lagi yang kau butuhkan untuk menjawab. Aku sendiri telah dipanggil. Oleh Dewan Tertinggi."

Mata Kyle terbuka lebar. Dia telah mendengar desas-desus di sepanjang hidupnya tentang Dewan Tertinggi, badan pemerintahan vampir yang bahkan pemimpin tertinggi harus patuh. Dan sekarang dia tahu bahwa itu adalah nyata, dan bahwa mereka memanggilnya. Dia menelan ludah.

"Mereka sangat bahagia dengan apa yang terjadi di sini hari ini. Mereka ingin jawaban. Kau akan menjelaskan kesalahan yang kau buat, mengapa dia melarikan diri, mengapa mata-mata menyusup ke kelompok kita, dan rencana kita untuk membersihkan mata-mata lainnya. Kau kemudian akan menerima penilaian mereka dalam keputusan.”

Kyle perlahan mengangguk, takut untuk apa yang akan datang. Tidak satu pun dari hal itu terdengar bagus.

"Kita bertemu di bulan baru berikutnya. Itu memberi kau waktu. Sementara itu, aku sarankan kau temukan darah campuran ini. Jika kau bisa, mungkin saja menyelamatkan nyawamu."

"Saya berjanji, tuanku, Saya akan memanggil setiap orang dari vampir kami. Dan saya akan memimpin penangkapan itu sendiri. Kami akan menemukannya. Dan saya akan membuat dia membayar.”

Bab Lima Belas

Jonah duduk di kantor polisi, sangat takut. Di satu sisi duduk ayahnya, tampak lebih gugup daripada yang pernah dilihat Jonah, dan di sisi lain, pengacara yang baru disewa. Di seberang mereka, ruang interogasi kecil yang terang, duduk lima detektif polisi. Di belakang mereka berdiri lima lagi, semua mondar-mandir dan gelisah.

Itu adalah berita terbesar hari ini. Tidak hanya karena penyanyi yang diakui dunia internasional terbunuh, tepat selama pertunjukan debutnya, tepat di Carnegie Hall - tidak hanya karena dia dibunuh dengan cara yang mencurigakan, tetapi hal-hal telah berhasil mendapatkan petunjuk yang bahkan lebih buruk. Ketika polisi menindaklanjuti hanya mengarahkan mereka, ketika mereka mengunjungi apartemennya, empat polisi tewas. Untuk mengatakan bahwa hal-hal telah berkembang untuk membuatnya lebih ringan.

Sekarang, tidak hanya mereka setelah "Penjagal Beethoven" (atau "Pembunuh Carnegie Hall," seperti itulah beberapa makalah menyebutnya) tetapi mereka juga mengejar seorang pembunuh polisi. Seorang pembunuh empat polisi. Setiap polisi di kota itu ditugaskan pada kasus ini, dan tak seorang pun akan beristirahat sampai hal itu terpecahkan.

Dan satu-satunya petunjuk mereka sedang duduk di seberang meja dari mereka. Jonah. Tamunya malam itu.

Jonah duduk dengan mata terbelalak, merasakan tetes keringat terbentuk lagi di dahinya. Ini adalah jam ketujuh di ruangan itu. Selama tiga jam pertama ia terus menyeka keringat dari garis rambutnya. Sekarang dia hanya membiarkan keringat menetes di sisi wajahnya. Ia merosot di kursinya, merasa kalah.

Ia tidak tahu apalagi yang harus ditambahkan. Polisi demi polisi memasuki ruangan itu, semua menanyakan pertanyaan yang sama. Semua bervariasi pada satu tema. Ia tidak mempunyai jawabannya. Ia tidak bisa memahami mengapa mereka terus menanyakan hal yang sama padanya, lagi dan lagi. Berapa lama kau telah mengenalnya? Mengapa kau membawnya ke acara ini? Mengapa dia pergi saat istirahat? Mengapa kau tidak mengikutinya?

Bagaimana itu semua mengarah padanya? Ia telah menunjukkan dirinya dengan sangat cantik. Dia sangat manis. Ia suka berada bersamanya, dan berbicara kepadanya. Dia yakin itu akan menjadi sebuah kencan impian.

Lalu dia bertingkah aneh. Segera setelah music dimulai, ia merasakan kegelisahan terbentuk dalam dirinya. Dia terlihat…sakit bukan kata yang tepat. Dia nampak…gelisah. Lebih dari itu: dia nampak seperti dia akan meledak keluar dari kulitnya. Seperti dia harus pergi ke suatu tempat, dan pergi dengan cepat.

Pertamanya dia merasa itu hanyalah karena dia tidak menyukai konser itu. Ia telah bertanya-tanya apakah membawanya ke sana adalah gagasan yang jelek. Lalu ia telah bertanya-tanya apakah mungkin dia tidak menyukainya. Tapi kemudian nampaknya itu berkembang lebih kuat, dan dia hampir bisa merasakan panas menyebar keluar dari kulitnya. Dia lalu mulai bertanya-tanya apakah dia menderita sejenis penyakit, mungkin keracunan makanan.

Ketika dia benar-benar menghambur keluar dari tempat itu, ia bertanya-tanya apakah dia berlari ke kamar mandi. Ia bingung, tapi ia menunggu dengan sabar di pintu, dengan asumsi dia akan kembali setelah istirahat. Tapi setelah lima belas menit, setelah bel akhir berbunyi, ia sudah kembali ke tempat duduknya sendirian, bingung.

Setelah 15 menit berlalu, lampu di seluruh ruangan telah dinyalakan. Seorang pria datang di atas panggung dan membuat pengumuman bahwa konser tidak akan berlanjut. Bahwa pengembalian dana akan dikeluarkan. Dia tidak mengatakan mengapa. Seluruh orang tersentak, kesal, tapi kebanyakan bingung. Jonah telah menghadiri konser sepanjang hidupnya, dan belum pernah melihat satu pun berhenti di istirahat. Mungkinkah sang vokalis ternyata sakit?

“Jonah?” tukas detektif itu.

Jonah memandang ke arahnya, terkejut.

Detektif itu menatap ke bawah, dengan marah. Grace namanya. Dia adalah polisi yang paling sulit yang pernah ia temui. Dan dia tak kenal lelah.

"Kau tidak dengar apa yang baru saya kemukakan?"

Jonas menggeleng.

"Aku ingin kau ceritakan lagi segala sesuatu yang kau tahu tentang dia," katanya. "Ceritakan lagi bagaimana kau bertemu."

"Aku sudah menjawab pertanyaan itu satu juta kali," jawab Jonah, frustrasi.

"Aku ingin mendengarnya lagi."

"Aku bertemu dengannya di kelas. Dia anak baru. Aku memberinya tempat dudukku."

"Lalu apa?"

"Kita berbicara sedikit, melihat satu sama lain di kantin. Aku mengajaknya kencan. Dia bilang ya."

"Itu saja?" tanya detektif. "Sama sekali tidak ada rincian lainnya, tidak suatu hal lain untuk ditambahkan?"

Jonah berdebat dengan dirinya sendiri atas berapa banyak yang harus dikatakan kepada mereka. Tentu saja, masih ada lagi. Ada ia dipukuli oleh para pengganggu itu. Ada buku hariannya, berbaring misterius di sampingnya. Kecurigaannya kepada dia sudah ada. Bahwa dia telah membantunya. Bahwa dia bahkan memukuli orang-orang itu entah bagaimana. Bagaimana, ia tidak tahu.

Tapi apakah ia seharusnya memberitahu polisi itu? Bahwa dia telah dipukuli? Yang menurutnya ia ingat melihat dia di sana? Bahwa ia berpikir ia ingat melihat dia memukuli empat orang yang dua kali ukuran tubuhnya? Tak satu pun dari itu masuk akal, bahkan tidak baginya. Itu pasti tidak akan masuk akal bagi mereka. Mereka hanya akan berpikir ia berbohong, membual. Mereka sedang mencarinya. Dan ia tidak akan membantu.

Meskipun semuanya, ia merasa protektif terhadap dirinya. Ia tidak bisa benar-benar mengerti apa yang telah terjadi. Sebagian dari dirinya tidak percaya, tidak mau percaya. Apakah dia benar-benar membunuh penyanyi itu? Mengapa? Apakah benar-benar ada dua lubang di lehernya, seperti yang dikatakan surat kabar? Apakah dia menggigitnya? Apakah dia semacam...

"Jonah," bentak Grace. "Kataku, apakah ada hal lain?"

Detektif itu menatap ke arahnya.

"Tidak," katanya, akhirnya. Ia berharap dia tidak tahu ia berbohong.

Seorang detektif baru melangkah maju. Dia membungkuk, menatap langsung ke mata Jonah. "Apakah ada sesuatu yang dia katakan malam itu yang menunjukkan bahwa mentalnya tidak stabil?"

Jonah mengerutkan alisnya.

"Maksudmu, gila? Mengapa aku berpikir begitu? Dia adalah teman yang hebat. Aku benar-benar menyukainya. Dia cerdas, dan baik. Aku suka berbicara dengannya."

"Apa yang kalian bicarakan?" Itu adalah detektif wanita lagi.

“Beethoven,” jawab Jonah.

Para detektif saling memandang. Dengan bingung, ekspresi yang tidak menyenangkan di wajah mereka, orang akan membayangkan ia berkata "pornografi."

"Beethoven?" salah seorang detektif, seorang pria gemuk berusia 50-an, bertanya, dengan suara mengejek.

Jonah kelelahan, dan merasa seperti mengejek dia kembali.

"Dia seorang komposer," kata Jonah.

"Aku tahu siapa Beethoven, anak nakal," bentak detektif itu.

Detektif lain, seorang pria gemuk di tahun 60-an dengan pipi merah yang besar, mengambil tiga langkah ke depan, menempatkan telapak gemuk di atas meja, dan membungkuk cukup dekat sehingga Jonah bisa mencium napas kopi yang tidak enak. "Perhatikan sobat, ini bukan permainan. Empat polisi mati karena pacar kecilmu," katanya. "Sekarang kita tahu bahwa kau tahu di mana dia bersembunyi," katanya. "Kau lebih baik mulai berkata dan -"

Pengacara Jonah mengangkat tangannya. "Itu dugaan, detektif. Anda tidak bisa menuduh klien saya atas - "

"Aku tidak peduli tentang klienmu!" detektif itu berteriak kembali.

Keheningan tegang jatuh di atas ruangan.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan masuklah detektif lain, memakai sarung tangan karet. Dia membawa telepon Jonah di satu tangan, dan meletakkannya di meja di sampingnya. Jonah senang melihatnya kembali.

“Ada sesuatu?" salah seorang polisi bertanya.

Polisi dengan sarung tangan membawanya dan melemparkannya di tempat sampah. Dia menggeleng.

"Tidak ada. Ponsel anak ini bersih. Dia punya beberapa pesan teks darinya sebelum acara, tapi itu saja. Kami mencoba nomor teleponnya. Mati. Kami menarik semua catatan telepon sekarang. Lagi pula, dia mengatakan yang sebenarnya. Sebelum kemarin, dia tidak pernah menelpon atau mengirim sms padanya."

"Sudah kubilang," Jonah membentak kembali pada polisi itu.

"Detektif, apakah bisa kita teruskan?" tanya pengacara Jonah.

Para detektif berbalik dan saling memandang.

"Klien saya tidak melakukan kejahatan, dan tidak melakukan kesalahan. Dia telah bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan ini, menjawab semua pertanyaan Anda. Dia tidak berniat meninggalkan negara, atau bahkan kota. Ia tersedia untuk diinterogasi setiap saat. Saya minta sekarang bahwa ia dibebaskan. Dia adalah seorang pelajar, dan dia bersekolah di pagi hari. "Pengacara itu menatap arlojinya. "Ini hampir 01:00 pagi, Tuan-tuan."

Tepat pada saat itu, berdering keras di dalam ruangan, disertai dengan getaran yang kuat. Semua mata dalam ruangan tiba-tiba beralih ke ponsel Jonah, terletak di sana di meja logam. Itu bergetar lagi, dan menyala. Sebelum Jonah bisa mencapainya, ia melihat dari siapa. Seperti yang dilakukan orang lain di dalam ruangan.

Itu dari Caitlin.

Dia ingin tahu di mana ia berada.

Bab Enam Belas

Caitlin memeriksa ponselnya lagi. Saat itu jam 1 pagi, dan ia baru saja mengirim Jonah sms. Tidak ada jawaban. Dia mungkin tidur. Atau jika terjaga, dia mungkin tidak ingin mendengar kabar darinya. Tapi itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan untuk dilakukan.

Ketika ia berjalan jauh dari Cloisters, dalam udara malam yang segar. Semakin jauh ia dari tempat itu, semakin baik perasaannya. Keberadaan Caleb, energinya, perlahan-lahan terangkat darinya, dan ia mulai merasa seperti ia bisa berpikir dengan jernih lagi.

Ketika ia bersama dengannya, untuk alasan yang tidak dapat ia pikirkan dengan jernih untuk dirinya sendiri. Keberadaanya telah menguras semuanya. Ia menyadari tidak mungkin untuk memikirkan apa-apa, atau siapa saja, yang lain.

Sekarang ia sendirian lagi, dan jauh darinya, pikiran tentang Jonah membanjirinya kembali. Ia merasa bersalah karena menyukai Caleb juga – merasa seolah entah bagaimana ia telah mengkhianati Jonah. Jonah telah begitu baik padanya di sekolah, begitu baik padanya pada kencan mereka. Ia bertanya-tanya bagaimana perasaaan dia tentangnya sekarang, meluap keluar begitu saja. Dia mungkin membencinya.

Ia berjalan melintasi taman Fort Tryon, dan memeriksa ponselnya lagi. Untungnya, itu adalah sebuah ponsel kecil, dan ia telah menyembunyikannya dengan baik di dalam saku kecil gaun ketatnya. Entah bagaimana, ponsel itu selamat melalui semua hal ini.

Tapi baterainya tidak. Itu sudah hampir dua hari tanpa pengisian daya, dan ketika ia menunduk, ia melihat garis merahnya. Hanya ada beberapa menit tersisa sebelum ponsel itu benar-benar mati. Ia berharap Jonah akan menjawabnya sebelum ponsel itu mati. Jika tidak, ia tidak punya cara lain untuk menghubunginya.

Apakah dia sedang tidur? Apakah dia mengabaikannya? Ia tidak bisa menyalahkan dia. Ia mungkin sudah mengabaikannya.

Caitlin berjalan dan berjalan, melintasi taman itu. Ia tidak punya gagasan ke mana ia pergi. Yang ia tahu bahwa ia harus pergi jauh dari tempat itu. Dari Caleb. Dari vampir. Dari semua ini. Ia hanya menginginkan hidup normalnya kembali. Dalam ingatannya, ia memikirkan bahwa, jika ia berjalan cukup jauh, dan cukup lama, mungkin semua luka ini akan hilang. Mungkin terbitnya matahari akan membawa sebuah hari baru, dan semua ini akan dibasuh pergi sebagai sebuah mimpi buruk.

Ia memeriksa ponselnya. Sekarang ponsel itu berkedip-kedip. Ia tahu dari pengalaman bahwa ia memiliki 30 detik sebelum ponsel itu mati. Ia memadangi seluruh waktu kedipannya, berharap, berdoa, Jonah akan membalas. Bahwa dia tiba-tiba akan menelpon dan berkata, Di mana kau? Aku akan segera datang. Bahwa dia akan menyelamatkannya dari semua itu.

Tapi sebagaimana ia mengamati ponselnya, tiba-tiba ponsel itu gelap. Mati. Benar-benar mati.

Ia menyelipkan ponsel itu kembali ke sakunya, pasrah. Pasrah terhadap hidup barunya. Pasrah karena tidak memiliki seorang pun yang tersisa. Ia hanya akan mengandalkan pada dirinya sendiri. Seperti yang selalui ia lakukan.

Ia keluar dari Taman Fort Tryon, dan berada di Bronx, kembali ke kisi-kisi kota. Itu memberinya sensasi kenormalan. Dari arah. Ia tidak tahu persis ke mana harus pergi, tapi ia menyukai ia menuju ke arah tengah kota.

Ya. Ke situlah ia harus pergi. Stasiun Penn. Ia akan naik kereta, pergi jauh dari semua ini. Mungkin kembali ke kota sebelumnya. Mungkin adiknya masih akan berada di sana. Ia bisa mulai dari awal lagi. Bertingkah seolah-olah semua ini tidak pernah terjadi.

Ia melihat ke sekelilingnya: grafiti di mana-mana, preman di setiap sudut. Tapi entah kenapa, kali ini, mereka meninggalkannya sendirian. Mungkin mereka menyadari bahwa ia berada di ujung talinya. Tidak ada yang tersisa untuk diambil darinya.

Ia melihat sebuah tanda. Jalan No. 186. Itu adalah perjalanan yang jauh. 150 blok menuju Stasiun Penn. Itu akan memerlukan sepanjang malam. Tapi itu apa yang ia inginkan. Untuk menjernihkan kepalanya. Dari Caleb, dari Jonah. Dari peristiwa dua malam terakhir.

Ia melihat masa depan yang lain di depannya, dan ia siap untuk berjalan sepanjang malam.

Bab Tujuh Belas

Ketika Caitlin terbangun, hari sudah pagi. Ia bisa merasakan lebih dari melihat sinar matahari yang mencolok, dan ia dengan grogi mengangkat kepalanya untuk membangun fondasinya. Ia merasakan batu yang dingin menyentuh kulit lengan dan dahinya. Di mana ia berada?

Saat ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling, ia menyadari ia berada di Central Park. Ia ingat sekarang ia telah berhenti di sepanjang jalan, kadang-kadang pada malam hari, untuk beristirahat. Ia telah begitu lelah, sangat lelah. Ia pasti tertidur sambil duduk, bersandar dan beristirahat lengan dan kepalanya di pagar marmer.

Itu sudah pertengahan pagi, dan orang-orang mengalir melintasi taman. Seorang wanita, dengan anak perempuannya, berjalan lewat dan menatapnya aneh. Ia menarik putrinya mendekat saat mereka lewat.

Caitlin duduk lebih tegak, dan melihat sekeliling. Beberapa orang menatapnya, dan ia bertanya-tanya apa yang mereka pikirkan. Ia menatap pakaian kotornya. Pakaiannya tertutup kotoran. Pada titik ini, ia tidak benar-benar peduli. Ia hanya ingin keluar dari kota ini, tempat ini yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tidak beres.

Kemudian rasa itu memukulnya. Kelaparan. Sebuah sengatan melanda, dan ia merasa lebih lapar dari pernah ia rasakan. Tapi itu bukan kelaparan yang normal. Rasa lapar itu gila, dorongan kebuasan. Untuk minum darah. Seperti yang dirasakannya di Carnegie Hall.

Seorang anak kecil bermain dengan bola sepak, tidak lebih dari enam tahun, menendangnya, secara tidak sengaja, tepat di dekatnya. Dia datang berjalan ke arahnya. Orang tuanya ada jauh di depan, paling tidak 30 kaki.

Sekarang adalah kesempatannya. Setiap tulang dalam tubuhnya menjerit untuk santapan. Ia menatap lehernya, menyorot darah yang berdenyut. Ia bisa merasakannya. Hampir menciumnya. Ia menginginkan dirinya untuk menerkam.

Tapi di suatu tempat, sebagian dirinya menghentikan dirinya. Ia tahu bahwa ia akan kelaparan kalau ia tidak menghisap, dan bahwa ia akan mati segera. Tapi ia lebih baik mati daripada membahayakan dirinya. Ia membiarkan dia pergi.

Sinar matahari ini buruk, tapi tertahankan. Apakah itu karena ia berdarah campuran? Bagaimana hal itu akan memengaruhi vampir lain? Mungkin ini memberinya semacam keunggulan.

Ia memandang sekeliling, berkedip pada sinar matahari yang keras, dan merasa bingung dan bingung. Ada begitu banyak orang. Begitu banyak keributan. Mengapa ia harus berhenti di sini. Ke mana ia akan pergi? Ya...Stasiun Penn.

Ia merasakan sakit di kakinya yang lelah, sakit akibat berjalan. Tapi ia tidak jauh sekarang. Tidak lebih dari 30 blok. Ia akan berjalan sepanjang sisa perjalanan, naik kereta, dan pergi keluar dari sini. Ia akan mendesak dirinya, dari kehendak belaka, untuk menjadi normal kembali. Kalau ia cukup jauh dari kota, mungkin, mungkin saja itu akan terjadi.

Caitlin berdiri perlahan, bersiap untuk berjalan.

"Berhenti!" teriak sebuah suara.

"Jangan bergerak!" teriak suara lain.

Caitlin berbalik perlahan-lahan.

Di hadapannya setidaknya selusin polisi New York berseragam, semua dengan pistol teracung dan mengarahkan kepadanya. Mereka menjaga jarak mereka, sekitar 15 kaki jauhnya, seolah-olah takut untuk lebih dekat. Seolah ia semacam binatang liar.

Ia kembali menatap mereka, dan anehnya, tidak takut. Sebaliknya, ia merasa semacam kedamaian aneh muncul dalam dirinya. Ia mulai merasa lebih kuat dari manusia. Dan dengan setiap saat yang berlalu, ia merasa tidak menjadi bagian dari ras mereka. Ia merasakan semacam perasaan aneh tak terkalahkan, merasa bahwa, tidak peduli berapa banyak dari mereka, atau apa persenjataan yang mereka miliki, ia bisa berlari lebih cepat dari mereka, atau mengalahkan mereka.

Di sisi lain, ia merasa lelah. Pasrah. Sebagian dirinya benar-benar tidak ingin berlari lagi. Dari para Polisi. Dari para vampir. Ia tidak tahu ke mana ia berlari, atau benar-benar dari apa ia berlari. Dalam beberapa cara yang aneh, ia akan menyambut diseret oleh polisi. Untuk tertangkap setidaknya akan ada sesuatu yang normal, rasional. Mungkin mereka akan mengguncangnya ke atas dan membuatnya menyadari bahwa ia hanya manusia.

Para petugas perlahan, berhati-hati mendekatinya, pistol teracung, bergerak dengan sangat hati-hati.

Ia mengawasi mereka datang lebih dekat, lebih tertarik daripada takut. Indranya telah memuncak. Ia melihat setiap detail kecil. Bentuk terperinci senjata mereka, kontur pemicu, bahkan seberapa panjang kuku mereka.

"Tunjukkan tanganmu di tempat yang terlihat!" seorang polisi berteriak.

Polisi terdekat beberapa hanya kaki jauhnya.

Ia bertanya-tanya akan seperti apa hidupnya. Jika ayahnya tidak pernah meninggalkannya. Jika mereka tidak pernah pindah. Jika dia punya seorang ibu yang berbeda. Jika mereka tinggal menetap di salah satu kota. Apakah ia sudah punya pacar. Apakah ia pernah telah normal? Akankah hidup menjadi biasa saja?

Polisi terdekat sekarang hanya beberapa kaki jauhnya.

"Berbalik dan tempatkan tanganmu di belakang punggung," kata polisi itu. "Perlahan."

Ia perlahan menurunkan tangannya, berbalik, dan meletakkan lengannya di belakang punggungnya. Ia bisa merasakan polisi menangkap erat-erat salah satu pergelangan tangan, kemudian yang lain, menyentak lengan belakangnya terlalu kasar, terlalu tinggi, menggunakan kekuatan yang tidak perlu. Betapa piciknya. Ia merasakan gesper dingin borgol, dan bisa merasakan logam memotong kulitnya.

Polisi itu merenggut bagian belakang kepala, meremas rambutnya, terlalu kencang, dan bersandar di dekatnya, menempatkan mulutnya di samping telinganya. Dia berbisik, "Kau akan digoreng."

Dan kemudian hal itu terjadi.

Sebelum ia tahu apa yang terjadi, ada suara tulang berderak yang memuakkan, diikuti oleh percikan darah - lalu rasa dan bau darah hangat di seluruh wajahnya.

Ia mendengar teriakan, dan jeritan, dan kemudian tembakan, semua dalam sepersekian detik. Barulah ia secara naluriah berlutut dan menyentuh tanah, berbalik dan mendongak, bahwa ia menyadari apa yang terjadi.

Polisi yang telah memborgolnya sudah mati, dipenggal, kepalanya mejadi setengah. Polisi lain menembak liar, tapi mereka tidak sebanding. Sebuah gerombolan vampir - yang sama dari Balai Kota - telah turun. Mereka merobek polisi berkeping-keping.

Polisi berhasil menembak beberapa dari mereka, tapi itu tidak ada gunanya. Mereka terus menyerang. Itu pertumpahan darah.

Dalam hitungan detik, polisi tercerai-berai.

Caitlin tiba-tiba merasa kehangatan, segera melalui darahnya, merasakan kekuatan memenuhinya, naik dari kakinya, melalui lengan dan bahunya. Ia meraih ke belakang dan menghentak borgol lepas. Ia membawa tangannya di depannya dan menatap, terkejut dengan kekuatan sendiri. Logam menggantung pada setiap pergelangan tangan, tapi tangannya sekarang bebas.

Ia melompat berdiri, mengamati dengan takjub adegan mengerikan di depannya. Seluruh gerombolan vampir membungkuk di atas tubuh polisi. Mereka tampak terlalu terganggu memperhatikannya. Ia menyadari bahwa ia harus melarikan diri. Cepat.

Tapi sebelum ia bisa menyelesaikan pikiran itu, ia merasakan pegangan super kuat yang dingin di bagian belakang lehernya. Ia menoleh dan mengenali wajah itu. Adalah Itu Kyle. Dan dia memiliki tatapan kematian.

Dia menyeringai, lebih dari menggeram.

"Kami tidak menyelamatkanmu," katanya. "Kami hanya mengambil apa yang menjadi milik kami."

Ia berusaha melawan. Ia mengayunkan lengannya di sekitar tetapi ia terhalang dengan mudah dan meraih lehernya. Ia kehilangan udara. Ia sama sekali bukan tandingannya.

"Kau mungkin kebal terhadap beberapa hal," katanya, "tetapi engkau tidak hampir sekuat aku. Juga tidak akan pernah."

Pada saat itu ada gerakan samar yang lain, dan Caitlin tiba-tiba bisa bernapas lagi. Ia terkejut melihat Kyle tiba-tiba tersandung mundur. Dia melemparkan kembali dengan kekuatan sehingga dia menghancurkan ke belakang ke dalam pagar marmer, menghancurkannya, dan melayang di atas sisinya.

Ia menoleh dan melihat apa yang telah melakukan itu.

Caleb.

Dia ada di sini.

Sebelum ia bahkan bisa mencerna apa yang terjadi, Caitlin merasa pegangan erat yang akrab di pinggangnya, lengan dan dada berotot, dan merasa dirinya dipegang olehnya saat mereka berlari dan berlari, lebih cepat dan lebih cepat, sama seperti yang mereka lakukan malam sebelumnya. Mereka berlari melalui Central Park, menuju selatan, dan saat itu, pohon-pohon menjadi kabur. Mereka terangkat ke udara. Sekali lagi, mereka terbang.

Mereka di udara, di atas kota, ketika Caleb melebarkan sayapnya dan membungkusnya di sekelilingnya.

"Aku pikir kau tidak bisa pergi," akhirnya Caitlin berkata.

"Aku tidak bisa," kata Caleb.

"Jadi ... apa itu berarti kau akan menjadi -"

"Dibuang. Ya. "

Ia merasa terharu. Dia telah memberikan semuanya untuknya.

Saat mereka terbang, lebih tinggi dan lebih tinggi, hampir ke dalam awan, Caitlin tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Ia melihat ke bawah dan bisa melihat bahwa mereka meninggalkan kota. Ia merasa santai. Ia begitu senang berada jauh dari itu semua, begitu siap untuk sebuah awal yang baru. Yang paling penting, ia senang berada dalam pelukan Caleb. Langit di depan mereka masuk ke cahaya oranye lembut, dan ia hanya berharap bahwa saat ini tidak akan pernah berakhir.

Sekarang tersedia!

CINTA

(Buku #2 dalam Buku Harian Vampir)

Caitlin dan Caleb memulai bersama-sama pencarian mereka untuk menemukan satu benda yang dapat menghentikan segera terjadi perang vampir dan manusia: pedang yang hilang. Sebuah benda dongeng vampir, ada keraguan serius atas apakah itu bahkan ada..

Jika ada harapan untuk menemukan itu, mereka pertama kali harus melacak nenek moyang Caitlin. Apakah ia benar-benar Yang Terpilih? Penelusuran mereka dimulai dengan mencari ayah Caitlin. Siapakah dia? Mengapa dia mengabaikan dirinya? Ketika pencarian diperluas, mereka terkejut dengan apa yang mereka temukan tentang siapa ia sebenarnya.

Tapi mereka bukan satu-satunya mencari yang pedang legendaris. Coven Blacktide menginginkannya, juga, dan mereka mengikuti Caitlin dan Caleb. Lebih buruk lagi, adik Caitlin, Sam, tetap terobsesi untuk menemukan ayahnya. Tapi Sam segera menemukan dirinya dengan cara di atas kepalanya, memukul di bagian tengah perang vampir. Apakah dia membahayakan pencarian mereka?

Perjalanan Caitlin dan Caleb membawa mereka pada lokasi angin puyuh bersejarah Hudson Valley, ke Salem, ke jantung bersejarah Boston - persis di tempat penyihir yang pernah tergantung di bukit Boston Common. Mengapa lokasi ini sangat penting bagi ras vampir? Dan apa yang harus mereka lakukan dengan keturunan Caitlin, dan dengan siapa ia akan menjadi?

Tapi mereka mungkin tidak berhasil. Cinta Caitlin dan Caleb satu sama lain semakin berkembang. Dan kisah cinta terlarang mereka mungkin hanya menghancurkan segala sesuatu yang telah mereka tetetapkan untuk dicapai….

Buku #3--#11 dalam BUKU HARIAN VAMPIR sekarang juga tersedia!

“CINTA, buku kedua serial Buku Harian Vampir, sama hebatnya dengan buku pertama, PENJELMAAN, dan dikemas dengan baik dengan aksi, romansa, perualangan, dan ketegangan. Buku ini adalah tambahan yang cantik pada serial ini dan akan membuat Anda menunggu lebih banyak lagi dari Morgan Rice. Jika Anda menyukai buku pertama, dapatkan tangan Anda pada yang satu ini dan jatuh cinta lagi dan lagi. Buku ini dapat dibaca sebagai sekuel, tapi Rice menulisnya dalam sebuah cara yang tidak Anda ketahui di buku pertama untuk membaca menakjubkan ini.”

--Vampirebooksite.com

“Serial BUKU HARIAN VAMPIR memiliki alur yang hebat, dan CINTA khususnya adalah buku yang akan sulit Anda tinggalkan di malam hari. Akhirnya sangat menegangkan yang sangat spektauler sehingga Anda akan segera menginginkan buku selanjutnya, lihatlah apa yang terjadi. Seperti yang Anda lihat, buku ini adalah sebuah langkah besar dalam serial ini dan menerima nilai A penuh.”

-The Dallas Examiner

"Dalam CINTA, Morgan Rice membuktikan dirinya lagi untuk menjadi penulis kisah yang sangat bertalenta.. Menarik dan menyenangkan, saya menemukan diri saya jauh lebih menikmati buku ini daripada yang pertama dan saya sangat menantikan yang berikutnya. "

--The Romance Reviews

CINTA

(Buku #2 dalam Buku Harian Vampir)

Unduh buku-buku Morgan Rice di Play sekarang!

Dengarkan serial BUKU HARIAN VAMPIR dalam format buku audio!

Sekarang tersedia di:

Amazon

Audible

iTunes

Buku-buku oleh Morgan Rice

CINCIN BERTUAH

PERJUANGAN PARA PAHLAWAN (Buku #1)

BARISAN PARA RAJA (Buku #2)

A FATE OF DRAGONS/TAKDIR NAGA (Buku #3)

A CRY OF HONOR/PEKIK KEMULIAAN (Buku #4)

A VOW OF GLORY/IKRAR KEMENANGAN (Buku #5)

A CHARGE OF VALOR/PERINTAH KEBERANIAN (Buku #6)

A RITE OF SWORDS/RITUAL PEDANG (Buku #7)

A GRANT OF ARMS/HADIAH PERSENJATAAN (Buku #8)

A SKY OF SPELLS/LANGIT MANTRA (Buku #9)

A SEA OF SHIELDS/LAUTAN PERISAI (Buku #10)

A REIGN OF STEEL/TANGAN BESI (Buku #11)

A LAND OF FIRE/DARATAN API (Buku #12)

A RULE OF QUEENS/SANG RATU (Buku #13)

AN OATH OF BROTHERS/SUMPAH PARA SAUDARA (Buku #14)

TRILOGI KESINTASAN

ARENA ONE: SLAVERSUNNERS/ARENA SATU: BUDAK-BUDAK SUNNER (Buku #1)

ARENA TWO/ARENA DUA (Buku #2)

BUKU HARIAN VAMPIR

PENJELMAAN (Buku #1)

LOVED/CINTA (Buku #2)

BETRAYED/KHIANAT (Buku #3)

DESTINED/TRAKDIR (Buku #4)

DESIRED/DIDAMBAKAN (Buku #5)

BETROTHED/TUNANGAN (Buku #6)

VOWED/SUMPAH (Buku #7)

FOUND/DITEMUKAN (Buku #8)

RESURRECTED/BANGKIT (Buku #9)

CRAVED/RINDU (Buku #10)

FATED/NASIB (Buku #11)

Tentang Morgan Rice

Morgan Rice adalah penulis terlaris #1 dari THE VAMPIRE JOURNALS (BUKU HARIAN VAMPIR), seri remaja yang terdiri dari sebelas buku (dan terus bertambah); seri THE SURVIVAL TRILOGY (TRILOGI KESINTASAN, sebuah thriller pasca-apokaliptik yang terdiri dari dua buku (dan terus bertambah); dan seri epik fantasi terlaris #1 CINCIN BERTUAH, yang terdiri dari tiga belas buku (dan terus bertambah).

Buku-buku Morgan tersedia dalam edisi audio dan cetak, dan terjemahan dari buku-buku ini tersedia dalam bahasa Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Portugis, Jepang, Tiongkok, Swedia, Belanda, Turki, Hungaria, Ceko dan Slowakia (dengan lebih banyak bahasa yang akan datang).

PENJELMAAN (Buku #1 dalam Buku Harian Vampir), ARENA SATU (BUKU #1 DARI TRILOGI KESINTASAN) dan PETUALANGAN PARA PAHLAWAN (Buku #1 dalam CINCIN BERTUAH) masing-masing tersedia sebagai unduhan gratis di Google Play!

Morgan ingin mendengar pendapat Anda, jadi jangan ragu mengunjungi www.morganricebooks.com untuk bergabung dengan daftar e-mail, menerima buku gratis, menerima hadiah gratis, mengunduh aplikasi gratis, mendapatkan berita eksklusif terbaru, terhubung ke Facebook dan Twitter, tetap terhubung!

Возрастное ограничение:
16+
Дата выхода на Литрес:
10 октября 2019
Объем:
152 стр. 4 иллюстрации
ISBN:
9781632911810
Правообладатель:
Lukeman Literary Management Ltd
Формат скачивания:
Первая книга в серии "Jurnal Vampir"
Все книги серии

Похожие книги